naruto

naruto

Senin, 26 November 2012

pendekar kayu harum25

Episode 25 "Kiranya engkau baru akan dapat menandingi kesaktian mereka itu kalau engkau sudah mempelajari semua kitab-kitab peninggalanku...." Demikian antara lain gurunya meninggalkan pesan sebelum menutup mata. Dan rahasianya berada di Siang-bhok-kiam! Mengapa turun gunung sebelum dia mendapat bekal kesaktian yang akan cukup kuat di pakai mempertahankan Siang-bhok-kiam? Lebih baik dia mencari dan memperlajari kitab-kitab itu! Pada keesokan harinya, Keng Hong mulai memeriksa dan meneliti pedang Siang-bhok-kiam. Pedang itu tidak bersarung, pedang telanjang yang terbuat daripada bahan kayu yang berbau sedap harum. Warnanya kehijauan dan kerasnya melebihi baja! Keng Hong meraba-raba pedang Siang-bhok-kiam dan meneliti ukiran huruf-huruf kecil yang pernah dilihat dan dibacanya. Kini dia memeriksa dan membacanya kembali: "Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan Tukang saluran mengalirkan airnya kemana dia suka!" Keng Hong mengerutkan keningnya. Sepanjang pengetahuannya, Sin-jiu Kiam-ong gurunya itu adalah orang yang paling memandang rendah para pendeta yang dia anggap orang-orang munafik yang pura-pura suci. Karena itu, pengetahuan suhunya tentang kitab-kitab suci hanya sepotong-sepotong dan ngawur saja. Akan tetapi mengapa pedang itu diukir dengan bait-bait yang terdiri dari kata-kata yang hanya dipergunakan dalam kitab-kitab suci? Sudah jelas bahwa gurunya yang membuat huruf-huruf ini. Dia mengenal huruf tulisan suhunya yang bengkak-bengkok tidak dapat dikatakan indah. Namun orang yang sudah dapat menuliskan huruf-huruf kecil pada tubuh Siang-bhok-kiam, kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan! Apakah artinya huruf-huruf itu? Apakah artinya sajak yang bukan sajak, ujar-ujar yang setengah matang itu? Keng Hong merasa seperti sering membaca kalimat-kalimat ini, akan tetapi setelah dia ingat-ingat, dia tahu betul bahwa tidak ada ujar-ujar seperti itu bunyinya dalam kitab yang manapun juga! Sehari semalam lamanya dia merenungi arti tiga baris tulisan ini, namun tetap saja dia tidak dapat mengerti. akhirnya dia berpendapat bahwa mungkin rahasianya bukan terletak dalam baris-baris sajak yang tidak karuan ini, melainkan pada pedang itu sendiri. Diperiksanya pedang itu, di tekan sana-sini, dicarinya kalau-kalau ada bagian yang mengandung rahasia. Namun tak berhasil menemukan sesuatu yang aneh di pedang itu kecuali huruf-huruf tadi. Keng Hong telah berlatih ketekunan selama lima tahun di tempat itu, maka kini pun dia tidak mudah putus asa. Dengan tekun dia lalu mencari-cari di seluruh permukaan puncak batu pedang memeriksa kalau-kalau ada gua rahasia atau ada lubang-lubang yang cocok dengan ukuran pedang untuk dicongkel, kalau-kalau di situ terdapat pintu rahasia tempat penyimpanan pusaka suhunya. Namun, sampai sebulan sejak suhunya meninggal dunia, dia tidak berhasil menemukan pusaka itu di permukaan puncak batu pedang. Sementara itu, persediaan buah-buahan telah habis. Maka diambilnya keputusan untuk meninggalkan tempat itu, sesuai dengan pesan Kiang Tojin karena dia merasa tidak berhak tinggal di situ lebih lama lagi. Untuk penghabisan kali ini dia berlutut dan bersembahyang ke empat penjuru sambil menyebut nama suhunya, kemudian menyelipkan Siang-bhok-kiam di sebelah dalam bajunya. Ketika menyelipkan Siang-bhok-kiam ini, dia tersenyum dan menoleh ke sebuah sudut di atas permukaan puncak batu pedang. Ia merasa girang bahwa akhirnya timbul keberaniannya untuk turun dan menghadapi apa saja dengan dada lapang. Dia sudah lupa akan watak ayah bundanya, namun dia masih ingat benar akan watak gurunya. Gurunya seorang periang, mengapa dia sebagai muridnya tidak mencontoh watak guru? Dia harus menghadapi segala rintangan yang mungkin timbul dengan hati riang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri? Dia kini bebas lepas seperti seekor burung terbang di udara. Mengapa tidak gembira? Dengan wajah berseri pemuda remaja yang tampan ini lalu, menuruni puncak ini. Setelah mengoper sinkang suhunya sebulan yang lalu, dia merasa tubuhnya demikian penuh hawa yang amat kuat, yang membuat dia dapat meringankan tubuhnya, dan menuruni tebing yang curam itu dapat dia lakukan dengan amat mudahnya, jauh lebih mudah daripada yang sudah-sudah kalau dia turun mencari persediaan makan untuk suhunya dan dia. *** "Aiiihh....! Tolongggg....! lepaskan aku....!!" Jerit melengking ini jelas keluar dari mulut seorang wanita. Keng Hong yang tadinya mengira bahwa turunnya tentu akan dihadang musuh, mendapat kenyataan bahwa Kiam-kok-san (Puncak Lembah Pedang) di bawah batu pedang sunyi saja. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar lengking yang mengerikan itu, yang membuat bulu tengkuknya berdiri! Apalagi karena sebagai seorang yang tergembleng hebat, dia mendapat perasaan seolah-olah banyak pasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya. Keng Hong tidak mempedulikan perasaan ini karena dia sudah melesat ke kiri, berlari ke arah suara yang menjerit tadi. Apapun yang terjadi, sudah pasti bahwa di sana ada seorang wanita yang minta tolong, yang membutuhkan bantuan karena terancam keselamatannya. "Jangan menolak setiap uluran tangan yang minta tolong", demikian pesan gurunya, "Namun waspadalah terhadap tangan yang berniat menolongmu.” Bukan karena teringat akan pesan suhunya, melainkan terutama sekali karena dorongan hati sendiri. Keng Hong melesat cepat untuk menolong wanita yang terancam bahaya, timbul dari dorongan welas asih yang memang sudah ada pada tiap hati manusia. Tak lama kemudian tibalah dia di sebuah lapangan terbuka dan dia tercengang. Di situ telah berkumpul puluhan orang tosu Kun-lun-pai dan di depan sendiri tampak penolongnya, Kiang Tojin berdiri dengan sikap angker, tangan kirinya mencengkeram pundak seorang wanita cantik yang meronta-ronta dan merintih-rintih. Dan selain tokoh-tokoh Kun-lun-pai, tampak pula Thian seng cinjin sendiri berdiri dengan bersandar pada tongkatnya! Ketua Kun-lun-pai ini tampak sudah tua sekali dan sikap mereka semua yang kini memandang Keng Hong membayangkan bahwa mereka itu memang sedang menantinya! Keng Hong menghentikan larinya dan otomatis dia menoleh. Benar saja seperti dugaannya tadi, di sebelah belakangnya kini muncul belasan orang tosu Kun-lun-pai dan dia berdiri terkurung di tengah, berhadapan dengan Kiang Tojin yang menangkap wanita cantik itu dan ketua Kun-lun-pai yang berdiri dengan sikapnya yang agung dan ramah! Keng Hong merasa seolah-olah menjadi seekor kelinci yang dikurung oleh puluhan ekor harimau kelaparan! Akan tetapi, dia adalah seorang yang sejak kecil sudah belajar kesopanan. Melihat Kiang Tojin yang menjadi penolongnya dan para tosu Kun-lun-pai yang pernah melepas budi selama dua tahun kepadanya, dia cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Thian seng Cinjin dan Kiang Tojin sambil berkata. Episode 26 "Boanpwe (saya yang rendah) bekas kacung Cia Keng Hong datang menghadap para locianpwe (orang-orang tua gagah), mohon di maafkan segala kesalahan boanpwe!" Thian seng cinjin tersenyum lebar dan Kiang tojin berseri wajahnya lalu menggerakkan tangannya yang mencengkeram pundak wanita itu sambil berkata kepada anak muridnya, "Belenggu wanita jahat ini!" Dua orang tosu lalu datang dan mengikat kaki tangan wanita itu pada sebatang pohon. Keng Hong melirik dengan ujung matanya, melihat betapa wanita yang usianya sekitar dua puluhan tahun dan amat cantik jelita itu menangis perlahan sehingga hatinya merasa kasihan sekali. Akan tetapi dia segera mengalihkan perhatiannya ketika Kiang Tojin berkata. "Baik sekali, Keng Hong. Bangun dan berdirilah karena engkau bukan anak murid kami, juga bukan kacung kami lagi. Sudah sebulan lamanya kami menunggu. Apakah yang menyebabkan engkau terlambat sampai sebulan baru turun dari Kiam-kok-san?" Keng Hong terkejut. Kiranya para tosu Kun-lun-pai ini sudah tahu bahwa suhunya telah meninggal sebulan yang lalu dan diam-diam telah menjaga dan menanti dia turun dari puncak batu pedang. Yang menjaga dan memata-matai di Kiam-kok-san hanyalah murid-murid Kun-lun-pai, agaknya ketua Kun-lun-pai dan Kiang Tojin masih belum berani melanggar pantangan untuk mengotori Kiam-kok-san! Kemudian dia teringat betapa dia telah membakar jenasah suhunya di dalam pondok. Agaknya pembakaran itulah yang memberitahukan para tosu. Sebelum dia menjawab, karena melihat dia meragu dan bingung, Kiang Tojin sudah berkata lagi. "Kami melihat betapa asap mengebul dari puncak Kiam-kok-san. Kami tidak suka mengganggu seorang murid yang berkabung atas kematian gurunya, maka kami hanya menunggu. Akan tetapi, alangkah banyaknya orang yang telah menanti-nantimu, Keng Hong. Wanita jahat ini adalah orang terakhir dari kaum sesat yang menunggumu turun gunung dan yang sudah siap menurunkan tangan jahat kepadamu.” “Bohong! Tosu bau tak pernah mandi! Siapa yang hendak turun tangan jahat terhadap pemuda itu? Aku hanya ingin menonton keramaian, kemudian tersesat di sini dan kalian menggunakan pengeroyokan menangkap aku! Cih, tak tahu malu! Segerombolan kakek tua bangka mengeroyok seorang gadis! Kaukira aku tidak tahu? Kalian hanya berpura-pura menjadi pendeta, padahal menggunakan kesempatan untuk meraba-raba dan membelai-belai tubuhku dengan alasan hendak menangkap seorang penjahat!" Hebat sekali penghinaan ini. Banyak di antara para tosu Kun-lun-pai menjadi merah sekali mukanya, entah merah karena malu ataukah karena marah. Akan tetapi yang jelas, banyak di antara mereka yang melotot marah dan memandang wanita cantik itu penuh kebencian. Namun Kiang Tojin dan Thian Seng Cinjin hanya tersenyum, sedikitpun tidak terpengaruh oleh ucapan-ucapan menghina itu. Kiang Tojin hanya membalikkan tubuhnya dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan dengan jari telunjuk menuding ke arah wanita yang terikat di pohon itu. Jarak di antara mereka ada tiga meter, akan tetapi terdengar angin bercuit dan.... tubuh wanita itu menjadi lemas dan ia tak dapat mengeluarkan suara lagi karena ia telah terkena totokan yang dilakukan dari jarak jauh! Hanya matanya saja yang memandang dengan mendelik penuh kemarahan. Diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum sekali. Juga merasa betapa ketekunannya selama lima tahun ini sesungguhnya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian tosu yang menjadi penolongnya ini. Sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu silatnya masih kalah jauh sekali oleh Kiang Tojin, dan agaknya kalau harus melawan tosu ini, belum tentu dia sanggup bertahan sampai lima jurus! "Keng Hong, ketahuilah bahwa kaum sesat dan orang-orang gagah yang menaruh dendam kepada gurumu selalu mengincarmu untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam dan rahasia penyimpanan kitab-kitab gurumu. Kami para tosu Kun-lun-pai sama sekali bukanlah orang-orang serakah dan tidak menghendaki apa-apa, baik dari Sin-jiu Kiam-ong atau dirimu. Akan tetapi, mengingat bahwa engkau datang ke Kun-lun-pai tidak membawa apa-apa, maka kepergianmu dari sini pun tidak boleh membawa apa-apa! Kalau Siang-bhok-kiam berada bersamamu, harus kau tinggalkan pedang itu kepada pinto. Demikian pula, segala benda lain yang kaubawa, kitab-kitab atau apa saja, harus ditinggalkan. Hal ini bukan sekali-kali karena pinto ingin memilikinya, melainkan pertama, benda-benda itu hanya akan mendatangkan malapetaka padamu, dan daripada jatuh ke tangan kaum sesat sehingga mereka menjadi lebih lihai, lebih baik kami simpan atau kami hancurkan di Kun-lun-san!" Keng Hong mengerutkan keningnya, "Akan tetapi, pedang yang saya bawa ini adalah pemberian suhu, bukan hasil mencuri milik Kun-lun-pai!" Kiang Tojin tersenyum dan mengangguk-ngangguk, "Betul, akan tetapi Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia di Kiam-kok-san, karena itu semua peninggalannya harus ditinggalkan di Kiam-kok-san pula. Biarpun engkau muridnya, tak boleh engkau membawanya pergi dari Kun-lun-san.” "Kalau saya menolak?" Kiang Tojin mengerutkan alisnya dan mengangkat mukanya. "Keng Hong, tak tahukah engkau bahwa peraturan kami ini demi keselamatanmu sendiri? kalau engkau menolak, berarti engkau lupa akan budi dan pinto terpaksa menggunakan kekerasan!" Keng Hong dapat menyelami maksud hati Kiang Tojin dan dia makin kagum dan tunduk kepada tosu Kun-lun-pai yang bijaksana dan cerdik ini. Akan tetapi untuk mengalah begitu saja dia merasa enggan. Apalagi tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada berlatih melawan Kiang Tojin yang tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya. Biarpun dia berlatih dengan penolongnya yang berilmu tinggi ini. "Maafkan saya, Totiang. Sebelum menyerahkan pedang ingin sekali saya menerima petunjuk Totiang dalam hal ilmu silat.” Episode 27 Kiang Tojin tertawa, "Ha-ha-ha, memang sejak dahulu engkau keras hati. Baiklah, Keng Hong. Kau boleh menyerangku, pinto juga ingin melihat sampai di mana hasilmu berguru kepada mendiang Sin-jiu Kiam-ong! Mulailah!" Biarpun belum pernah mempergunakan kepandaian yang dipelajarainya selama lima tahun itu untuk bertanding dalam pertempuran sungguh-sungguh, namun Keng Hong sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi. Juga dia selalu ingat akan semua nasihat dan petunjuk suhunya. Ia ingat akan nasehat gurunya bahwa bagi seorang yang sudah tinggi ilmu silatnya, lebih baik di serang lebih dahulu daripada menyerang, karena lawan yang menyerang itu otomatis akan membuka bagian yang kosong sehingga mudah "dimasuki" dalam serangan balasan yang dilakukan otomatis pula. Karena dia tahu bahwa Kiang Tojin adalah lawan yang amat berat, maka setelah berseru keras dia maju memukul dengan gerakan perlahan dan hati-hati, hanya menggunakan seperempat bagian perhatiannya saja untuk menyerang, yang tiga perempatnya bagian dia cadangkan untuk penjagaan diri agar begitu lawannya membalas, dia dapat menghindar dengan elakan atau tangkisan. "Wuuuttt!" Pukulan tangan kanannya menyambar, mendatangkan angin yang kuat. "Bagus.....!" Kiang Tojin berseru, kagum melihat kenyataan betapa kuat pukulan Keng Hong sehingga tidak mengecewakan menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong karena dia sendiri tidak akan sanggup melatih seorang murid selama lima tahun sudah memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya. Namun diam-diam dia kecewa menyaksikan gerakan-gerakan itu yang amat sederhana, padahal dia tadinya mengira bahwa ilmu silat yang diturunkan kakek raja pedang itu kepada muridnya tentu hebat. Melihat pukulannya hanya dielakkan Kiang Tojin dan ternyata tosu itu sama sekali tidak membalasnya, bahkan jelas menanti serangan selanjutnya, tahulah Keng Hong bahwa tosu penolongnya ini benar-benar hanya ingin mengujinya. Pujian yang keluar dari mulut Kiang Tojin itu membuat telinganya merah. Sudah jelas bahwa dia memukul dengan gerakan sederhana saja, bahkan dengan tenaga yang hanya seperempatnya, bagaimana bisa di sebut bagus? Apakah tosu penolongnya ini mengejeknya? Biarlah, kalau aku kalah biar kalah, roboh di tangan tosu yang menjadi tokoh kedua Kun-lun-pai ini, apalagi yang menjadi penolongnya, tidaklah amat memalukan. Maka dia berkata. "Totiang, maafkan kelancanganku!" Seruan ini dia tutup dengan gerakan menyerang. Kini Keng Hong tidak mau diejek untuk kedua kalinya. Ia mengerahkan sinkang dari pusarnya. Hawa panas meluncur cepat ke arah kedua lengannya dan dia mempergunakan ginkangnya. Tubuhnya melesat bagaikan kilat menyambar ke arah Kiang Tojin dan sekaligus dia memukulkan kedua tangannya dalam serangan berantai. Harus diketahui bahwa dalam silat tangan kosong, Keng Hong belum dapat dikatakan lihai. Ia hanya digembleng dengan pengertian dan gerakan dasar-dasar ilmu silat saja. Setiap gerakan tangan dan geseran kaki memang dapat dia lakukan dengan mahir, namun rangkaian ilmu silat belum banyak dia pelajari karena waktunya tidak mengijinkan. Dari suhunya dia hanya baru dapat memetik ilmu silat tangan kosong yang oleh gurunya dinamai San-in-kun-hoat (ilmu silat awan gunung) yang diambil dari keadaan di puncak Kiam-kok-san. Ilmu silat ini merupakan gerakan-gerakan inti ilmu silat tinggi, namun diatur amat sederhana sehingga hanya terdiri dari delapan buah jurus serangan saja! Dalam serangan ke dua ini Keng Hong yang tidak mau diejek itu telah mempergunakan jurus yang disebut Siang-in-twi-an (Sepasang Awan Mendorong Gunung). Kedua kakinya masih di udara ketika dia melompat, namun siap melakukan tendangan susulan sebagai perkembangan jurus ini, sedangkan kedua lengannya didorongkan ke depan secara bergantian sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya. "Siuuuuttt....!" "Siancai...!" Kiang Tojin terkejut bukan kepalang. Melihat tenaga pada serangan pertama tadi, dia sudah kagum, akan tetapi serangan kedua ini benar-benar membuat dia kaget karena serangan ini bukan merupakan serangan main-main dari seorang pemuda yang baru lima tahun belajar ilmu silat! Episode 28 Serangan ini lebih pantas kalau dilakukan seorang tokoh persilatan yang sudah melatih diri selama puluhan tahun! Tenaga pukulan itu dapat dia ukur dari angin yang menyambar dan biarpun Kiang Tojin sendiri tidak berani menerima pukulan sehebat itu. Cepat tosu itu meloncat ke samping dan memutar tubuh sambil mengangkat tangan karena melihat kedudukan tubuh Keng Hong di udara itu dia maklum bahwa pemuda ini akan melanjutkan jurus itu dengan tendangan. Dugaannya memang tepat dan baik dorongan tangan maupun tendangan Keng Hong banyak mengenai angin belaka, dan hanya berhasil membuat pakaian tosu itu berkibar. Ketika serangan kedua ini gagal, Keng Hong yang khawatir kalau-kalau menerima serangan balasan, lalu menggunakan ginkangnya dan di udara tubuhnya sudah berjungkir balik di barengi seruannya yang keras sekali. Tubuhnya berputaran di udara dan membalik, lalu meluncur turun dan langsung menyerang untuk ketiga kalinya ke arah Kiang Tojin yang masih berdiri terbelalak. Gaya serangan tadi saja sudah membayangkan ilmu silat yang luar biasa, apalagi tenaganya yang membuat kulit tubuhnya terasa pedas dan dingin sekali, kini menyaksikan ginkang sehebat itu tosu ini melongo. Namun pada detik berikutnya, tubuh pemuda ini sudah meluncur dan menyerangnya dari atas seperti seekor burung garuda menyambar. Sekali ini Keng Hong menggunakan jurus ke delapan atau jurus terakhir dari ilmu silat San-in-kun-hoat, yaitu jurus yang disebut In-keng-hong-i (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan). Jurus inilah yang paling sukar dimainkan, karena keempat kaki tangan melakukan serangan dari atas secara bertubi-tubi. Keng Hong yang ingin memperlihatkan apa yang telah dia pelajari dari suhunya agar tidak dipandang rendah, telah menggerakkan kedua kakinya susul-menyusul menendang ke arah dada dan perut, disusul dengan hantaman tangan kiri yang terkepal ke arah leher dan akhirnya dengan jari terbuka ke arah ubun-ubun kepala lawannya! Benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mengandung tenaga mijizat karena pada saat itu dia mempergunakan seluruh hawa sinkang di tubuhnya yang dia lancarkan melalui kedua tangan dan kakinya! Dengan pukulan seperti inilah ketika dia marah-marah kepada diri sendiri di puncak batu pedang, dia telah menggempur batu menonjol sehingga batu setinggi orang itu telah hancur lebur. "Hayaaaa....!" Kiang Tojin benar-benar kaget sekali sekarang. Ia maklum bahwa sedikit pun dia tidak boleh memandang ringan serangan ini dan dia pun maklum bahwa serangan ini terlalu dahsyat dan berbahaya. Maka dia mengerahkan perhatian dan tenaganya. Tendangan kedua kaki mengarah perut dan dadanya dia hindarkan dengan elakan cepat, demikian pula pukulan ke arah lehernya. Akan tetapi tamparan ke ubun-ubunnya sedemikian cepat dan hebatnya sehingga amat berbahaya kalau dielakkan karena terkena sedikit saja bagian kepalanya tentu akan mendatangkan bencana hebat, maka dia mengerahkan tenaganya, miringkan kepala dan tubuh kemudian secepat kilat dia menangkis tamparan itu sambil terus menangkap tangan Keng Hong yang terbuka. Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang telah memiliki tingkat kepandaian amat tinggi, juga memiliki tenaga sinkang yang sukar di cari bandingnya. Maka amatlah mengherankan kalau kini menghadapi seorang muda yang baru belajar selama lima tahun dia terpaksa harus berhati-hati dan mengerahkan tenaganya. "Plakk....! Aihhhh.....!" Kiang Tojin berseru kaget sekali. Ketika dia menangkis tamparan Keng Hong dengan Telapak tangannya, dia merasa seolah-olah lengannya tertindih tenaga yang amat kuat dan beratnta hampir tak kuat dia menahannya, yang membuat seluruh lengan sampai setengah dada terasa ngilu! Sebagai seorang yang sakti, tentu saja dia terkejut namun tidak kehilangan akal. Cepat dia memutar telapak tangannya bergerak, tubuh Keng Hong terbanting ke bawah. Namun karena pemuda itu memiliki ginkang yang luar biasa, dia terbanting dalam keadaan berdiri sungguhpun bantingan itu membuat dia berdiri setengah berlutut dengan tangan masih menempel dengan tangan Kiang Tojin yang menangkapnya. "Heeeiiiitttt....!" Kembali Kiang Tojin memekik kaget dan megerahkan tenaga sinkang untuk melepaskan pegangannya. Namun sungguh aneh sekali, dia tidak dapat melepaskan pegangannya pada tangan Keng Hong! Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika dia merasa betapa makin dia mengerahkan sinkang, maka hawa sakti itu seolah-olah air dituangkan ke dalam laut, amblas dan hanyut tanpa bekas, bahkan kini tak dapat lagi dia menahan sinkangnya yang terus mengalir keluar melalui lengannya dan tersedot masuk ke dalam tubuh Keng Hong melalui tangan! "Iiiiihhhh...., ehhhh....!" Kiang Tojin menjadi pucat, matanya terbelalak dan dia meronta-ronta hendak melepaskan pegangannya. Sia-sia belaka, karena seperti ada tenaga mijizat yang membuat tangannya lekat dan diapun tak dapat menahan sinkangnya yang menerobos keluar! Tentu saja Kiang Tojin tidak mengerti bahwa kalau tadi dia hampir kalah kuat oleh Keng Hong, adalah karena pemuda itu telah menerima pengoperan sinkang dari Sin-jiu Kiam-ong dalam saat terakhir sehingga dapat dikatakan bahwa yang dia lawan bukan sinkang asli Keng Hong, melainkan sama dengan melawan Sin-jiu Kiam-ong! Dan kini, baik dia sendiri maupun Keng Hong tidak mengerti betapa ada tenaga "menyedot" luar biasa pada diri Keng Hong sehingga hawa sakti dari tubuh tosu itu mengalir keluar dan pindah ke dalam tubuh pemuda itu! Ketika Keng Hong merasa betapa hawa panas mengalir dari tangan tosu itu dan menerobos memasuki tubuhnya melalui tangannya tanpa dapat dicegah lagi, dia tahu apa yang telah terjadi dan dia menjadi terkejut sekali. Mula-mula dia mengira bahwa seperti apa yang telah dilakukan mendiang suhunya, tosu penolongnya inipun hendak mengoperkan sinkang kepadanya, akan tetapi ketika melihat wajah tosu itu menjadi pucat, sikapnya yang gugup dan betapa tosu itu dengan sia-sia hendak melepaskan pegangan, dia menjadi kaget bukan main. Tanpa dia ketahui sendiri, dalam dirinya telah timbul semacam "penyakit" yang dia sendiri tidak mampu obati, yaitu telah timbul semacam daya sedot yang hebat dan yang tak dikuasainya. Hal ini terjadi diluar di luar kehendaknya dan dia tidak tahu bahwa ketika Sin-jiu Kiam-ong memaksakan sinkangnya berpindah ke tubuh muridnya, paksaan yang tidak wajar ini telah mengacau hawa sakti di tubuh Keng Hong dan telah merusak susunannya sehingga menimbulkan kekuatan daya sedot yang amat luar biasa ini. Dalam bingungnya, Keng Hong juga membetot-betot tangannya dan mulutnya berkata gagap "Totiang.....lepaskan......, lepaskan tanganku.....!" Selagi mereka berkutetan, masing-masing ingin melepaskan tangan yang saling melekat, beberapa orang tosu yang menjadi sute dari Kiang Tojin, menjadi marah. Mereka ini juga merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi melihat betapa suheng (kakak seperguruan) mereka menjadi makin pucat dan tampak gugup dan bingung, mereka itu sebanyak empat orang telah melangkah maju menghampiri Keng Hong. Seorang di antara mereka berseru marah. Episode 29 "Bocah jahat, lepaskan!" Empat buah lengan yang kuat dan mengandung penuh tenaga lweekang menyentuh tubuh Keng Hong. Dua orang memegang tangannya, dua orang lagi memegang kedua pundaknya. Keng Hong tidak melawan dan dia masih dalam keadaan setengah berlutut. Namun begitu empat buah tangan itu menyentuh Keng Hong, terdengar seruan-seruan kaget, bukan hanya empat orang tosu itu yang berseru kaget, bahkan Keng Hong juga mengeluh dan berteriak, "Lepaskan......!" Ternyata bahwa kini empat orang tosu itu tak dapat melepaskan lagi tangan mereka yang menempel tubuh Keng Hong dan seperti tempat air bocor, sinkang di tubuh mereka juga mengalir dan disedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu! "Bocah berilmu iblis!" Seorang di antara tosu itu memaki dan dia memukul dengan tangan lain ke punggung Keng Hong. Akan tetapi hanya terdengar suara “plakkk!" dan kini tangannya yang sebelah lagi itu pun melekat dan makin hebatlah tosu ini tersedot tenaganya sehingga dia menjadi pucat dan lemas seketika! Keliru kalau mengira bahwa Keng Hong merasa senang menerima terobosan hawa sakti yang berkelimpahan memasuki tubuhnya ini. Tubuhnya menjadi makin panas, tidak karuan rasanya, seolah-olah sebuah bola karet yang terisi angin, tubuhnya terasa seperti akan meledak, dadanya penuh hawa, pusarnya penuh hawa yang menekan-nekan dan memberontak hendak keluar, kepalanya pening sekali dan mukanya menjadi merah seperti udang rebus! Ia merasa tersiksa sekali, apalagi karena dia maklum bahwa lima orang tosu itu bisa tewas kalau mereka tidak lekas-lekas dapat melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Namun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar dapat terlepas dari mereka! Kalau tadinya dia masih dapat berteriak-teriak minta mereka melepaskan tangan sambil meronta-ronta, kini dia hanya dapat mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh" seperti orang gagu. Keadaan Kiang Tojin dan empat orang tosu itu lebih menderita lagi. Mereka merasa betapa tenaga sinkang mereka makin lama makin menipis, tersedot secara ajaib tanpa mereka dapat mencegahnya. Tubuh mereka menjadi lemas, kepala menjadi pening dan pikiran tak dapat dipergunakan dengan baik lagi, membuat mereka menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa. "Siancai.... siancai....!" Seruan ini keluar dari mulut Thian Seng Cinjin, seruan yang halus dan tahu-tahu tubuh kakek ini sudah melayang dekat, kemudian dia menggerakkan kedua tangan setelah menancapkan tongkat di atas tanah. Dengan kedua tangannya dia memegang kedua pangkal lengan Keng Hong, lalu merenggut dan menghentak keras. Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa menariknya dan tenaga ini yang jauh lebih kuat daripada tenaga kelima tosu yang membocor ke dalam tubuhnya, telah menghentikan hubungan atau aliran hawa sakti itu, melepaskan kedua lengannya dan tahu-tahu tubuhnya terlempar sampai sepuluh meter lebih jauh sampai bergulingan. Keng Hong meloncat bangun, loncatannya amat ringannya dan dia berteriak kaget karena tubuhnya itu mencelat jauh lebih tinggi daripada yang dikehendakinya. Tubuhnya terasa seperti penuh dengan hawa yang membuatnya ringan sekali, akan tetapi juga berat di sebelah dalam. Hawa yang memenuhi tubuhnya minta keluar, membuat mulutnya menghembuskan suara mendesis seperti orang yang mulutnya kepedasan! "Aaahhhh... minggir..... aaahhhhh.... minggir semua.....!" pekiknya dengan suara menggereng seperti seekor harimau, kemudian tubuhnya sudah melesat ke depan, menuju ke arah pohon-pohon besar. Para tosu yang menyaksikan keadaannya ini menjadi kaget, heran dan juga gentar sehingga otomatis mereka itu minggir dan menjauhkan diri. Keng Hong yang hanya merasa bahwa dia harus menyalurkan semua hawa sakti yang memenuhi tubuhnya, harus mengeluarkan tenaga yang membuat dadanya dan kepalanya seperti akan meledak, terus saja menggunakan kedua kaki tangannya untuk menghajar pohon-pohon yang tumbuh di depannya. Ia memukul, menendang dan mendorong. Dengan ngawur saja dia lalu mainkan keseluruhan delapan jurus dari ilmu silat San-in-kun-hoat dan setelah selesai, dan terdengar suara-suara hebat "dessss, kraaak-kraaaaak.... bruuuuk!" berkali-kali maka dia telah merobohkan delapan belas batang pohon besar yang menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti diamuk topan! Setelah menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti diamuk topan! Setelah mengeluarkan sebagian hawa sinkang yang mendesak-desak di tubuhnya itu melalui pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang merobohkan belasan batang pohon, barulah Keng Hong merasa tubuhnya tidak tersiksa lagi, dadanya dan kepalanya tidak seperti mau meledak, napasnya tidak sesak dan dia seperti baru timbul dari keadaan seorang yang hampir tenggelam ke dalam air yang amat dalam tanpa dapat berenang! Ia kini menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningan lalu memandang ke depan. Ia melihat betapa Kiang Tojin dan empat orang sutenya telah duduk bersila mengatur pernapasan dan mengumpulkan tenaga dengan wajah pucat. Teringatlah dia akan semua peristiwa akibat gara-garanya, maka cepat dia menghampiri Kiang Tojin dan menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh penyesalan. "Saya mohon ampun dari Totiang sekalian...!" Suaranya pilu dan tak terasa lagi pemuda ini menangis sesenggukan! "Siancai...., engkau bocah telah mewarisi ilmu iblis Sin-jiu Kiam-ong, masih baik tidak mewarisi wataknya yang ugal-ugalan. Hatimu masih bersih....!" Thian Seng Cinjin memuji sambil mengelus jenggotnya yang putih. Tosu tua ini maklum bahwa kalau hati anak muda itu mengandung kekejaman, dia akan kehilangan beberapa orang murid. Tentu malapetaka besar akan timbul kalau saja pemuda itu menyalurkan hawa sinkang yang hebat itu bukan kepada pohon-pohon, melainkan kepada manusia. Kiang Tojin membuka matanya, mulutnya tersenyum sabar namun pandang matanya penuh kengerian dan juga kekaguman. "Keng hong, engkau telah mewarisi ilmu yang hebat dan mengerikan...." "Totiang, saya bersumpah bahwa semua itu terjadi di luar kehendak saya. Kini saya mohon kepada Totiang sudilah Totiang melenyapkan daya sedot yang mencelakakan orang tanpa saya kehendaki ini. Tolonglah, Totiang...!" Pemuda ini merasa tersiksa sekali batinnya dan dia menganggap ilmu kepandaian aneh yang berada di dalam dirinya, daya sedot yang ajaib itu, tak lain hanya sebagai sebuah penyakit hebat yang menyeramkan dan menjijikkan!

pendekar kayu harum21

Episode 21 Keng Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhunya, namun dengan patuh dia lalu mengikuti suhunya mendaki puncak. Ketika mereka tiba di bawah batu pedang, Sin-jiu Kiam-ong mengempitnya dan merayap ke atas. Keng Hong merasa ngeri, akan tetapi dia menguatkan hatinya dan sedikit pun tidak menyatakan rasa ngerinya! Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian puncak batu pedang, Keng Hong hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Seluruh tubuhnya menggigil, sampai gigi atas beradu dengan gigi bawah namun dia tetap bertahan, tidak mau mengeluh sama sekali. Ketika suhunya melepaskannya dan Keng Hong memandang sekelilingnya, dia melihat bahwa kini dia berada di puncak batu pedang, dan bahwa puncaknya tidak meruncing seperti tampaknya dari bawah dan halimun tebal itu pun tidak mencapai puncak, melainkan mengambang di bawah. Puncak itu sendiri tersinar cahaya matahari yang amat indah dan puncak itu lebar berbentuk segi empat seolah-olah tadinya puncak itu meruncing kemudian patah. Lebarnya lebih dari lima puluh meter dan di situ terdapat sebuah pondok kecil, dan tanah atau batu di situ ditumbuhi rumput dan lumut hijau muda. Sekeliling puncak itu hanya tampak halimun belaka, seolah-olah tempat itu bukan bagian dunia lagi, melainkan di dunia lain, di tengah-tengah langit antara awan-awan putih! Akan tetapi Keng Hong tidak kuat lagi karena tiba-tiba perutnya menjadi kejang-kejang saking dinginnya dan dia roboh pingsan di dekat kaki gurunnya! Keng Hong sadar di dekat api unggun, ketika dia bangkit dan duduk, dia melihat gurunya bersila di dekatnya dan guru ini menempelkan telapak tangan pada punggungnya. "Duduklah bersila, Keng Hong, dan atur napas perlahan-lahan. Dengan bantuan api yang panas, tekankan dalam hati dan pikiranmu bahwa hawa sama sekali tidak dingin, bahkan agak panas. Jangan ragu-ragu, kubantu engkau.” Betapa mungkin, bantah hati anak itu. Hawa amat dinginnya, bahkan panasnya api tidak terasa sama sekali olehnya. Kalau tidak ada telapak tangan gurunya menempel di punggungnya, telapak tangannya yang seolah-olah memasukkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya, tentu dia takkan kuat menahan. Akan tetapi dia mematuhi perintah suhunya, duduk bersila dan bernapas dalam-dalam, panjang-panjang, sambil menekankan keyakinan bahwa hawa sesungguhnya tidaklah sedingin yang dianggapnya semula. Memang tadinya agak sukar, akan tetapi makin hening dia memusatkan perhatian, makin terasa bahwa memang dia keliru menduga. Memang hawa tidaklah amat dingin. Makin lama makin panas sampai mulailah keluar peluh di lehernya! "Tubuh kita hanya merupakan alat, muridku. Kalau kuat batin kita, kita akan dapat menguasai alat yang akan melakukan segala perintah otak dan kemauan kita. Engkau harus berlatih seperti ini, memperkuat kemauan sehingga seluruh anggota tubuhmu tunduk dan taat kepadamu. Kalau hatimu bilang panas, kalau menyatakan dingin, tubuhmu harus merasa dingin pula.” Demikian kakek itu memberi pelajaran pertama. Guru dan murid itu amat tekunnya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tekun, si guru yang mengajar ataukah si murid yang belajar. Keng Hong belajar ilmu dan berlatih tanpa mengenal waktu. Tidak ada perbedaan antara siang atau malam baginya, baik puncak batu pedang itu sedang terang ataukah sedang gelap. Baginya kini tidak ada bedanya karena dia dapat melihat di dalam gelap saking hebatnya gemblengan yang diberikan gurunya. Ia mengaso kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi, hanya tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, hanya makan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar dan minum kalau kerongkongannya sudah tidak dapat menahan haus. Dalam beberapa bulan saja dia sudah dapat turun dari batu pedang untuk mencari bahan makanan menggantikan pekerjaan gurunya. Sin-jiu Kiam-ong menggembleng muridnya dengan cara yang luar biasa, segala pengertian dasar ilmu silat dia berikan dengan cara kilat. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih terus-menerus oleh muridnya. Latihan samadhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh, sambil sedikit demi sedikit "memindahkan" sinkangnya sendiri melalui telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya. Luar biasa sekali kemajuan yang diperoleh Keng Hong. Cepat dan memang anak ini amat cerdik, setiap pelajaran yang diberikan selalu menempel di dalam ingatannya. Akan tetapi sebaliknya, kalau Keng Hong memperoleh kemajuan yang hebat dan cepat, adalah Sin-jiu Kiam-ong makin lama makin lemah dan pucat. Makin sering kakek ini terbatuk-batuk, kadang-kadang batuknya mengeluarkan darah. Kakek ini menderita luka di sebelah dalam tubuhnya akibat pertandingan melawan Bu-tek Sam-kwi dahulu dan kini karena terlampau rajin dan memaksa tenaga, dia menjadi berpenyakitan dan lemah. Namun hal ini tidak mengurangi semangatnya dan terus melatih muridnya secara teliti dan tekun karena dia merasa yakin bahwa hal ini merupakan kewajiban terakhir dalam hidupnya yang tidak berapa lama lagi itu. Sang waktu lewat dengan amat cepatnya. Memang tidak keliru kalau dikatakan oleh penyair kuno bahwa kecepatan waktu melebihi kilat, namun lambatnya mengalahkan kelambatan seekor keong. Setahun terasa seperti sehari kalau diperhatikan, sebaliknya kalau diperhatikan dan ditunggu, sehari terasa setahun! Demikian cepatnya sang waktu berputar sehingga tak tampak dan tak terasa lagi, seolah-olah berhenti, padahal segala sesuatu terseret dan hanyut dalam perputarannya, dilahap dan ditelan habis, untuk kemudian dilahirkan dan dilenyapkan lagi. Tanpa terasa, apalagi bagi yang mengalaminya sendiri, telah lima tahun lamanya Keng hong hidup berdua dengan gurunya di puncak batu pedang. Dari seorang bocah berusia dua belas tahun, kini berusia tujuh belas tahun! Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan kulit yang segar dan putih kemerahan membayangkan kesehatan sempurna dan kekuatan muzijat tersembunyi di dalam tubuhnya. Pakaiannya sederhana, hanya kain polos berwarna kuning yang kasar, dibuat pakaian secara kasar pula. Warna kuning adalah warna kesukaannya. Akan tetapi, selama lima tahun itu, kalau muridnya menjadi makin sehat dan kuat, adalah si guru makin lemah dan tua. Kalau orang yang lima tahun lalu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong kini melihatnya tentu akan menjadi kaget. Kakek ini sudah kelihatan tua sekali, tubuhnya kurus kering dan hanya sepasang matanya saja yang kadang-kadang tampak berseri penuh semangat, itupun hanya kalau dia sedang melatih muridnya. Episode 22 Pada hari itu, sinar matahari telah menembus awan tipis menerangi permukaan puncak batu pedang. Seperti biasa, Keng Hong bersila dan berlatih, memusatkan panca indera menerima sinar matahari pagi yang mengandung daya kekuatan muzijat untuk meningkatkan tenaga sinkang di tubuhnya. Seperti biasa pula, gurunya duduk bersila tak jauh dari tempat dia duduk. "Keng Hong.....!" Suara gurunya merupakan satu-satunya suara yang akan menyadarkan Keng Hong setiap saat, karena selama lima tahun ini hanya suara gurunya inilah yang menjadi pusat perhatiannya. Ia cepat sadar dari latihannya dan membuka mata, memandang gurunya. Hati pemuda remaja ini berdebar. Wajah gurunya tampak berbeda dari biasanya, sungguhpun wajah itu masih membayangkan seri dan gembira, namun ada sesuatu yang menonjol, sesuatu pada wajah pucat dan kurus itu yang membuat jantungnya berdebar, wajah gurunya hari ini seperti matahari tertutup awan tebal, suram-muram kehilangan cahayanya. "Suhu memanggil teecu? Ada perintah apakah, Suhu?" Sin-jiu Kiam-ong tersenyum dan mengangkat lengannya yang kiri, gerakannya lemah ketika dia menggapai, "Mendekatlah, Keng Hong dan bersilalah di depanku sini, aku ingin bicara denganmu.” Keng Hong menjadi makin heran. Sikap gurunya inipun tidak seperti biasanya. Tentu ada sesuatu yang amat penting. Ia cepat bangkit dan menghampiri suhunya, lalu duduk bersila di depan suhunya. Karena baru sekali ini selama lima tahun dia berdekatan dengan gurunya dalam keadaan tidak sedang berlatih, maka dia mendapat kesempatan untuk memandang penuh perhatian dan kini ternyatalah olehnya betapa suhunya amat kurus, tinggal kulit membungkus tulang dan bahwa hanya oleh daya tahan yang luar biasa saja suhunya dapat bertahan selama ini. Ia kini sudah mengerti bahwa suhunya menderita luka-luka parah di sebelah dalam tubuh yang akan merenggut nyawa setiap orang dalam waktu beberapa bulan saja. Namun suhunya dapat bertahan sampai lima tahun! "Keng Hong, tahukah engkau sudah berapa lama kau berada di tempat ini?" "Teecu tidak terlalu memperhatikan, akan tetapi melihat banyaknya perubahan musim, tentu kurang lebih lima tahun.” "Benar, memang sudah lima tahun, muridku. Dan sudah banyak kau belajar dariku. Sayang waktunya amat tergesa-gesa sehingga terpaksa aku hanya memperbanyak latihan ginkang dan Iweekang kepadamu. Mengenai gerak cepatmu dan tenaga dalam, kurasa sudah cukup sebagai landasan dan aku tidak khawatir kau akan mudah terkalahkan orang lain. Akan tetapi ilmu silatmu..... ah, tidak ada waktu bagi kita sehingga hanya dasar-dasarnya saja kaukuasai. Padahal ilmu silat di dunia ini amatlah banyaknya Keng Hong. Dan selain dasar-dasar ilmu silat tinggi, engkau baru menguasai ilmu silat dengan tangan kosong yang sederhana dan juga ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut belum kau kuasai seluruhnya. Hal inilah yang memberatkan hatiku, karena kalau engkau bertemu dengan orang-orang sakti seperti sembilan orang tokoh yang pada lima tahun yang lalu menyerbu ke sini, apalagi bertemu dengan Bu-tek su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), kepandaianmu masih belum dapat diandalkan.” Keng Hong mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan tebal. "Akan tetapi, Suhu, apa hubungannya kesaktian mereka dengan teecu? Suhu sudah tahu pendirian teecu, yaitu belajar ilmu kepada suhu untuk memperkuat diri lahir bathin, ilmu dipelajari untuk menjaga diri daripada serangan dari luar, baik serangan lahir maupun bathin. Teecu tidak ingin mencari musuh!” "Ha-ha-ha, muridku, engkau masih hijau dan tidak mengenal watak manusia, juga belum mengenal watak dan dirimu pribadi. Tidak ada makhluk seserakah manusia. Kalau engkau sudah turun ke dunia ramai, akan kautemui semua sepak terjang manusia yang membabi buta karena dorongan nafsu mereka sendiri. Kau tidak mencari musuh, namun engkau akan dimusuhi! Dan mau tidak mau engkau akan terseret dan terlibat ke dalam rantai yang tak kunjung putus, rantai pergulatan dan permusuhan antara manusia demi untuk memenangkan dan memuaskan hawa nafsu yang menguasai diri pribadi. Aku pun dahulu menjadi seorang di antara mereka yang menjadi abdi nafsuku sendiri, Keng Hong. Aku tidak pernah memusuhi orang, tidak pernah mengandung maksud hati melakukan kejahatan terhadap diri orang lain. Namun, pengejaran ke arah pemuasan nafsuku membuat aku bentrok dengan lain orang, dan membuat aku di cap sebagai seorang tokoh sesat. Baru sekarang aku menyesal, namun apa gunanya sesal yang terlambat? Biarlah, akan kutanggung segala akibat dan hukuman. Dan aku minta kepadamu agar engkau pun kelak akan berani mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu! Jangan menjadi seorang manusia yang munafik, yang pura-pura alim. Kalau memang bersih, usahakan agar bersih luar dalam. Kalau engkau tak kuasa menahan hasrat melakukan sesuatu, lakukanlah dengan dasar tidak merugikan orang lain dan berani mempertanggungjawabkan segala akibat kelakuanmu itu. Hal ini berarti melakukan sesuatu dengan mata dan hati terbuka.” "Teecu mengerti, suhu.” "Nah, kuulangi lagi. Kepandaianmu masih jauh daripada cukup untuk menghadapi lawan-lawan tangguh. Akan tetapi tiada waktu bagiku.” Ia menghela napas panjang. "Bu-tek su-kwi benar-benar hebat. Sampai sekarang masih ada bekas tangan mereka. Rambut dan kuku Ang-bin kwi-bo amat berbahaya, juga senjata tegkorak Pak-san Kwi-ong. Hudtim dan ilmu silat tangan kosong Pat-jiu Kiam-ong sukar dilawan. Apalagi kalau bertemu dengan Lam-hai Sin-ni..... wah, sukar dikatakan atau diukur sampai di mana sekarang tingkat kepandaian wanita iblis itu! Kiranya engkau baru akan dapat menandingi mereka kalau engkau sudah mempelajari semua kitab peninggalanku yang rahasia tempat persembunyiannya berada di dalam Siang-bhok-kiam ini, muridku.” Keng Hong memandang ke arah pedang di tangan suhunya itu dengan penuh keheranan. mengertilah dia sekarang mengapa tokoh-tokoh sakti itu memperebutkan pedang kayu ini, kiranya merupakan kunci pembuka rahasia kitab-kitab pelajaran silat tinggi yang di kumpulkan oleh suhunya. Sudah sering kali dia diperbolehkan menggunakan Siang-bhok-kiam untuk berlatih ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang sengaja diciptakan gurunya untuk dia, akan tetapi tidak pernah dia melihat sesuatu yang aneh pada pedang itu, kecuali huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang pedang yang isinya merupakan ujar-ujar kuno. Episode 23 "Apakah suhu menyuruh teecu untuk mempelajari kitab-kitab itu?" tanyanya untuk menyembunyikan ketegangan hatinya. "Barang yang mudah didapat tidak akan dihargai, yang sukar didapat barulah berharga, Hong-ji. Kitab-kitab dan benda-benda yang terkumpul di dalam tempat rahasiaku itu juga baru akan berharga bagimu kalau kau mendapatkannya dengan sukar. Akan tetapi tidak hanya kesukaran menjadi syarat, namun terutama sekali jodoh! Kalau memang engkau berjodoh dengan peninggalanku tentu kelak akan bisa kaudapatkan. Boleh kaucari sendiri melalui Siang-bhok-kiam ini. Nah, kauterimalah Siang-bhok-kiam, kuberikan kepadamu, muridku...." Keng Hong terkejut dan memandang wajah gurunya dengan mata terbelalak. Ia belum menerima pedang yang diangsurkan kepadanya, dan bertanya meragu, "Akan tetapi... Suhu pernah bilang bahwa Siang-bhok-kiam seperti nyawa bagi suhu.... bagaimana dapat diberikan kapada teecu...?" "Ha-ha-ha, pedang ini milik siapa dan nyawa ini milik siapa? terimalah sebagai tanda patuh kepada guru.” Keng Hong tak berani membantah lalu menerima pedang Siang-bhok-kiam yang telanjang itu. "Keng Hong, biarpun pusaka warisanku harus kau cari dengan dasar jodoh dan kesukaran, namun ada sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu selain Siang-bhok-kiam, dan mudah-mudahan pemberianku ini akan dapat menjadi perisai bagimu menghadapi lawan-lawan tangguh. Selipkan Siang-bhok-kiam di pinggang dan mendekatlah.” Keng Hong menyelipkan pedang kayu di ikat pinggangnya kemudian menggeser duduknya mendekati suhunya. Sin-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya, yang kiri dia taruh di atas ubun-ubun kepala Keng hong, yang kanan diletakkan di punggung pemuda itu dan dia berkata lirih. "Pusatkan segala dan buka semua, Keng Hong, pergunakan sinkangmu untuk membuka semua jalan darah, jangan menentang sedikit pun juga, dan bantu dengan daya penyedot..." "Suhu.... suhu hendak..." Keng Hong gelisah karena dia sudah beberapa kali menerima bantuan hawa Sinkang yang disalurkan suhunya ke dalam tubuhnya dan yang selalu mengakibatkan kelemahan tubuh suhunya sehingga akhirnya dia minta-minta agar suhunya tidak mengulangi hal itu. Kini suhunya hendak melakukannya lagi! "Apakah dalam saat terakhir ini muridku hendak membantah perintah gurunya?" suara ini halus namun penuh wibawa dan sekaligus memusnahkan niat hati Keng Hong hendak menentang. Ia terpaksa lalu bersila dan memusatkan perhatiannya, membuka semua jalan darah dan mengosongkan hawa di pusarnya untuk menerima saluran hawa sinkang gurunya. Sebentar saja sudah terasa oleh Keng hong betapa hawa yang amat kuat menerobos masuk melalui kepala dan punggungnya, hawa yang sebentar hangat, lalu panas dan perlahan-lahan berubah dingin lalu panas kembali. Terasa juga olehnya betapa dari dirinya sendiri timbul semacam tenaga menyedot yang membuat aliran hawa sinkang itu makin lancar menerobos, berputaran di dalam pusarnya lalu buyar dan menyusup-nyusup ke seluruh bagian tubuhnya. Hebat bukan main sinkang dari suhunya dan hampir dia tidak kuat menerimanya. Kadang-kadang hawa yang memasuki tubuhnya sedemikian panasnya hampir tak tertahankan, akan tetapi karena dia pun sudah bertahun-tahun berlatih, dia dapat melawannya dengan menyesuaikan diri melalui kekuatan kemauannya sehingga yang panas itu terasa hangat-hangat saja. Entah berapa lamanya guru dan murid ini duduk tak bergerak. Keng hong sendiri tidak tahu karena dia telah memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam tubuh. Ia seolah-olah berada dalam keadaan mimpi atau pingsan. Baru dia sadar ketika merasa betapa hawa yang terasa seolah-olah air mancur memasuki tubuhnya melalui kepala dan punggung itu telah berhenti, dan betapa ubun-ubun dan punggungnya terasa dingin. Keng Hong membuka mata, melihat suhunya masih bersila dan memejamkan mata, bibirnya tersenyum. Akan tetapi ada sesuatu yang membuat Keng Hong cepat memegang kedua lengan suhunya yang tadinya terletak di atas ubun-ubun dan punggungnya, terkulai lemas dan dingin. Suhunya telah menghembuskan napas terakhir, entah sudah berapa lamanya. "Suhu....!!" Keng hong meloncat bangun. Melihat tubuh yang bersila itu kini kehilangan sandaran dan akan roboh, cepat dia menyangganya dan merebahkannya di atas permukaan batu. Sekali lagi dia memeriksa detak jantung dan napas. Tak terasa lagi, suhunya telah meninggal dunia karena dia! Karena "mengoper" sinkang sampai kehabisan segala-galanya. Tiba-tiba Keng Hong meraung, meloncat berdiri dengan muka merah sambil memandang kedua tangannya. Ia merasa seakan-akan dialah yang membunuh suhunya! Mengapa dia tadi begitu bodoh dan mau saja padahal ini akan membahayakan kesehatan suhunya? Rasa duka, menyesal dan marah kepada diri sendiri membuat wajah pemuda itu menjadi merah dan beringas. Tiba-tiba dia memekik lagi dan tubuhnya melesat ke arah permukaan puncak batu pedang yang menonjol setinggi orang, tangannya menghantam. "Pyarrr.....!" Batu gunung yang keras itu hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil yang beterbangan ke sana sini! Keng Hong berdiri dan ternganga heran. Memang dia telah memiliki kekuatan sinkang yang tidak lemah, namun biasanya kalau dia memukul batu, tentu hanya akan memecahkan bagian ujung saja. Akan tetapi sekali ini, dari tangannya keluar kekuatan yang sedemikian hebatnya sehingga batu menonjol setinggi orang itu hancur sama sekali sedangkan tangannya tidak merasakan nyeri sedikit pun juga! Rasa girang, tercengang, kaget dan duka bercampur menjadi satu, membuat dia terharu sekali. Sinkang yang disalurkan ke tubuhnya tadi oleh gurunya ternyata membuat dia memiliki tenaga yang hebat, bahkan loncatannya juga sepuluh kali lebih cepat daripada biasa. Ginkang dan lweekang di tubuhnya sekaligus mendapat kemajuan yang amat luar biasa. Ia melesat lagi ke dekat suhunya dan menangis sambil memeluk mayat Sin-jiu Kiam-ong. Sesuai dengan pesan Sin-jiu Kiam-ong yang pernah dinyatakan kepadanya, Keng Hong mengangkat jenasah gurunya itu dan meletakannya ke dalam gubuk kecil tempat gurunya beristirahat. Kemudian, setelah menangisi mayat itu dan bersembahyang tanpa upacara karena tiada alat, memohon kepada Thian agar dosa-dosa gurunya diperingan hukumannya dan arwah gurunya mendapatkan tempat yang baik, Keng Hong lalu membakar gubuk itu. Dengan hati penuh keharuan dia menjaga dan memandang api yang berkobar membakar gubuk berikut jenasah Sin-jiu Kiam-ong. Karena dia harus selalu menambah bahan bakar, pembakaran jenasah ini memakan waktu setengah hari lamanya. Kemudian, sesuai pula dengan pesan suhunya, dia mengumpulkan abu jenasah dan pada malam hari itu, disaksikan laksaan bintang yang menghias langit biru, Keng Hong menabur-naburkan abu itu dari puncak batu pedang. Angin bertiup dan membawa abu itu bertebaran ke segenap jurusan, seolah-olah Sin-jiu Kiam-ong benar-benar kini bersatu dengan alam di sekeliling tempat yang dicintanya itu. Episode 24 Semalam suntuk Keng Hong duduk melamun, selain terkenang kepada suhunya juga memikirkan keadaan dirinya sendiri. Tadinya dia tidak pernah memikirkan keadaan dirinya karena setiap hari seluruh perhatiannya dia curahkan untuk belajar dan berlatih, dan selain itu ada gurunya di sampingnya yang membuat dia tidak merasa kesepian. Akan tetapi sekarang, setelah Sin-jiu Kiam-ong tidak ada lagi, bahkan tidak ada lagi bekas-bekasnya, dia mulai merasa dan melihat kenyataan bahwa dia sesungguhnya hanya seorang diri saja di dunia ini! Setelah gurunya tidak ada, apa yang akan dilakukan? Kemana dia akan pergi? Apa tujuan hidupnya selanjutnya? Kembali ke kampung halaman? Dia masih ingat akan kampung halamannya, dusun Kwi-bun di mana dia terlahir dan bermain-main sampai usia sepuluh tahun. Akan tetapi, mau apa dia kembali ke Kwi-bun? Keluarganya sudah terbasmi habis, rumah tidak ada, dan kembalinya ke sana hanya akan membongkar kenangan-kenangan lama yang amat tidak menyenangkan hati. Ke kuil Kun-lun-pai? Di sana banyak orang-orang yang baik hati, tosu-tosu yang selain baik dan ramah terhadapnya, seperti pernah dia alami sampai dua tahun lamanya. Akan tetapi dia teringat akan pesan Kiang Lojin kepada Sin-jiu Kiam-ong bahwa karena dia bukan "orang Kun-lun-pai", dia tidak boleh tinggal di Kun-lun-pai, bahkan tidak diperkenankan tinggal di batu pedang yang berada di Kiam-kok-san kalau suhunya tidak ada! Habis ke mana? Tetap tinggal di situ? Tidak mungkin! Dia bukan seorang yang nekat dan tak tahu malu. Dia maklum bahwa gurunya dan dia adalah orang-orang yang "mondok" karena Kiam-kok-san merupakan wilayah Kun-lun-pai. Dan kalau tuan rumah tidak memperbolehkan tinggal disitu, dia pun tidak sudi memaksa. akan tetapi kalau pergi, kemanakah? Dalam bingungnya, Keng Hong teringat kepada suhunya. Andaikata dia menjadi suhunya, apa yang akan dilakukannya? Suhunya seorang yang selalu hidup gembira ria, jangankan berduka, bingung dan takut pun tak pernah di kenalnya. Teringat dia akan semua cerita suhunya tentang diri suhunya di waktu muda. Masih terngiang di telinganya ucapan yang keluar dari bibir tua yang masih tersenyum, wajah cerah dan mata berseri itu. "Hidup satu kali di dunia, apa gunanya berkeluh kesah dan berhati susah? Kegembiraan dan kesenangan dapat dinikmati, tinggal meraih saja! Semua berkah yang sudah dilimpahkan kepada Dia untuk kita, mengapa mesti disia-siakan? Nikmatilah berkah itu!” Keng Hong mulai berseri wajahnya. Sambil menengadah memandang bintang-bintang di langit, dia mengenang semua cerita suhunya dan mengenang kembali semua ucapan-ucapannya. "Aku paling suka akan keindahan. Tamasya alam yang indah, makanan lezat, bunyi-bunyian merdu ganda yang harum, wanita-wanita cantik! Kita sudah dianugerahi mata, hidung, telinga, mulut. Pergunakanlah sebaik-baiknya untuk menikmati berkah-berkah yang memenuhi dunia. Pergunakan matamu untuk segala keindahan dan menikmatinya. Lihat tamasya alam yang amat indahnya, lihat bunga-bunga yang cantik, lihat wanita-wanita yang jelita! Pergunakan telingamu untuk menikmati segala bunyi-bunyian yang merdu, burung-burung berkicau, margasatwa berdendang, alat tetabuhan dan nyanyian merdu. Mulut? Nikmati segala makanan yang lezat karena memang itu hak kita. Rasakanlah segala rasa di dunia ini. Manis, asin, gurih, masam dan pahit! Hidung? Pakailah untuk menikmati hidup, untuk mencium ganda yang harum, sedap dan wangi! Pendeknya, selama seratus tahun aku hidup cukup penuh kenikmatan dan sekarang menghadapi mati aku tidak penasaran dan menyesal lagi, Keng Hong.” Keng Hong tersenyum pahit mengenang ucapan suhunya ini. Biarpun pada lahirnya dia tidak berani membantah, namun di dalam hatinya dia kurang menyetujui pendapat tentang hidup seperti yang dikemukakan suhunya. Mungkin sudah terlampau banyak dia dipengaruhi kitab-kitab kuno yang mengajarkan tentang filsafat hidup, tentang kesusilaan peradaban dan kebudayaan. Gurunya tidak mempedulikan semua itu. Gurunya pengejar kesenangan duniawi. Namun, sungguhpun dia tidak menyetujui pendapat suhunya yang dalam hal ilmu bun (sastra) tidaklah amat mendalam pengetahuannya, dia dapat menemukan kesederhanaan dan kejujuran yang tak dibuat-buat, dan tahu pula bahwa di balik cara hidup ugal-ugalan seperti suhunya itu tersembunyi dasar watak yang baik dan gagah perkasa. "Entah berapa ratus orang wanita cantik yang menjadi kekasihku, Keng Hong.” Demikian suhunya pernah bercerita. "Aku tidak pernah menolak cinta kasih seorang wanita! Wanita bagiku adalah bunga yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Karena itu tak pernah aku menolaknya, tidak peduli dia itu cantik jelita, manis, buruk, muda ataupun tua! Tentu saja terutama sekali yang cantik molek! tidak peduli dia itu gadis, janda, atau sudah bersuami, sudah beranak atau bercucu! Aku menerima kedatangan mereka dengan hati dan kedua lengan terbuka! Hanya satu yang merupakan pantangan bagiku, yaitu bahwa aku tidak sudi mendekati wanita yang tidak suka menerima kedatanganku. Aku tidak sudi menggagahi wanita yang tidak menghendaki aku. Aku tidak sudi cinta sepihak saja!" Teringat akan ini, Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. Suhunya benar-benar seorang mata keranjang! Pelahap wanita! Tentu saja dia tidak mau seperti suhunya, akan tetapi dia terharu kalau teringat akan pendirian terakhir suhunya yang tidak sudi menggagahi wanita yang tidak cinta kepadanya. Tentu saja merupakan hal yang amat buruk kalau suhunya berzina dengan wanita yang bersuami, akan tetapi kalau si wanita itu sendiri suka..., sungguh dia tidak tidak tahu harus menilai bagaimana. "Hanya satu pesanku, Keng Hong engkau boleh mencinta seribu wanita, akan tetapi jangan sekali-kali membiarkan kakimu terikat oleh pernikahan! Sekali engkau terikat, akan lenyaplah kebebasanmu dan tak mungkin pula hidup seperti aku dapat dipertahankan!" Keng Hong makin bingung. Soal-soal tentang cinta dan pernikahan masih belum menarik perhatian. Betapapun juga suhunya bukanlah golongan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Dan suhunya tidak pernah dengan sengaja melakukan kejahatan kepada orang lain. Kalau dia sampai dimusuhi adalah sebagai akibat dari sikapnya yang ugal-ugalan, melayani cinta kasih wanita-wanita isteri orang lain, kemudian kalau menghendaki setiap benda, terus diambilnya begitu saja dengan dasar bahwa yang kehilangan benda itu tidak akan menderita! Maka terjadilah perampokan benda-benda berharga milik pembesar-pembesar tinggi yang kaya raya, pencurian kitab-kitab dari partai-partai persilatan besar, permainan zinah dengan isteri-isteri cantik, dan sebagainya sehingga di dunia ini dia mempunyai banyak sekali musuh! Keng hong bergidik ngeri. Ia tahu bahwa banyak sekali orang sakti menginginkan pusaka warisan suhunya yang kuncinya terdapat dalam Siang-bhok-kiam. Bagaimana kalau dia turun gunung lalu dikejar-kejar mereka itu yang hendak merampas Siang-bhok-kiam? Gurunya selama ini dapat mempertahankan pedangnya, akan tetapi bagaimana dengan dia? Musuh terlalu banyak, dan di antara mereka banyak yang sakti. Betapa mungkin dia dapat menandingi mereka dan mempertahankan Siang-bhok-kiam?

pendekar kayu harum19

Episode 19 "Omitohud...! Kehendak Tuhan terjadi penuh mujisat!" Thian Ti Hwesio mengeluh panjang. "Sin-jiu Kiam-ong! Engkau melanggar janji...!" bentak Sin-to Gi-hiap. Sin-jiu Kiam-ong tertawa, "Siapa melanggar janji? Bukankah kukatakan bahwa aku tidak akan melawan kalau kalian hendak membunuhku di sin? Bukankah akupun tidak pernah melawan kalian tadi dan tidak menghalangi kalau kalian hendak merampas pedang Siang-bhok-kiam? Bukankah kukatakan sebulan yang lalu bahwa yang berhak memiliki Siang-bhok-kiam adalah orang yang berjodoh dengannya? Nah, bocah inilah yang berjodoh dengan aku dan dengan pedang ini. Dan ketahuilah, setelah aku mengangkat murid, tentu saja aku tidak mau mati sekarang. Aku ingin hidup lebih lama lagi untuk mendidiknya, sesuai dengan tugas kewajiban seorang guru! Pergilah kalian, pergilah....!” Sembilan orang itu ragu-ragu dan mereka kecewa serta menyesal sekali. Biarpun Sin-jiu Kiam-ong telah terluka, namun ilmu kepandaiannya yang hebat amat sukar dilawan. Selain itu, mereka sendiripun telah terluka dan kehilangan senjata. Mereka ini adalah orang-orang cerdik. Mereka tahu bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah amat tua, apalagi menderita luka hebat. Kiranya takkan lama lagi usianya. Dan bocah itu jelas belum mengenal ilmu silat sama sekali. Digembleng bagaimana hebatpun, hanya dalam beberapa tahun apa artinya? Akhirnya mereka tentu akan dapat merampas pedang dan kitab-kitab itu, bukan dari tangan Sin-jiu Kiam-ong, melainkan dari tangan ahli warisnya ini! Pada saat itu, bersilir angin halus dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang tosu yang berwajah gagah penuh wibawa. Dia ini bukan lain adalah Kiang Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang berilmu tinggi itu. Ketika semua orang yang memandang, ternyata bukan hanya Kiang Tojin yang datang, melainkan banyak sekali tosu-tosu Kun-lun-pai, sedikitnya ada tiga puluh orang, semuanya memegang pedang seperti Kiang Tojin, dan gerakan mereka begitu rapi, tangkas dan ringan sehingga tahu-tahu tempat itu telah dikepung! Kiang Tojin sejenak memandang kepada Keng Hong dengan heran, kemudian dia menjura penuh hormat kepada Sian-jiu Kiam-ong dan berkata, "Mohon maaf kepada Sie-taihiap (pendekar besar she Sie) kalau pinto dan saudara-saudara mengganggu. Akan tetapi, kehadiran banyak sahabat Kang-ouw di Kun-lun-pai masih dapat kami biarkan mengingat bahwa mereka itu adalah tamu-tamu Taihiap, hanya kehadiran tiga Bu-tek Sam-kwi benar-benar tak dapat kami biarkan saja. Tokoh-tokoh datuk hitam macam mereka tidak berhak mengotorkan bumi Kun-lun! Harap Taihiap maklum dan maafkan pinto yang hanya memenuhi perintah suhu." Sin-jiu Kiam-ong tertawa, dan menarik napas panjang. "Thian Seng Cinjin bersikap amat sabar, sungguh patut dipuji." Kemudian dia menoleh ke arah sembilan orang tokoh yang mengganggunya dan berkata, "Kalau kalian sembilan orang masih tidak hendak lekas pergi, aku tidak akan menganggap kalian sebagai tamu lagi dan terserah kepada pihak Kun-lun-pai akan menganggap kalian bagaimana." Kiang Tojin memutar tubuhnya memandang sembilan orang itu, keningnya dikerutkan dan dia berkata, suaranya penuh wibawa dan keren. "Di antara cu-wi (tuan sekalian) terdapat tokoh-tokoh partai persilatan besar, tentu cukup tahu akan kedaulatan tuan rumah. Cu-wi datang tanpa memberi tahu Kun-lun-pai, hal ini berarti pelanggaran kedaulatan dan tidak memandang mata kepada kami. Sungguh kami tidak dapat dikatakan keterlaluan kalau terpaksa mengusir cu-wi.” Sikap Kiang Tojin amat keren dan sembilan orang itu cukup mengenal siapa tosu ini, maklum bahwa selain tingkat ilmu kepandaiannya amat tinggi, juga saudara-saudara Kiang Tojin yang berjumlah tiga puluh orang dan mengurung tempat itu merupakan kekuatan yang tak mungkin dilawan mereka yang sudah terluka. Belum lagi diperhitungkan kalau Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai sendiri yang datang! maka dengan menjura dan menggumamkan kata-kata maaf, lalu membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu. Karena mereka adalah orang-orang pandai, gerakan-gerakan mereka amat cepat sehingga dalam sekejap mata saja tempat itu menjadi sunyi dan bayangan mereka tak tampak lagi. Sin-jiu Kiam-ong lalu berkata kepada Kiang Tojin yang sudah menyimpan kembali pedangnya ditiru oleh saudara-saudaranya yang tetap berdiri menjauh karena mereka itu kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang menghormati si raja pedang yang pernah melepas budi kepada Kun-lun-pai. Hal itu terjadi belasan tahun yang lalu ketika Kun-lun-pai diserbu oleh kaum sesat yang dipimpin oleh seorang datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, sehingga Kun-lun-pai mengalami bencana hebat dan terancam kedudukannya. Semua tokoh Kun-lun-pai, termasuk Thian Seng Cinjin, terdesak dan hanya setelah Sin-jiu Kiam-ong yang secara kebetulan mendengar akan serbuan ini lalu datang membantu, maka pihak musuh dapat dihalau dan si datuk sesat tewas di tangan Sin-jiu Kiam-ong dan Thian Seng Cinjin. Sin-jiu Kiam-ong lalu dianggap sebagai penolong dan diperbolehkan menggunakan Kiam-kok-san, tempat yang tadinya dianggap keramat oleh golongan Kun-lun-pai karena dahulu menjadi tempat bertapa sucouw mereka. "Kiang-toyu, harap sampaikan kepada Thian seng Cinjin guru kalian bahwa aku minta perkenannya untuk memperpanjang penggunaan Kiam-kok-san sampai beberapa tahun lagi, atau lebih jelas sampai matiku karena aku ingin menggunakan sisa usiaku untuk menggembleng muridku ini." Sin-jiu Kiam-ong meraba kepala Keng Hong yang sudah berlutut ketika melihat Kiang Tojin dan saudara-saudaranya muncul tadi. Kiang Tojin dan saudara-saudaranya tercengang dan terdengar seruan-seruan kaget dan heran. "Siancai....sungguh luar biasa sekali nasib anak ini.....! Akan tetapi, Taihiap, menyesal bahwa hal itu tidak mungkin dapat dilakukan karena..... karena anak ini adalah orang Kun-lun-pai....!” Sin-jiu Kiam-ong mengerutkan alisnya dan pandang matanya berubah kecewa. Selama hidupnya dia selalu membawa kehendak sendiri dan tidak mempedulikan peraturan orang lain, akan tetapi terhadap Kun-lun-pai dia merasa sungkan dan dia tahu benar bahwa kalau memang anak ini seorang murid Kun-lun-pai, amat tidak baik kalau dia memaksa dan mengambilnya sebagai murid, betapapun sukanya dia terhadap anak ini. Ia lalu menunduk dan bertanya kepada Keng Hong. Episode 20 "Hong-ji (anak Hong), benarkah engkau seorang anak murid Kun-lun-pai?” Keng Hong tadinya terheran, bingung dan juga diam-diam merasa tegang ketika secara tiba-tiba dia diangkat murid Sin-jiu Kiam-ong, dijadikan ahli waris kakek yang luar biasa itu. Namun, perasaan yang aneh sekali membuat hatinya menjadi besar dan bahagia dan timbul tekad di hatinya bahwa dia harus menjadi murid kakek ini, harus menjadi seorang pandai untuk menghadapi manusia-manusia jahat, terutama sekali manusia-manusia munafik yang banyak terdapat memenuhi jagat ini. Kini mendengar prcakapan antara tosu penolongnya dan Sin-jiu Kiam-ong, dia cepat berkata. "Bukan! aku bukan murid Kun-lun-pai! memang aku bekerja menjadi kacung di Kun-lun-pai, akan tetapi aku sama sekali bukan anak muridnya dan sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu silat di Kun-lun-pai!” "Kiang Tojin! apa artinya keterangan yang bertentangan ini?" Sin-jiu Kiam-ong menoleh kepada tosu itu dengan pandang mata penuh teguran. "Maaf, harap Taihiap suka mendengarkan penjelasan pinto. Tadi pinto sama sekali tidak mengatakan bahwa Keng Hong adalah anak murid Kun-lun-pai hanya mengatakan bahwa dia adalah orang Kun-lun-pai. Hendaknya Taihiap ketahui bahwa anak ini berasal dari sebuah dusun yang dilanda bencana perampokan, seluruh keluarganya musnah dan secara kebetulan pinto dapat menyelamatkannya dan membawanya ke Kun-lun-pai. Semula kami hendak menjadikannya murid Kun-lun-pai, akan tetapi kami terbentur oleh peraturan baru. Belum lama ini suhu membuat peraturan baru bahwa setiap orang anak murid dari Kun-lun-pai haruslah seorang penganut agama To. Karena Keng Hong tidak mau menjadi calon tosu, maka sampai kini dia berada di Kun-lun-pai selama dua tahun dan bekerja sebagai pembantu. Namun, kami telah menganggapnya sebagai orang sendiri.” "Hemmm, begitukah? kalau begitu, dia bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya kacung! tiada halangan bagiku untuk mengambilnya sebagai murid. Eh, Kiang-toyu, apakah engkau berkeberatan kalau dia kuambil murid?” "Mana pinto berani, Taihiap? Hanya saja, hal ini tergantung kepada si bocah sendiri. Keng Hong, pinto telah menyelamatkanmu daripada bencana. Apakah sekarang kau begitu tak ingat budi dan hendak meninggalkan pinto? Apakah benar-benar engkau suka menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong?” Keng Hong bangkit berdiri, setelah dia menyaksikan sepak terjang tiga orang manusia iblis dan sembilan orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, hatinya menjadi dingin terhadap Kun-lun-pai yang tadinya dia junjung tinggi sebagai pusat orang-orang sakti yang budiman. Ia memandang tajam kepada Kiang Tojin lalu berkata. "Totiang, sampai matipun saya tidak akan menyangkal bahwa Totiang telah menolong nyawa saya dan sampai matipun saya akan selalu ingat dan akan berusaha membalas budi Totiang itu. Akan tetapi, apakah budi yang totiang lepas itu mengandung pamrih agar selama hidup saya harus ikut dan menurut segala kehendak Totiang? Apakah totiang hendak merampas kebebasan saya? Totiang, pernah saya membaca ujar-ujar dalam kitab kuno bahwa budi disertai pamrih bukanlah pelepasan budi namanya, melainkan pemberian hutang yang harus di bayar kembali beserta bunga-bunganya! Apakah Totiang menghutangkan budi kepada saya!?” "Ha-ha-ha-ha-ha....!" Sin-jiu Kiam-ong tertawa terpingkal-pingkal dan dia mengelus-elus kepala anak itu. "Bocah, engkau penuh dengan semangat menggelora! Eh, Kiang-toyu, maafkan saya, ya. Agaknya bocah ini sudah ketularan watakku! Sekarang engkau hendak bilang apa lagi, Toyu?” Wajah Kiang Tojin menjadi merah, ia menjadi gemas kepada anak itu karena sesungguhnya tidak ada sedikit pun pamrih di hatinya minta dibalas budi oleh anak itu. Dia tadi berusaha memisahkan Keng Hong dari Sin-jiu Kiam-ong karena sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak rela dan tidak suka melihat Keng Hong menjadi murid kakek luar biasa ini. Perasaan ini semata-mata tinmbul karena rasa sayang kepada Keng Hong. Dia mengenal orang macam apa adanya Sin-jiu Kiam-ong, seorang yang semenjak mudanya hanya mengandalkan kepandaian malang melintang, seorang petualang yang tidak segan-segan melakukan segala macam kemaksiatan, pengejar kesenangan pemuas nafsu. Ia ingin melihat Keng Hong menjadi seorang yang baik dan dia mengerti bahwa kalau anak ini menjadi murid si raja pedang, tentu akan mewarisi pula wataknya yang liar dan jiwa petualangnya. Ia menghela nafas dan berkata, "Siancai....hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia! Taihiap, tidak sekali-kali saya ingin mempengaruhi Keng Hong dan terserahlah kalau memang dia sendiri suka menjadi murid Taihiap. Hanya ada satu hal yang hendaknya diketahui baik oleh Taihiap dan terutama oleh Keng Hong sendiri. Karena dia bukan anak murid Kun-lun-pai, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai, maka di kelak kemudian hari segala sepak terjangnya tidak ada hubungannya dengan Kun-lun-pai. Taihiap dipersilahkan menempati Kiam-kok-san karena Taihiap merupakan seorang penolong Kun-lun-pai, akan tetapi kelak, kalau Taihiap tidak lagi berada di Kiam-kok-san, tentu saja kami akan melarang Keng Hong berada di wilayah kami. Nah, selamat berpisah, Taihiap, semoga Thian selalu melindungi dan melimpahkan berkahNya.” Tosu itu memberi isyarat kepada saudara-saudaranya dan setelah menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke puncak dan memberi laporan kepada Thian seng Cinjin. Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan memegang tangan Keng Hong diajak mendaki puncak Kiam-kok-san sambil berkata, "Jangan menganggap semua omongan tosu itu, Hong-ji. Mereka itu adalah orang-orang yang terikat, terbelenggu kaki tangannya oleh agamanya, kasihan....! Segala peraturan yang dibuat manusia merupakan belenggu-belenggu yang akan mengikat kaki tangannya sendiri. Eh, namamu memakai huruf Hong, sama dengan namaku. Memang kita berjodoh....auggghhh....!" Kakek itu memegangi dadanya dan kakinya terhuyung. "Eh...kenapa? Suhu..... Suhu terluka...?" Wajah yang menyeringai menahan nyeri itu berseri kembali. "Ah, tidak seberapa hebat. Tahukah engkau bahwa ketika engkau menyebut Kong-kong kepadaku, aku merasa seolah-olah engkau ini cucuku sendiri? Ha-ha-ha! Alangkah lucunya, kawin pun belum pernah, bagaimana bisa punya cucu? Kau lebih tepat menjadi muridku. Hemmm...., akan kuberikan seluruh milikku kepadamu, muridku. Mudah-mudahan saja tidak terlambat. Mari kita naik ke Kiam-kok-san dan engkau harus rajin belajar karena waktunya tidak banyak. Aku...setan laknat tiga iblis itu.... aku terluka, kalau hanya racun saja sudah di punahkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi...ah, pukulan mereka merusak isi dadaku yang sudah kurang kuat...! Mudah-mudahan tidak terlambat...."

pendekar kayu harum 16

Episode 16 "Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah untuk mampus!" bentak Pak-san Kwi-ong, yang sudah menekuk kedua lututnya, berdiri setengah jongkok,kemudian setelah dia melibatkan senjata rantai di pinggangnya raksasa hitam ini mendorongkan kedua lengan sambil mengerahkan tenaga sinkang. Itulah pukulan jarak jauh yang mengandalkan Iweekang yang sudah sempurna, dikendalikan oleh sinkang(hawa sakti) untuk memukul lawan dari jarak jauh. Pada saat yang bersamaan, Ang-bin Kwi-bo yang tadi memutar-mutar kedua lengannya hingga terdengar suara berkerotokan, kedua lengannya menggigil kini mendorong lengan kanan ke depan sedangkan lengan kirinya diangkat lurus ke atas dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pat-jiu Sian-ong sudah menancapkan hudtimnya di pinggang, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak mendorong ke depan. Berbeda dengan kedua kawannya yang mendorong dan mengerahkan sinkang tanpa menggerakkan lengan, kakek kate ini terus-menerus menggerak-gerakkan kedua lengan dengan telapak tangan menghadap ke arah Sin-jiu Kiam-ong dan melakukan gerakan-gerakan memukul dengan telapak tangan. Terdengar bunyi "wut-wut-wut" dari kedua telapak tangan itu. Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum. Ia maklum bahwa lawan-lawannya hendak mengadu sinkang. Dia berjuluk Sin-jiu(Tangan Sakti) di samping Kiam-ong(Raja Pedang). Ia maklum bahwa lukanya yang mengandung racun itu merugikannya dalam mengadu sinkang , namun karena tiga orang lawannya sudah siap menantang, dia sebagai seorang yang berjuluk Sin-jiu, bagaimana mungkin akan menolak? Penolakan mengadu singkang berarti memperlihatkan rasa jerih, maka sambil tersenyum dia pun lalu duduk bersila dan begitu tiga orang lawan itu menggerakkan lengan, dia pun lalu mendorong ke depan dengan kedua lengannya, menghadapi lawan. Segera terasa olehnya tenaga gabungan lawan menyerangnya. Ia mengerahkan sinkang, disalurkan ke dalam kedua lengannya, berkumpul di kedua telapak tangannya dan ketika dia mendorong, serangkum tenaga dahsyat menerjang ke depan dan menahan angin pukulan tiga orang lawannya. Kalau sembilan orang tokoh kang-ouw itu memandang dengan hati penuh ketegangan, Keng Hong memandang dengan melongo dan hati penuh keheranan. Apakah yang mereka lakukan, pikirnya. Sungguh lucu. Mengapa mereka itu diam tak bergerak seperti patung dengan lengan diluruskan ke arah lawan, hanya kakek kate itu saja yang menggerak-gerakkan kedua lengan, mendorong-dorong angin kosong? Apakah mereka itu sedang bermain-main? Ataukah mereka sudi sedemikian tuanya sehingga menjadi pikun atau kehabisan tenaga setelah pertandingan yang serba cepat tadi? Tiba-tiba terdengar suara "trik-trik-trik!" terus-menerus, makin lama makin nyaring. Kiranya suara itu keluar dari kuku-kuku jari tangan Ang-bin Kwi-bo yang sengaja sambil mendorong menyentil-nyentil antara kuku-kukunya sendiri. Sehingga mengeluarkan bunyi seperti itu. Beberapa detik kemudian suara itu disusul oleh suara menggereng keras yang keluar dari kerongkongan mulut Pat-san Kwi-ong yang terbuka. Suara gerengan yang rendah, namun tiada hentinya, sambung-menyambung dan mengandung getaran hebat. Segera dua suara ini disusul pula dengan suara duk-creng-duk-creng seperti tambur dan gembreng. Kiranya suara ini keluar dari sebuah tambur kecil yang pinggirannya dipasangi kelenengan. Dengan tangan kirinya Pat-jiu Sian-ong memegang tambur ini, sedangkan tangan kanan masih didorong-dorongkan ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Tambur itu oleh kakek pendek ini dipukul-pukulkan kepada paha dan lututnya, sekali pukul pada kulit tambur kemudian pada lingkaran sehingga menimbulkan suara duk-creng-duk-creng nyaring sekali. Sembilan orang itu tiba-tiba duduk bersila ddan memejamkan mata. Keng-Hong menjadi heran sekali dan lebih kagetlah dia ketika tiba-tiba kedua kakinya gemetar dan dia pun jatuh terduduk. Jantungnya berdebar aneh dan telinganya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong menjadi pucat wajahnya, tubuhnya menggigil, dahinya penuh keringat dan tubuh kakek yang bersila itu pun mulai gemetar, kedua lengan yang dilonjorkan ke depan bergoyang-goyang! Dia tidak mengerti dan sama sekali tidak tahu bahwa suara-suara yang dikeluarkan oleh tiga orang manusia iblis itu adalah suara mujijat yang mengandung tenaga getaran hebat yang dapat melumpuhkan, bahkan membinasakan lawan! Untung bahwa Keng Hong belum pernah mempelajari Iweekang karena kalau dia sudah mempelajarinya dan mengerti akan pengaruh suara ini, tentu dia sudah roboh binasa. Memang suara-suara mujijat tidaklah begitu hebat pengaruhnya terhadap mereka yang tidak mengerti sama sekali, hanya menimbulkan suara tidak enak yang menusuk-nusuk telinga, dan getaran itu hanya membuat kaki menggigil dan lemas. "Dasar manusia-manusia iblis!" Keng Hong menjadi marah karena rasa tidak enak pada telinganya hampir tak tertahankan olehnya. Ia teringat akan sulingnya maka dengna gemas dan marah dia lalu meniup sulingnya. Suara-suara itu begitu bising dan tak enak didengar, pikirnya. Lebih baik aku memperdengarkan suara suling yang merdu untuk mengusir suara tidak enak! Pendapat secara ngawur ini segera dilaksanakan dan tak lama kemudian, suara-suara bising tidak enak itu bercampur dengan suara tiupan sulingnya. Bocah ini memang seorang ahli meniup suling yang berbakat. Karena tidak ada yang membimbing, maka dia merupakan peniup murid alam! Ia dapat menirukan suara-suara yang didengarnya. Kalau hatinya senagn, tiupannya mengandung suara yagn gembira ria dan tentu terasa oleh siapapun juga yang mendengarnya. Kalau dia berduka atau marah, suara sulingnya tentu membawa getaran perasaannyaini tanpa disadarinya. Kini dia sedang marah, maka suara sulingnya juga penuh kemarahan, bergelora dan membubung tinggi, melengking-lengking seperti bocah rewel menangis. Akan tetapi karena terpengaruh oleh suara lain, kepandaiannya yang timbul dari bakatnya membuat dia meniru suara-suara itu sehingga terdengarlah suara suling yang amat aneh. Kadang-kadang meniru suara berkeritik kuku-kuku Ang-bin Kui-bo kadang-kadang seperti menggerengnya tenggorokan Pak-san Kwi-ong dan sering kali mengarah suara tambur di tangan Pat-jiu Sian-ong! Hiruk-pikuk tidak karuan, namun justru kekacauan inilah yang mengacau pula daya tekun dan daya serang rangkaian tiga suara yang dikeluarkan oleh Bu-tek Sam-kwi! Setelah meniup sulingnya untuk menyatakan kemarahannya terhadap suara-suara bising yang tak sedap didengar itu Keng Hong merasa kekuatannya pulih kembali. Ia mengangkat muka memandang dan melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu kini tidak lagi menggigil sungguhpun wajahnya masih pucat. Sepasang mata kakek itu ditujukan kepadanya, hanya sekilas pandang, namun Keng Hong dapat merasa betapa pandang mata kepadanya itu penuh kagum, rasa syukur dan gembira! Hal ini menimbulkan kegembiraan di dalam hatinya. Keng Hong bukan seorang anak bodoh. Tidak, sebaliknya malah. Dia amat cerdik dan biarpun dia tidak mengerti mengapa demikian, namun dia dapat menduga bahwa suara sulingnya telah membantu kakek ini! Kegembiraannya membuat dia bertekad untuk mengacau terus suara-suara bising yang keluar dari tiga orang manusia iblis itu. Setelah meniup sulingnya makin keras dan makin kacau dia menghentikan tiupan sulingnya untuk diganti dengan suara nyanyiannya yang nyaring. Bocah ini memang memiliki suara yang nyaring dan cukup merdu. Akan tetapi karena dia ingin mangejek orang-orang yang mengganggu kakek tua itu, dia teringat akan bunyi ujar-ujar dalam kitab-kitab kuno yang dibacanya, yang dia lupa lagi entah dari kitab mana, kemudian dia menyanyikan ujar-ujar itu dengan lagu yang dikarangnya sendiri sejadi-jadinya: Episode 17 "Mengerti akan orang lain adalah bijaksana pikirannya, mengerti akan diri pribadi adalah waspada batinnya! Menaklukkan orang lain adalah perkasa tubuhnya, Menaklukkan diri pribadi adalah kokoh kuat batinnya! Merasa puas dengan keadaannya berarti kaya raya, memaksakan kehendak kepada orang lain berarti nekat! Tahan tanpa derita berarti terus berlangsung, mati tapi tidak musnah berarti panjang usia!" Karena banyak membaca kitab-kitab kuno tanpa mengerti betul maknanya, bocah ini lupa bahwa yang dinyanyikannya adalah ujar-ujar dalam kitab Totik-khing yang menjadi pegangan penganut Agama To dan tidak tahu bahwa ujar-ujar itu mengandung makna yang amat dalam. Akan tetapi sebagian daripada kata-kata itu kena betul dan mengejek mereka semua yang berada di situ, tidak hanya tiga orang manusia iblis, bahkan juga sembilan orang sakti yang kini sudah tidak lagi terpengaruh suara-suara tiga iblis yang dikacau oleh Keng Hong dan yang mendengarkan dengan mata terbelalak. Mereka ini, sembilan orang gagah tokoh kang-ouw, mengerti bahwa Sin-jiu Kiam-ong tertolong nyawanya. Tadinya, setelah tiga orang iblis itu menambah penyerangan mereka dengan suara-suara menekan, kakek itu sudah terdesak hebat sekali dan sewaktu-waktu pasti akan roboh binasa. Kini, karena suara itu diganggu, Sin-jiu Kiam-ong kembali dapat menekan mereka tiga orang lawannya. Tiga orang iblis itu marah sekali. Mereka menghentikan suara mereka dan sambil berseru marah mereka itu lalu meloncat ke depan, menubruk Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini dalam keadaan masih bersila, juga mengeluarkan seruan panjang, tubuhnya mencelat ke atas menyambut terjangan ke orang lawan. Pertemuan hebat terjadi di udara dan terdengar suara nyaring bertemunya senjata disusul jeritan kesakitan tiga orang manusia iblis itu yang terpelanting ke kanan kiri. Kakek itu pun melayang turun lagi dan berdiri tegak dengna pedang Siang-bhok-kiam di tangan. Tiga orang manusia iblis itu pucat wajahnya, kulit leher mereka bertiga lecet dan terluka oleh guratan Siang-bhok-kiam. Setelah memandang sejenak, mereka itu membalikkan tubuh dan dengan hanya beberapa kali loncatan saja ketiganya sudah lenyap dari tempat itu. Kiranya mereka kini menjadi jerih jarena maklum bahwa mereka bertiga tidak akan dapat menenangkan Sin-jiu Kiam-ong sungguhpun selisihnya hanya sedikit saja. Mereka menyesal mengapa tidak mengundang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan) yang menjadi orang keempat dari Bu-tek Su-kwi! Setelah tiga orang manusia iblis itu lenyap dari tempat itu, Sin-jiu Kiam-ong menarik nafas panjang dan tiba-tiba dia terhuyung-huyung lalu roboh! Dengan gerakan lemah kakek ini lalu bangkit dan duduk bersila, wajahnya pucat, nafasnya terengah-engah dan tiba-tiba dari mulutnya menetes-netes darah segar! Sembilan orang tokoh sakti yang melihat keadaan kakek ini, maklum bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah terluka parah dan mereka melihat kesempatan yang amat baik untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam yang masih berada di dalam genggaman Sin-jiu Kiam-ong. Agaknya mereka itu sudah dapat menerka isi hati masing-masing, karena seperti mendapat komando, sembilan orang itu lalu bergerak maju menghampiri Sin-jiu Kiam-ong. Terdengar kakek itu tertawa di balik batu, lalu berkata. "Ha-ha-ha..., kalian hendak mengambil Siang-bhok-kiam? Sudah kukatakan, aku tidak akan melawan, apalagi dalam keadaan seperti ini...uh-huh...Bu-tek Sam-kwi benar-benar tangguh...nah, ambillah siapa yang berjodoh...! Ia menancapkan pedang kayu itu di depannya di atas tanah. Sembilan orang itu tidak ada yang berani bergerak. Mereka percaya bahwa kakek itu tidak akan melarang kalau mereka mengambil pedang, juga maklum bahwa kakek itu sudah lemah sekali. Akan tetapi mereka tidak ada yang berani bergerak karena tahu pula bahwa jika ada yang berani mengambil pedang, tentu akan dihalangi oleh yang lain! Hal ini yang membuat mereka menjadi ragu-ragu. "Tahan...! Tahan....kalian orang-orang tua yang tak mengenal malu!" Tiba-tiba terdengar teriakan marah dan Keng Hong yang sudah keluar dari tempat sembunyinya itu kini menghampiri Sin-jiu Kiam-ong dan memeluk leher kakek itu dari belakang sambil memandang sembilan orang itu dengan pandang mata penuh kemarahan. Sembilan orang yang mengenal anak ini sebagai bocah yang tadi telah meniup suling mangacau Bu-tek Sam-kwi, memandang heran. Tadi mereka seperti lupa kepada bocah yang amat berani itu karena mereka terlalu bernafsu untuk mendapatkan pedang. Kini baru mereka teringat dan mereka menduga-duga apakah hubungan anak ini dengan Sin-jiu Kiam-ong. "Heh, bocah lancang! Saipakah engkau dan mau apa?" bentak kiu-bwe Toanio dengan pandang mata marah. Namun Keng Hong tidak mempedulikan nenek itu, melainkan bertanya kepada Sin-jiu Kiam-ong, "Kong-kong (kakek), engkau terluka? Ah, mereka ini orang-orang yang tak mengenal budi!" Sin-jiu Kiam-ong membuka matanya dan memandang bocah itu dengan pandang mata penuh kekaguman dan keharuan. Anehnya, ada dua butir air mata menitik turun dari kedua mata kakek itu! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebgai seorang petualang di dunia persilatan yang selalu hidup gembira, tak pernah berduka, apalagi menangis! Bahkan ratusan kali menghadapi ancaman maut sekalipun tak pernah memperlihatkan kedukaan. Akan tetapi sekarang dia menitikkan air mata! Setelah menarik nafas panjang, Sin-jiu Kiam-ong kembali memejamkan matanya. Episode 18 Keng Hong melepaskan rangkulannya pada kakek itu, meloncat di depan Sin-jiu Kiam-ong seolah-olah hendak melindunginya, lalu berkata kepada sembilan orang itu. "Kalian ini orang-orang gagah macam apa. Tidak mengenal budi, berhati kejam! Siapa tidak tahu bahwa kalau tidak ada kakek ini, kalian sudah mati semua di tangan tiga iblis tadi? Kakek ini yang menolong kalian mengusir tiga iblis dna mengorbankan diri sampai terluka, dan kini kalian tanpa malu-malu hendak membunuhnya! Sungguh pengecut, curang dan kalian ini lebih jahat daripada si tiga iblis! Mereka iut sudah terang orang-orang jahat dan menggunakan nama iblis, mereka sedikitnya lebih jujur daripada kalian. Sebaiknya kalian, tadi kudengar menggunakan nama sebagai golongan bersih, sebagai pendekar-pendekar perkasa namun kenyataannya kalian ini orang-orang munafik yang hanya pada lahirnya saja bersih namun di sebelah dalam lebih busuk daripada yang busuk! Aku Cia Keng Hong walaupun tidak ada hubungan dengan kakek ini, namun aku sebagai manusia tidak rela menyaksikan kejahatan yang melewati batas. Kalau kalian hendak membunuh penolong kalian ini yang terluka parah, jangan melakukan kekejaman kepalang tanggung, bunuhlah aku terlebih dahulu!" Wajah kesembilan orang itu menjadi merah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut anak kecil ini tajam dan runcing melebihi pedang yang langsung menghujam ke ulu hati mereka. Akan tetapi urusan yang mereka hadapi jauh lebih besar. Apa artinya maki-makian seorang anak kecil penggembala kerbau? Tadi ketika memasuki hutan, mereka sudah melihat Keng Hong menyuling di atas kerbaunya. Di balik perbuatan mereka terhadap Sin-jiu Kiam-ong yang keliahatan kejam, tersembunyi persoalan-persoalan dendam yang besar dan kiranya tidak perlu diperdebatkan dengan seorang bocah! Tak mungkin kalau hanya karena maki-makian bocah ini mereka harus membatalkan niat yang sudah dikandung di hati, dibela dengan perjalanan jauh, bahkan yang hampir saja membuat mereka binasa di tangan Bu-tek Sam-kwi. “Bocah bermulut lancang, kau tahu apa? Hayo minggat dari sini!” Hek-how Tan Kai Sek piauwsu tua itu melangkah maju hendak menyeret dan mendorong pergi Keng Hong, akan tetapi tiba-tiba dia terhuyung mundur karena ada tenaga hebat mendorongnya. Kiranya Sin-jiu Kiam-ong kini sudah bangkit dan berdiri di dekat Keng Hong. Wajah kakek ini masih pucat, akan tetapi sinar matanya berseri dan mulutnya yang masih merah karena darah tersenyum. “Tak seorangpun boleh mengganggu Cia Keng Hong! Dia ini muridku, dan dialah ahli warisku. Perkenalkan, hei, para pendekar! Pandanglah baik-baik. Inilah dia muridku, orang yang akan mewarisi semua milikku termasuk pedang Siang-bhok-kiam. Ha-ha-ha!” Sembilan orang itu tercengang! Mereka bersusah payah, mengandalkan dendam mereka untuk berusaha mendapatkan pedang pusaka dan warisan kitab-kitab dan ilmu si raja pedang, kini begitu saja si raja pedang mengangkat murid dan hendak mewariskan Siang-bhok-kiam kepada seorang bocah penggembala kerbau

pendekar kayu harum13

Episode 13 Tiba-tiba terdengar suara ketawa tergelak-gelak. Suara ketawa yang memekakkan telinga, yang membuat Keng Hong tiba-tiba roboh berlutut karena kedua kakinya menggigil. Tampak berkelebat tiga bayangan hitam dan pertandingan yang tadinya kacau balau itu tiba-tiba berhenti karena sembilan orang itu terpelanting ke kanan kiri. Kini mereka bersembilan berdiri siap siaga dengan wajah penuh peluh, mata liar mengganas memandang ke arah tiga orang yang tiba-tiba muncul dan yang sekaligus membuat mereka yang sembilan orang itu tokoh-tokoh kenamaan yang berilmu tinggi, terpelanting ke kanan kiri. Keng Hong kini dapat berdiri kembali dan dia pun mengintai, memandang ke arah tiga orang itu. Jantungnya berdebar keras dan mulutnya melongo, matanya terbelalak hatinya diliputi kengerian. Tentu bukan manusia yang muncul ini, melainkan tiga iblis penghuni hutan. Belum pernah Keng Hong melihat orang-orang yang memiliki wajah dan tubuh demikian mengerikan. Orang pertama adalah seorang nenek yang rambutnya kemerahan, rambut gimbal yang kasar dan riap-riapan menutupi sebagian mukanya. Muka itu sendiri seperti udang direbus, mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan panjang-panjang sehingga bibirnya tidak dapat tertutup dan selalu menyeringai. Pakaiannya dari sutera hitam berkembang merah dengan potongan ketat sehingga melekat di kulit tubuhnya, mencetak tubuhnya seperti telanjang bulat dan tampak betapa sepasang buah dadanya besar-besar seperti buah semangka. Nenek ini tidak memegang senjata, akan tetapi sepuluh buah kuku jari tangannya panjang-panjang dan meruncing seperti sepuluh batang pisau yang hitam kemerahan, amat mengerikan! Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya sebaya dengan nenek itu, kurang lebih delapan puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, sedikitnya tentu ada dua meter, besar dan kulitnya hitam arang penuh bulu. Kalau tidak pakai pakaian dia tentu lebih patut disebut orang hutan. Pakaiannya juga dari sutera berwarna berkembang. Karena kulit mukanya juga hitam seperti arang, maka tampaklah biji matanya putih lebar menyeramkan. Kedua telinganya seperti telinga gajah, lebar. Yang mengerikan adalah sepasang tengkorak kecil, agaknya tengkorak anak-anak, yang tergantung di kedua rantai baja, dua buah tengkorak yang sudah menghitam dan agaknya mengeras seperti besi karena kedua tengkorak itu telah direndam racun sampai puluhan tahun lamanya. Adapun orang ke tiga, sungguhpun tidak tinggi besar menyeramkan, namun cukup mengerikan karena bentuknya yang tidak lumrah. Tubuhnya kecil kate, akan tetapi kepalanya besar sekali berbentuk lonjong seperti buah labu, mukanya sempit dengan sepasang mata yang hanya merupakan dua buah garis kecil, sikapnya pendiam dan alim. Tangan kanannya memegang sebatang hudtim (kebutan dewa) yang gagangnya hitam namun bulu kebutannya putih. Kedua lengannya bersedakap dan bibirnya selalu bergerak-gerak seperti orang membaca doa! Yang tertawa-tawa adalah nenek dan kakek tinggi besar itu. Kini pun kakek tinggi besar masih tertawa sehingga dua buah tengkorak kecil yang tergantung di pinggangnya bergerak-gerak dan saling beradu menimbulkan suara seolah-olah dua buah tengkorak itu ikut pula tertawa. Sembilan oran tokoh kang-ouw, yang tadinya terpelanting ke kanan kiri, setelah dapat memandang tiga orang ini, tampak kaget sekali, tercengang dan gentar. Tiga orang manusia iblis ini memang jarang muncul di dunia ramai, namun mereka sebagai tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan tentu saja mengenal siapa adanya tiga datuk persilatan, raja-raja dari golongan sesat ini. Nenek itu bukan lain adalah Ang-bin Kwi-bo (Nenek Iblis Muka Merah) yang seolah-olah merajai kaum sesat di sepanjang pantai laut timur. Kakek tinggi besar berkulit hitam dengan senjata dua buah tengkorak itu adalah Pak-san Kwi-ong (Raja Setan Gunung Utara) yang merajai kaum sesat di sepanjang tembok besar di utara, bahkan terkenal sekali dan ditakuti oleh bangsa-bangsa Mongol, Mancu dan lain-lain. Orang ketiga yang kate dan bersikap seperti dewa itu dikenal dengan nama julukan Pat-jiu Sian-ong (Raja Dewa Lengan Delapan), karena Pat-jiu Sian-ong ini selalu merantau ke barat dan tidak pernah ada tokoh yang dapat menandinginya. Inilah tiga orang di antara empat datuk kaum sesat yang pada masaitu merupakan tokoh-tokoh tertinggi ilmunya dan yang tersebar merajai empat penjuru. "Ha-ha-ha!” Pak-san Kwi-ong tertawa mengejek dan menyapu sembilan orang itu dengan pandang mata. Biji matanya yang putih itu bergerak-gerak lliar ke kanan kiri, amat menyeramkan. "Kiranya tikus-tikus ini pun kepingin mendapatkan Siang-bhok-kiam! Ha-ha-ha! Memang benar sekali, sebelum berhak mendapatkan pedang pusaka, harus menjadi pemenang lebih dulu. Kalian ini tikus-tikus pelbagai golongan, setelah kami bertiga datang, tidak lekas menggelinding pergi, apakah ingin kami turun tangan menjadikan kalian sebagai setan-setan tanpa kepala?" "Kwi-ong, usir saja anjing-anjing itu. Kalau dibunuh, teman-temannya akan mengonggong, kelak akan membikin repot saja!" kata Ang-bin Kwi-bo sambil menyeringai. Sembilan orang itu adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw golongan bersih. Sungguhpun pada saat itu mereka saling bertentangan dalam memperebutkan Siang-bhok-kiam, namun mereka tetap merasa diri mereka bersih. Kini menghadapi tiga orang tokoh yang menjadi datuk kaum sesat, tentu saja mereka merasa bertemu dengan lawan dan otomatis mereka itu melupakan pertentangan sendiri, di dalam hati telah bersatu untuk menghadapi tiga lawan yang mereka tahu memiliki kesaktian hebat itu. Namun sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar. "Bagus! kalau kami tidak salah kira kalian bertiga ini tentulah tiga orang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding)! Memang, siapa yang paling kuat di antara kami berhak memiliki Siang-bhok-kiam, akan tetapi kalian ini iblis-iblis berwajah manusia tidak masuk hitungan, dan sudah menjadi kewajiban kami semua pendekar golongan bersih untuk membasmi iblis-iblis kaum sesat macam kalian bertiga!" Terdengar suara kekeh ketawa melengking tinggi dan Ang-bin Kwi-bo sudah menerjang maju menyerang Sin-to Gihiap yang bicara tadi. Pendekar ahli golok yang sudah berusia delapan puluh tahun, sudah banyak pengalamannya bertanding dan pada masa itu sukar dicari tandingannya dalam permainan golok, menjadi kaget bukan main karena nenek itu menyerangnya dengan senjata yang amat luar biasa, yaitu.....rambutnya! Rambut yang gimbal kasar panjang ini bagaikan ratusan ekor ular menerjangnya, mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau amis seperti ular beracun. Cepat Sin-to Gi-hiap memutar goloknya untuk menjaga diri, namun sebagian daripada rambut itu mengulung goloknya dan sebagian lagi terus menyambar ke arah lehernya! Episode 14 Pada saat itu terdengar seruan keras, "Omitohud!" dan kedua orang Siauw-lim-pai yaitu Thian Ti Hwesio dan Thian Kek Hwesio telah menerjang secara berbarengan. Thian Ti Hwesio menggunakan Liong-cu-pang menghantam kepala nenek itu, sedangkan Thian Kek Hwesio menggerakkan jubahnya menangkis ke arah rambut yang mengancam nyawa Sin-to Gi-hiap! Sambil terkekeh aneh Ang-bin Kwi-bo menarik kembali rambutnya dan melangkah mundur kemudian ia mengulur kedua lengan, lengan kiri menyampok Liong-cu-pang sehingga hampir saja terlepas dari pegangan Thian Ti Hwesio, sedangkan lengan kanannya melingkar di depan dada. Kini sepuluh buah kuku jari tangan nenek itu sudah berubah makin menghitam dan jari-jari tangan itu bergerak-gerak aneh, amat mengerikan. Betapapun juga, dua orang tokoh Siauw-lim-pai bersama Sin-to Gi-hiap tidak menjadi gentar dan siap-siap mengurungnya. Pendekar-pendekar tua yang lain tidak tinggal diam. Sungguhpun tidak ada yang memimpin dan tidak ada komando, mereka sudah menerjang maju. Kiu-bwe Toa-nio bersama dua orang tokoh Hoa-san-pai sudah maju mengurung Pak-san Kwi-ong. Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuk berekor sembilan yang mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil, sedangkan kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu sudah menyatukan pedang mereka. Adapun sepasang suami istri piauw-su, yaitu Hek-houw Tan Kai Sek dan isterinya, bersama Kok Cin Cu tokoh lihai Kong-thong-pai, telah mengurung Pat-jiu Sian-ong yang tampak tenang-tenang saja. Si kate kepala besar ini hanya mengebut-ngebutkan hudtim di tangannya seperti orang mengusir lalat, namun hudtim yang dikebut-kebutkan perlahan-lahan itu mengeluarkan suara bersiuatan seolah-olah datagn angin topan yang dahsyat! Suara ini diimbangi oleh suara menderu yang keluar dari rantai yang ujungnya ada sepasang tengkoraknya, yaitu senjata yang kini diayun-ayun oleh Pak-san Kwi-ong. Keng Hong menonton dengan jantung berdebar-debar. Sungguh keadaan telah berubah amat mengherankan. Sembilan orang yang tadinya saling bertanding dan lenyap bayangannya terganti oleh sinar-sinar berkelebatan, kini bersatu padu menghadapi tiga orang manusia iblis yang mengerikan. Biarpun mereka itu belum saling serang, namun keadaan sudah amat menegangkan. Ketika Keng Hong melirik ke arah kakek tua renta yang duduk bersila, dia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong masih duduk diam tak bergerak, namun senyum mengejek di bibirnya kini tidak tampak lagi dan kedua mata yang tadinya dipejamkan kini terbuka. Keng Hong terkejut karena sepasang mata kakek tua renta itu mengeluarkan sinar yang berkilat! Akan tetapi perhatian Keng Hong segera tertarik oleh pertandingan yang sudah dimulai. Begitu dia mengalihkan pandang matanya, dia menjadi pening. Pertandingan sekali ini ternyata lebih hebat dan cepat daripada tadi. Bayangan-bayangan manusia berkelebatan, sukar dia kenal bayangan siapa, berkelebatan cepat di antara sinar-sinar terang dan gulungan-gulunga uap hitam, dan terdengar suara bermacam-macam yang menusuk-nusuk telinga, selain itu tercium bau yang amis dan keras memuakkan. Namun, pertandingan itu berjalan sebentar saja. Terdengar kekeh tawa Ang-bin Kwi-bo diseling gelak tawa Pak-san Kwi-ong, disusul suara senjata-senjata patah dan tubuh sembilan orang pengeroyok itu terpelanting lagi ke kanan kiri, namun sekali ini agak keras, bahkan terbanting ke tanah. Ketika sinar-sinar itu lenyap, Keng Hong melihat betapa sembilan orang itu ada yang terbanting roboh, ada yang terhuyung-huyung ke belakang. Mereka ini menyeringai kesakitan dan bangkit bangun lagi dengan wajah pucat. Pecut sembilan ekor di tangan Kiu-bwe Toanio kini tinggal lima ekornya, Liong-cu-pang di tangan Thian Ti Hwesio semplak bagian ujung yang bulat, jubah di tangan Thian Kek Hwesio robek, pundak Sin-to Gi-hiap berdarah. Napas kedua Hoa-san Siang-sin-kiam terengah-engah dan tangan mereka yang memegang pedang menggigil, juga Kok Cin Cu berdiri sambil memejamkan mata dan mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaga dan mengobati luka di sebelah dalam tubuhnya, sepasang suami-isteri piauwsu itu pun memandang pedang mereka yang tinggal sepotong, sedangkan kantong-kantong senjata rahasia mereka sudah kosong karena isinya hanya habis dihamburkan dengan sia-sia. "Hi-hi-hik! Kalian berani menentang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tanpa Tanding)?" kata Ang-bin Kwi-bo. "Kelancangan kalian harus ditebus dengan nyawa!" kata Pak-san Kwi-ong sambil tertawa. "Bersembahyanglah lebih dahulu sebelum menemui Giam-lo-ong (Raja Maut)!" Kini untuk pertama kalinya terdengar suara Pat-jiu Sian-ong, dan ternyata suara halus dan seperti suara orang yang penuh kasih sayang! Sembilan orang itu sudah siap-siap. Mereka itu kesemuanya telah menderita luka, dan yang tidak terluka telah mengorbankan senjatanya menjadi rusak. Namun karena maklum bahwa nyawa mereka terancam maut, mereka siap-siaga untuk melawan sampai detik terakhir. Keng Hong biarpun tidak tahu akan ilmu silat, apalagi ilmu silat tinggi yang dimainkan mereka, dari percakapan itu maklum pula bahwa tiga orang manusia iblis itu siap untuk membunuh sembilan orang tokoh pendekar itu, maka dia membelalakan mata sambil memandang penuh ketegangan. Suling bambu di tangannya dia pegang erat-erat, seolah-olah dia pun bersiap-siap menerima terjangan maut. Setelah tertawa lagi, tiga orang manusia iblis itu bergerak. Berbarengan dengan gerakan mereka, masing-masing mengarah tiga orang lawan terdekat. Rambut kepala Ang-bin Kwi-bo menyambar ke depan, berlumba cepat dengan rantai tengkorak dan hudtim di tangan kedua orang kawannya. Sembilan orang yang sudah lemah itu maklum bahwa kali ini nyawa mereka tidak berdaya menghadapi kehebatan tiga orang lawan ini, apalagi sekarang setelah mereka terluka dan lemah. Betapapun juga mereka terluka dan lemah. Betapapun juga mereka menggerakkan tangan untuk mempertahankan diri. Episode 15 Tiba-tiba terdengar suara mencicit keras dan nyaring sekali, berbarengan berkelebat sinar hijau yang panjang dan tebal, disusul bunyi "Cring-cring-tranggg....!" dan tiga orang manusia iblis itu mencelat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangkisan sinar hijau tadi membuat sebagian rambut kepala Ang-bin Kwi-ong rontok, kedua tengkorak Pak-san Kwi-ong berputaran dan kebutan hudtim di tangan Pat-jiu Sian-ong bodol tiga helai! Peristiwa ini bagi tiga orang manusia iblis merupakan hal yang amat hebatnya, karena tak pernah mereka mengira ada orang yang mampu sekali tangkis menolak mundur mereka. Karena kaget dan heran mereka mencelat mundur dan kini mereka memandang denga mata terbelalak penuh dengan kemarahan. Kiranya di depan mereka telah berdiri Sin-jiu Kiam-ong yang tersenyum-senyum dan pedang Siang-bhok-kiam yang diperebutkan itu berada di tangan kanannya.Kakek ini tenang-tenang saja menoleh ke belakang dan berkata kepada sembilan orang tokoh kang-ouw yang memandang dengan mata terbelalak kagum. "Harap Kiu-wi (kalian sembilan orang) suka mundur. Biarlah aku menghadapi mereka karena tiga iblis ini adalah tandinganku!" Biarpun angkuh dan menjunjung kegagahan, sembilan orang ini pun merupakan orang-orang yang mengenal keadaan. Maka sambil menghela napas panjang mereka lalu melangkah mundur dan hanya menonton dari pinggiran. "Sin-jiu Kiam-ong!" Kini Pak-san Kwi-ong membentak dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek tua renta itu. "Kabarnya engkau telah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan dunia ramai. Bahkan tadi kami mendengar bahwa engkau telah menyerahkan nyawa, tidak hendak melakukan perlawanan. Mengapa sekarang engkau menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak melakukan perlawanan. Mengapa sekarang engkau menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak mampus sebagai seorang pengecut rendah yang menarik kembali ucapannya yang masih terdengar gemanya?" Sin-jiu Kiam-ong tertawa, kemudian menjawab, "Hemmm, kalian Bu-tek Sam-kwi dengarlah baik-baik! Aku sama sekali tidak pernah berjanji kepada kalian bertiga! Aku berjanji kepada sembilan orang yang mewakili partai-partai yang pernah ku ganggu. Aku berhutang kepada mereka, maka kini aku bersedia membayar dengan nyawaku. Pedang Siang-bhok-kiam ini sama harganya dengan nyawaku, maka kalau kalian bertiga datang hendak memperoleh Siang-bhok-kiam, harus lebih dulu dapat merampas nyawaku!" "Bagus! Sin-jiu Kiam-ong manusia sombong yang sudah hampir mampus! Kami masih suka bicara denganmu karena mengingat bahwa engkau setingkat dengan kami. Jangan sekali-kali mengira bahwa kami takut kepadamu!" bentak Ang-bin Kwi-bo marah. "Heh-heh-heh, Kwi-bo, dahulu, setengah abad yang lalu, engkau cantik jelita dan memiliki kesukaan yang sama dengan aku, yaitu berenang dalam lautan asmara. Akan tetapi sekarang, heh-heh-heh, engkau buruk sekali.......!" "Gila....!" Ang-bin Kwi-bo menerjang dengan kedua tangannya dan sepuluh buah kuku runcing mengandung racun dahsyat itu sudah mencakar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini menggoyang pergelangan tangannya, sinar hijau berkelebat dan si nenek memekik keras dan cepat menarik kembali kedua tangannya yang dari kedudukan menyerang berbalik terancam dibabat buntung oleh Siang-bhok-kiam! Dua orang kawannya tidak tinggal diam. Mereka sudah menerjang maju dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat lagi daripadatadi. Sembilan orang sakti yang menonton, hampir berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum. Mereka adalah orang-orang sakti maka dengan pandang mata mereka yang terlatih , mereka dapat menikmati dan mengagumi permainan pedang Sin-jiu Kiam-ong yang benar-benar belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. Juga mereka merasa ngeri karena setelah kini mereka dapat mengikuti sepak terjang tiga orang iblis itu yang benar-benar luar biasa dan amat berbahaya. Bagi Keng Hong, tentu saja penglihatan pada saat itu lain lagi. Ia tidak melihat lagi Sin-jiu Kiam-ong dan tiga orang iblis. Bayangan mereka sudah lenyap. Yang tampak olehnya hanyalah segulung sinar hijau se3perti seekor naga bermain-main diantar mega-mega yang beraneka warna, ada mega hitam, ada yang putih dan ada yang kemerahan. Pandang matanya berkunang dan kepalanya menjadi pening sehingga Keng Hong terpaksa harus memejamkan matanya. Kalau dia membuka matanya, dia menjadi silau dan berkunang lagi. Terpaksa dia meramkan terus matanya, dan hanya mendengarkan dengan telinganya. Yang terdengar hanya lengking dan suara bercuitan, tidak tahu dia bagaimana jalannya pertandingan itu, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Jangankan bagi mata Keng Hong yang tidak terlatih, bahkan sembilan orang sakti yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya itu pun menjadi silau dan pening. Makin lama gerakan Sin-jiu Kiam-ong dan tiga orang lawannya, terutama sekali gerakan Raja Dewa Lengan Delapan, makin cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata lagi. Sinar pedang Siang-bhok-kiam yang hijau itu mendadak menjadi lebar sekali ketika terdengar Sin-jiu Kiam-ong membentak, dan tampaklah sinar hijau mencuat ke tiga jurusan seperti bercabang, disusul pekik kesakitan tiga orang iblis. Namun tampak jelas oleh sembilan orang itu betapa ujung pedang Siang-bhok-kiam berhasil melukai dada ketiga orang iblis, dan sebaliknya, pipi kanan Sin-jiu Kiam-ong terkena guratan kuku tangna Ang-bin Kwi-bo dan punggungnya terkena gebukan sebuah tengkorak yang terbang membalik dan seolah-olah mencium punggung kakek itu. Sin-jiu Kiam-ong terhuyung ke belakang, akan tetapi tiga orang lawannya juga mencelat sampai tiga tombak jauhnya. Mereka kini berdiri saling pandang, tak bergerak. Tiga orang iblis itu terengah-engah, pandang mata mereka beringas, mulut menyeringai. Tiga orang iblis ini diam-diam merasa girang sekali. Sin-jiu Kiam-ong telah terkena luka beracun. Racun-racun di kuku Ang-bin Kwi-bo amat hebatnya, dan racun di tengkorak Pak-san Kwi-ong juga tak kalah ampuhnya. Kalau mereka bertanding lagi, amatlah sukar mengalahkan kakek itu yang benar-benar patut berjuluk Raja Pedang karena permainan pedangnya memang hebat di samping pedang itu sendiri amat ampuh. Akan tetapi kalau mereka mengadu sinkang pengerahan tenaga sakti akan membuat racun itu menjalar hebat dan akan membunuh Sin-jiu Kiam-ong! Dada mereka terkena tusukan ujung pedang Siang-bhok-kiam, namun karena tubuh mereka kebal dan luka itu tidak terlalu dalam, juga tidak mengandung racun, mereka tidak khawatir untuk mengerahkan seluruh sinkang di tubuh mereka.

pendekar kayu harum

Episode 10 Karena penolakannya ini, Keng Hong yang sudah tidak mempunyai keluarga itu bekerja sebagai seorang kacung. Dia rajin sekali, semua pekerjaan dia pegang, apa saja yang diperlukan, tanpa diperintah dia kerjakan. Mengisi tempat air, membersihkan kuil, menyapu lantai dan kebun, merawat bunga, bahkan menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah, semua dia kerjakan dengan tekun dan rajin. Di malam hari, karena para tosu yang sayang kepadanya membolehkannya, dia memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab. Semenjak kecil, di rumah ayahnya dahulu, Keng Hong telah mempelajari ilmu kesusasteraan sesuai dengan kehendak ayahnya yang ingin melihat dia kelak menjadi seorang terpelajar agar dapat memperoleh kedudukan tinggi. Kitab-kitab tentang filsafat kebatinan, pelajaran-pelajaran Tao, juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kun-lun, semua dia baca. Tentu saja karena tidak ada gurunya, dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya. Kerajinannya dan sifatnya yang pendiam membuat para tosu suka kepadanya. Bahkan Thian Seng Cinjin sendiri yang melihat sifat-sifat baik anak ini, memujinya dan diam-diam merasa kecewa mengapa anak yang berbakat baik ini tidak suka menjadi calon tosu. Di lain fihak, Keng Hong paling segan dan takut melihat Thian Seng Cinjin. Ia melihat sesuatu yang aneh dan penuh wibawa pada diri tosu tua ini, baik gerak-geriknya, dari suaranya dan terutama sekali dari pandang matanya yang tenang penuh kesabaran dan seolah-olah dapat menjenguk isi hatinya itu. Dia sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika Thian Seng Cinjin dan anak muridnya berkumpul di ruangan belajar. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara, maka Keng Hong dapat melihat dan mendengar semua. Suasana di ruangan belajar itu amat hening dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan kesungguhan, membuat Keng Hong makin hati-hati agar tidak mengganggu, namun dia kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar hal-hal yang amat menarik hatinya. Ia mendengarkan terus. "Suhu, di puncak Kiam-kok-san telah terjadi keributan," demikian Kiang Tojin, penolongnya dan merupakan tosu yang paling dihormati dan dicintai Keng Hong, berkata melapor. "Agaknya Sin-jiu Kiam-ong sudah kumat lagi watak mudanya yang suka akan keributan. Menurut pelaporan para murid Suhu, ada sembilan orang tokoh kang-ouw, termasuk dua orang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang tokoh Hoa-san-pai dan seorang tosu Kong-thong-pai, mendatanginya untuk minta pedang Siang-bhok-kiam. Mereka dilayani oleh Sin-jiu Kiam-ong yang berjanji sebulan lagi akan menanti mereka di hutan mawar sebelah selatan di kaki gunung. Mohon keputusan Suhu karena keributan ini terjadi di wilayah kita." "Siancai..., siancai....! Sie-taihiap (pendekar besar she sie) semenjak dahulu selalu mengejar kesenangan dan ketegangan. Namun harus diakui bahwa di balik kebiasaannya yang buruk itu tersembunyi watak pendekar yang patut dipuji. Kita orang-orang Kun-lun-pai bukan merupakan golongan yang tak kenal budi. Sie-taihiap pernah menanam budi kepada kita maka kita membolehkan dia bertapa di Kiam-kok-san yang merupakan tempat suci bagi kita karena dahulu sucouw(Kakek guru) kita memilih tempat itu sebagai tempat bertapa sampai musnah dari dunia. Kini Sie-taihiap mengundang keributan, biarlah kita tidak mencampurinya. Pinto melarang seorang pun murid Kun-lun-pai untuk ikut campur tangan dan biarlah Sie-taihiap menyelesaikan urusannya sebagaimana yag dia kehendaki." Mendengar percakapan mereka tentang Sin-jiu Kiam-ong yang berwatak aneh, Keng Hong menjadi tertarik sekali. Sudah banyak dia membaca tentang keanehan para pendekar. biarpun Kun-lun-pai merupakan pusat pendekar-pendekar sakti dan dia pun maklum bahwa Kiang Tojin penolongnya adalah seorang berilmu tinggi, apalagi guru penolongnya itu tentu seorang yang sakti, namun mereka tak memperlihatkan kepandaian mereka dan hidup sebagai pertapa-pertapa dan petani-petani biasa. Maka kini mendengar akan Sin-jiu Kiam-ong yang hendak menghadapi lawan-lawan sakti di kaki gunung sebelah selatan, di dalam hutan mawar, dia menjadi ingin sekali menonton. Demikianlah, pada hari yang ditentukan sebulan sesudah pertemuan di puncak yang disebut puncak Lembah Pedang, Keng Hong menggembala kerbaunya di luar hutan mawar. Biasanya kalau dia menggembala kerbau yang enam ekor banyaknya itu. Akan tetapi sekali ini dia sengaja menggiring kerbaunya turun ke selatan dan membiarkan kerbaunya itu makan rumput hijau gemuk di luar hutan mawar. Agar tidak kelihatan bahwa dia sengaja datang ke tempat itu untuk menonton pertemuan orang-orang sakti seperti yang dia ketahui dari percakapan ketua Kun-lun-pai dan murid-muridnya, dia berbaring menelungkup di atas punggung kerbau yang terbesar sambil meniup-niup suling bambu yang dibawanya. Keng-Hong memiliki kepandaian istimewa dalam meniup suling, bahkan sejak kecil dia bermain suling, pandai meniup suling menirukan suara ayam dan burung-burung. Juga dengan tiupan sulingnya dia dapat merangkai suara-suara indah dan menciptakan lagu-lagu yang sungguhpun dirangkai sejadinya namun amat sedap didengar. Sementara semenjak pagi Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong telah duduk bersila di antara sekelompok bunga mawar, dan seperti ketika dia bersila di bawah batu pedang, kini pedang Siang-bhok-kiam juga terletak di depan kedua lututnya. Ia duduk bersila tak bergerak, dengan kedua mata dipejamkan, hening tenggelam ke dalam samadhi. Tiba-tiba daun telinga kiri kakek ini bergerak dan perlahan-lahan dia mengejapkan matanya. Ia mengerutkan keningnya ketika mencurahkan perhatian dengan pendengarannya. Kakek ini mempunyai kebiasaan yang aneh, yaitu apabila mendengar sesuatu yang mengesankan, daun telinga kirinya dapat bergerak seperti telinga kelinci! Kalau dia sedang samadhi,biarpun ada suara halilintar menyambar diatas kepalanya, dia tidak akan terkejut atau mempedulikan, akan tetap tenang dalam siulannya. Akan tetapi sekali ini, dia sadar dari siulannya (samadhi) karena mendengar tiupan suling yang amat merdu! Suara yang mengandung getaran mengharukan, yang amat halus seolah-olah hembusan angin padda ujung daun-daun bambu. Karena Sin-jiu Kiam-ong memang amat suka mendengar suara suling, maka suara suling penuh getaraan halus ini lebih kuat pengaruhnya daripada ledakan halilintar, menggugahnya dari samadhi dan membuat kakek ini ingin sekali mengetahui siapa gerangan yang dapat meniup suling seindah itu! Jantungnya berdebar. Kalau peniup suling ini seorang di antara lawan yang hari ini akan mendatanginya, berarti dia akan berhadapan dengan seorang yang amat sakti. Hanya orang sakti yang sudah tinggi tingkat kebatinannya saja yang akan mampu meniup seindah dan sebersih itu, dengan getaran-getaran aseli dari watak yang belum dikotori segala macam nafsu duniawi. Saking tertaraiknya, kakek ini bangkit berdiri, menyambar pedang kayunya lalu seringan burung terbang tubuhnya melayang ke arah luar hutan dari mana tiupan suling datang. Episode 11 Ketika tiba di luar hutan dan melihat bahwa yang meniup suling adalah seorang bocah yang duduk diatas punggung seekor kerbau besar, begitu penuh kedamaian dan ketenangan, sejenak Sin-jiu Kiam-ong tercengang kagum. Kemudian dia menghela napas panjang dan berbisik. "Engkau telah menjadi pikun, terlalu tua! Dimana bisa terdapat orang begitu bersih hatinya sehingga tercermin pada tiupan sulingnya? Hanya seorang bocah yang akan sanggup meniup suling seperti itu. Di dunia ini mana terdapat orang yang hatinya bersih melebihi hati seorang bocah?" Ia lalu melangkah masuk ke dalam hutan mawar kembali sambil menggeleng-geleng kepala dan mencela kebodohan sendiri. Tak lama kemudian dia sudah susuk bersila lagi, akan tetapi sekali ini dia tidak bersamadhi, melainkan memasang pendengarannya menikmati alunan lagu yang terhembus keluar dari lubang-lubang suling. Kakek ini tahu bahwa berturut-turut telah datang sembilan orang sakti yang sebulan yang lalu telah mengunjunginya di Kiam-kok-san, akan tetapi dia tidak perduli, bahakan pura-pura tidak tahu dan masih menikmati alunan suara suling yang terdengar sayup sampai. Ia seperti orang terpesona dan tenggelam dalam hikmat suara itu, yang membawanya melayang-layang kemblai kepada masa mudanya dan diam-diam dia menyesali diri sendiri. Sungguh dia harus merasa malu bahwa diambang kematiannya, karena memang dia telah mangambil keputusan untk menyerahkan nyawanya tanpa melawan kepada sembilan orang ini, belum pernah dia melakukan jasa sedikit pun selama hidupnya. Bahkan sebaliknya, dia selalu hidup mengejar kesenangan, bergelimang dalam cinta kasihnya dengan banyak waita yang dibalasnya hanya karena dorongan nafsu berahi. Belum pernah selama hidupnya dia menjatuhkan hati, mencinta seorang wanita dengan murni. Betapa dia hidup secara berandalan, tidak mau membedakan antara baik dan buruk, ugal-ugalan, merampas kitab-kitab dan benda-benda pusaka, mendatangi jagaoan-jagoan hanya untuk memuaskan nafsunya ingin menang, menyerbu partai-partai persilatan untuk mengalahkan ketua-ketuanya. Sungguhpun dia semenjak dahulu selalu tidak mempunyai niat menjahati orang lain, anamun wataknya yang ugal-ugalan tanpa dia sadari telah menyakitkan hati banyak orang. Kini datanglah penyesalan dan makin dia perhatikan suara suling yang mengalun merdu itu makin terharulah haitnya. Perlahan-lahan suara suling itu makin melemah, kemudian terhenti seolah-olah peniupnya sudah merasa bosan dan lelah, seperti dia yang merasa bosan untuk hidup lebih lama lagi, sudah lelah untuk berurusan dengan dunia yang lebih banyak deritanya daripada senangnya. Setelah suara suling terhenti, Sin-jiu Kiam-ong mengangkat mukanya. Pandang matanya menyapu para pengunjung yang sudah berdiri berjajar di depannya dalam keadaan siap siaga, dengan senjata di tangan masing-masing karena mereka itu kini datang untuk bertindak, bukan untuk bicara lagi. Semua mata sembilan orang itu ditujukan ke arah Siang-bhok-kiam yang menjadi pusat perhatian dan yang sesungguhnya merupakan sebab utama kunjungan mereka. "Ahhh, kalian sudah datang? Nah, aku pun sudah siap. Sekarang aku tidak akan melawan san kalau hendak bunuh aku, lakukanlah cepat-cepat. Akan tetapi, karena yang membunuhku berhak memiliki Siang-bhok-kiam maka lebih dahulu hendak kujelaskan kegunaan pedang ini." Kakek itu mengambil pedang kayu dari depannya. Pedang ini terbuat dari kayu yang jarang terdapat di dunia ini, karena kayu itu adalah kayu harum yang terdapat di dekat Puncak Pegunungan Himalaya di dunia barat. Dalam perantauannya, Sin-jiu Kiam-ong mandapatkan pedang itu sebagai anugerah dari seorang pertapa India yang sudah mendekati saat terakhir. Kayu dari sebatang pohon yang mungkin hanya ada beberapa batang saja di seluruh puncak Himalaya. Kayu yang amat harum baunya, dan keras laksana baja. Akan tetapi selain harum juga kayu ini merupakan obat penlak segala pengaruh racun. Barang beracun apa saja apabila tersentuh kayu ini seolah-olah terhisap racunnya dan tidak berbahaya lagi. "Siang-bhok-kiam ini adalah sahabatku selama puluhan tahun," ia berkata sambil menarik napas panjang dan mencium pedang itu dengan ujung hidungnya. "Bukan hanya merupakan pedang wasiat yang amat keramat, juga pemilik pedang ini akan dapat membuka rahasia tempat penyimpanan seluruh milikku, dari kitab-kitab pusaka berisi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi sampai simpanan perhiasan-perhiasan berharga dan senjata-senjata mustika. Betapapun juga hanya dia yang berjodoh saja agaknya yang akan dapat memiliki semua itu melalui pedang ini. Akan tetapi kalian harus ingat baik-baik, karena kalian semua menghendaki pedang ini, maka kurasa siapapun di antara kalian tidak akan mudah membunuhku sungguhpun aku berjanji takkan melawan dengan sebuah jari tanganku. Nah, aku sudah siap, siapa mau turun tangan merampas pedang, lakukanlah, aku tidak akan menghalangi!" Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong menaruh pedang itu kembali ke depan kakinya diatas tanah lalu bersedekap dan memejamkan matanya. Mulutnya tersenyum iklas, sama iklasnya dengan hatinya yang telah bulat menyambut datangnya maut. "Sie Cun Hong, aku maafkan dosamu asal kau memberikan pedang itu kepadaku!" terdengar teriakan Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu yang disusul bunyi "tar-tar-tar!" nyaring sekali. Sinar-sinar hitam manyambar karena sembilan ujung cambuk yang mempunyai kaitan-kaitan itu telah menyambar ke arah peddang kayu di depan Sin-jiu Kiam-ong. "Trang-trang-trang....!" Bunga api berpijar dan kesembilan "ekor" cambuk terpental. "Kalian mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio marah dan mukanya menjadi merah, matanya mendelik memandang ke arah delapan orang lain yang telah maju menangkis cambuknya. "Hemmm, bukan engkau saja yang membutuhkan pedang Siang-bhok-kiam, KIu-bwe Toanio, kami pun memerlukannya!" Ucapan ini keluar dari mulut Coa Kiu kakek tokoh Hoa-san-pai dan secepat kilat Coa Kiu dan Coa Bu, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam telah menggerakkan pedang mereka menjadi sebuah sinar panjang dan kuat menuju ke arah Siang-bhok-kiam dengan maksud mendahului dan merampas pedang kayu itu sebelum yang lain sempat bergerak. "Trang-trang...!!" Kembali sinar pedang yang kuat ini terpental karena ditankis oleh banyak senjata. "Ho-ho-ho, Hoa-san Siang-sin-kiam, jangan tergesa-gesa! Pinceng juga butuh.........!" Thian Kek Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang berkulit hitam itu mengejek. Senyum di bibir Sin-jiu Kiam-ong melebar dan kini sembilan orang yang saling pandang itu mengerutkan kening. Baru mereka ketahui apa artinya ucapan Sin-jiu Kiam-ong tadi yang mengatakan bahwa siapapun di antara mereka takkan mudah membunuh kakek itu biarpun si kakek tidak melawannya. Kiranya kakek itu sudah dapar menduga lebih dulu bahwa di antara sembilan orang ini tentu akan terjadi perebutan! Episode 12 Sementara itu, di balik sebatang pohon besar bersembunyi Keng Hong. Bocah ini tadinya meniup suling diatas punggung kerbau dan memasuki hutan sambil melanjutkan meniup sulingnya perlahan-lahan. Setelah tiba di tengah hutan, dia terpaksa menghentikan tiupan sulingnya yang tadi dilakukan hanya untuk menentramkan hatinya yang berdebar-debar dan dia menyelinap di antara pohon-pohon ketika melihat banyak orang berdiri di lapangan terbuka di hutan mawar itu. Sambil menahan nafas dia menonton dan mendengarkan seluruh percakapan. Diam-diam timbul rasa suka dan kasihan di hatinya terhadap kakek aneh yang duduk bersila, apalagi setelah dia mendengar ucapan kakek itu seolah-olah telah menyerahkan nyawanya kepada sembilan orang yang sikapnya mengancam itu. Dan pada saat yang sama timbul rasa tidak suka kepada mereka. Dia sudah banyak membaca tentang watak orang-orang budiman, bijaksana dan gagah perkasa, watak para pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan. Akan tetapi sembilan orang itu hendak mengeroyok seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melakukan perlawanan. Alangkah picik dan hina! Sembilan orang itu kini saling berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Tak seorangpun di antara mereka mengeluarkan kata-kata, namun pandang mata mereka sudah menyatakan perasaan mereka dengan jelas dan seluruh urat syaraf di tubuh sudah menegang, siap menggempur lawan untuk memperebutkan pedang pusaka yang amat mereka inginkan itu. Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang dan berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa. "Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu saja amat sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita semua membuktikan, siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh memiliki Siang-bhok-kiam." Setelah berkata demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan "singgg!" terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk baja yang tipis dan halus. Kiranya sabuk ini merupakan senjata istimewa tosu itu, dimainkan seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam. Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil memutar sabuk itu diatas kepala, lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh Ilmu Ang-liong-jiauw-kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai daripada sabuk baja itu sendiri! "Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio yang beralis putih kepada sutenya sambil memutar tongkat yang dibawanya. Bukan tongkat sembarangan tongkat, karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-cu-pang (Tongkat Mustika Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan beratnya tidak akan kurang dari dua ratus kati! Sutenya, si tinggi besar berkulit hitam Thian Kek Hweiso sudah mengeluarkan suara gerengan dan begitu dia menggerakkan tangan kanan terdengar suara "Wuuuuttt....!" dan angin keras menyambar. Kiranya dia telah melolos jubah yang dipakainya tadi dan kini jubah itu telah dia pegang ujungnya. Jangan dianggap ringan senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya menandingi pedang! Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Ia melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di mulutnya jelas mengandung ejekan, seolah-olah kakek itu menahan rasa geli dan memaksa diri tidak tertawa bergelak. Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa menyaksikan tingkah laku sembilan orang itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu malu atau seperti segerombolan anjing hendak memperebutkan tulang. Dari tempat dia sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti sepotong tulang saja. Akan tetapi mana mungkin dia bisa tertawa menyaksikan sembilan orang itu kini telah mengeluarkan senjata semua? Di lain saat, pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika terdengar suara desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebatan. Dia ternganga keheranan dan hampir tak dapat mempercayai ddan hampir tak dapat mempercayai pandang matanya sendiri sembilan orang-orang tua itu telah lenyap tubuhnya dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan dibungkus sinar bermacam-macam, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada suara meledak-ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti disitu terdapat banyak pandai besi bekerja! Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas tampak kakek tua renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu masih menggeletak mati di depan kakinya. Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing ditujukan untuk mencegah lain orang merampas pedang maka sampai lama tidak ada korban yang jatuh, apalagi karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Tanpa mereka sadari , mereka itu saling bantu dalam pertempuran kacau-balau itu. Biarpun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya pertandingan dan hatinya terpingkal-pingkal, akan tetapi juga mata hatinya terbuka lebar. Beginilah watak manusia di seluruh jagat, pikirnya. Pertempuran antara tokoh besar ini mencerminkan keadaan di dunia, mencerminkan watak manusia yang amat bodoh dan lucu, seolah-olah manusia di dunia ini memainkan peran badut yang menggelikan! Manusia di dunia ini selalu saling hantam, saling memperebutkan demi pemuasan nafsu pribadi yang mereka sebut cita-cita. Padahal, hakekatnya mereka itu hanya memperebutkan kedudukan, atau nama, atau harta, atau pemuasan nafsu. Untuk mencapai "cita-cita" ini, mereka tidak segan-segan untuk saling menjatuhkan fitnah, saling mengejek, saling menyalahkan, saling menipu, saling merugikan dan kalau perlu saling membunuh! Yang besar melahap yang kecil, yang kecil mencaplok yang lebih kecil lagi sedangkan yang besar dilalap yang lebih besar lagi! Kedudukan, kemuliaan, nama besar, harta benda, benda-benda indah, wanita cantik diperebutkan secara tak kenal malu seolah-olah kesemuanya itu akan mendatangkan bahagia dalam hidup masing-masing. Padahal, dan ini sudah dialami oleh Sin-jiu Kiam-ong selama petualangannya puluhan tahun, kesemuanya itu kosong belaka. Kesemuanya itu akan musnah kenikmatannya setelah didapatkannya, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan terlalu sering sekali mendatangkan kepahitan malah. Karena yang menang akan mabuk dan diintai mata dan hati si kala yang penuh iri dan dendam, yang kala akan mabuk oleh dendam dan penasaran sehingga mencari segala daya upaya untuk menjatuhkan kembali yang menang! Kakek ini seolah-olah dapat melihat betapa yang akhirnya mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam selalu akan dirundung malang, selalu dimusuhi, dikejar-kejar. Ingin dia tertawa kalau memikirkan hal ini!

naruto

naruto
naruto

Daftar Blog Saya

naruto

naruto
Powered By Blogger