naruto

naruto

Senin, 26 November 2012

pendekar kayu harum

Episode 10 Karena penolakannya ini, Keng Hong yang sudah tidak mempunyai keluarga itu bekerja sebagai seorang kacung. Dia rajin sekali, semua pekerjaan dia pegang, apa saja yang diperlukan, tanpa diperintah dia kerjakan. Mengisi tempat air, membersihkan kuil, menyapu lantai dan kebun, merawat bunga, bahkan menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah, semua dia kerjakan dengan tekun dan rajin. Di malam hari, karena para tosu yang sayang kepadanya membolehkannya, dia memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab. Semenjak kecil, di rumah ayahnya dahulu, Keng Hong telah mempelajari ilmu kesusasteraan sesuai dengan kehendak ayahnya yang ingin melihat dia kelak menjadi seorang terpelajar agar dapat memperoleh kedudukan tinggi. Kitab-kitab tentang filsafat kebatinan, pelajaran-pelajaran Tao, juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kun-lun, semua dia baca. Tentu saja karena tidak ada gurunya, dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya. Kerajinannya dan sifatnya yang pendiam membuat para tosu suka kepadanya. Bahkan Thian Seng Cinjin sendiri yang melihat sifat-sifat baik anak ini, memujinya dan diam-diam merasa kecewa mengapa anak yang berbakat baik ini tidak suka menjadi calon tosu. Di lain fihak, Keng Hong paling segan dan takut melihat Thian Seng Cinjin. Ia melihat sesuatu yang aneh dan penuh wibawa pada diri tosu tua ini, baik gerak-geriknya, dari suaranya dan terutama sekali dari pandang matanya yang tenang penuh kesabaran dan seolah-olah dapat menjenguk isi hatinya itu. Dia sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika Thian Seng Cinjin dan anak muridnya berkumpul di ruangan belajar. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara, maka Keng Hong dapat melihat dan mendengar semua. Suasana di ruangan belajar itu amat hening dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan kesungguhan, membuat Keng Hong makin hati-hati agar tidak mengganggu, namun dia kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar hal-hal yang amat menarik hatinya. Ia mendengarkan terus. "Suhu, di puncak Kiam-kok-san telah terjadi keributan," demikian Kiang Tojin, penolongnya dan merupakan tosu yang paling dihormati dan dicintai Keng Hong, berkata melapor. "Agaknya Sin-jiu Kiam-ong sudah kumat lagi watak mudanya yang suka akan keributan. Menurut pelaporan para murid Suhu, ada sembilan orang tokoh kang-ouw, termasuk dua orang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang tokoh Hoa-san-pai dan seorang tosu Kong-thong-pai, mendatanginya untuk minta pedang Siang-bhok-kiam. Mereka dilayani oleh Sin-jiu Kiam-ong yang berjanji sebulan lagi akan menanti mereka di hutan mawar sebelah selatan di kaki gunung. Mohon keputusan Suhu karena keributan ini terjadi di wilayah kita." "Siancai..., siancai....! Sie-taihiap (pendekar besar she sie) semenjak dahulu selalu mengejar kesenangan dan ketegangan. Namun harus diakui bahwa di balik kebiasaannya yang buruk itu tersembunyi watak pendekar yang patut dipuji. Kita orang-orang Kun-lun-pai bukan merupakan golongan yang tak kenal budi. Sie-taihiap pernah menanam budi kepada kita maka kita membolehkan dia bertapa di Kiam-kok-san yang merupakan tempat suci bagi kita karena dahulu sucouw(Kakek guru) kita memilih tempat itu sebagai tempat bertapa sampai musnah dari dunia. Kini Sie-taihiap mengundang keributan, biarlah kita tidak mencampurinya. Pinto melarang seorang pun murid Kun-lun-pai untuk ikut campur tangan dan biarlah Sie-taihiap menyelesaikan urusannya sebagaimana yag dia kehendaki." Mendengar percakapan mereka tentang Sin-jiu Kiam-ong yang berwatak aneh, Keng Hong menjadi tertarik sekali. Sudah banyak dia membaca tentang keanehan para pendekar. biarpun Kun-lun-pai merupakan pusat pendekar-pendekar sakti dan dia pun maklum bahwa Kiang Tojin penolongnya adalah seorang berilmu tinggi, apalagi guru penolongnya itu tentu seorang yang sakti, namun mereka tak memperlihatkan kepandaian mereka dan hidup sebagai pertapa-pertapa dan petani-petani biasa. Maka kini mendengar akan Sin-jiu Kiam-ong yang hendak menghadapi lawan-lawan sakti di kaki gunung sebelah selatan, di dalam hutan mawar, dia menjadi ingin sekali menonton. Demikianlah, pada hari yang ditentukan sebulan sesudah pertemuan di puncak yang disebut puncak Lembah Pedang, Keng Hong menggembala kerbaunya di luar hutan mawar. Biasanya kalau dia menggembala kerbau yang enam ekor banyaknya itu. Akan tetapi sekali ini dia sengaja menggiring kerbaunya turun ke selatan dan membiarkan kerbaunya itu makan rumput hijau gemuk di luar hutan mawar. Agar tidak kelihatan bahwa dia sengaja datang ke tempat itu untuk menonton pertemuan orang-orang sakti seperti yang dia ketahui dari percakapan ketua Kun-lun-pai dan murid-muridnya, dia berbaring menelungkup di atas punggung kerbau yang terbesar sambil meniup-niup suling bambu yang dibawanya. Keng-Hong memiliki kepandaian istimewa dalam meniup suling, bahkan sejak kecil dia bermain suling, pandai meniup suling menirukan suara ayam dan burung-burung. Juga dengan tiupan sulingnya dia dapat merangkai suara-suara indah dan menciptakan lagu-lagu yang sungguhpun dirangkai sejadinya namun amat sedap didengar. Sementara semenjak pagi Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong telah duduk bersila di antara sekelompok bunga mawar, dan seperti ketika dia bersila di bawah batu pedang, kini pedang Siang-bhok-kiam juga terletak di depan kedua lututnya. Ia duduk bersila tak bergerak, dengan kedua mata dipejamkan, hening tenggelam ke dalam samadhi. Tiba-tiba daun telinga kiri kakek ini bergerak dan perlahan-lahan dia mengejapkan matanya. Ia mengerutkan keningnya ketika mencurahkan perhatian dengan pendengarannya. Kakek ini mempunyai kebiasaan yang aneh, yaitu apabila mendengar sesuatu yang mengesankan, daun telinga kirinya dapat bergerak seperti telinga kelinci! Kalau dia sedang samadhi,biarpun ada suara halilintar menyambar diatas kepalanya, dia tidak akan terkejut atau mempedulikan, akan tetap tenang dalam siulannya. Akan tetapi sekali ini, dia sadar dari siulannya (samadhi) karena mendengar tiupan suling yang amat merdu! Suara yang mengandung getaran mengharukan, yang amat halus seolah-olah hembusan angin padda ujung daun-daun bambu. Karena Sin-jiu Kiam-ong memang amat suka mendengar suara suling, maka suara suling penuh getaraan halus ini lebih kuat pengaruhnya daripada ledakan halilintar, menggugahnya dari samadhi dan membuat kakek ini ingin sekali mengetahui siapa gerangan yang dapat meniup suling seindah itu! Jantungnya berdebar. Kalau peniup suling ini seorang di antara lawan yang hari ini akan mendatanginya, berarti dia akan berhadapan dengan seorang yang amat sakti. Hanya orang sakti yang sudah tinggi tingkat kebatinannya saja yang akan mampu meniup seindah dan sebersih itu, dengan getaran-getaran aseli dari watak yang belum dikotori segala macam nafsu duniawi. Saking tertaraiknya, kakek ini bangkit berdiri, menyambar pedang kayunya lalu seringan burung terbang tubuhnya melayang ke arah luar hutan dari mana tiupan suling datang. Episode 11 Ketika tiba di luar hutan dan melihat bahwa yang meniup suling adalah seorang bocah yang duduk diatas punggung seekor kerbau besar, begitu penuh kedamaian dan ketenangan, sejenak Sin-jiu Kiam-ong tercengang kagum. Kemudian dia menghela napas panjang dan berbisik. "Engkau telah menjadi pikun, terlalu tua! Dimana bisa terdapat orang begitu bersih hatinya sehingga tercermin pada tiupan sulingnya? Hanya seorang bocah yang akan sanggup meniup suling seperti itu. Di dunia ini mana terdapat orang yang hatinya bersih melebihi hati seorang bocah?" Ia lalu melangkah masuk ke dalam hutan mawar kembali sambil menggeleng-geleng kepala dan mencela kebodohan sendiri. Tak lama kemudian dia sudah susuk bersila lagi, akan tetapi sekali ini dia tidak bersamadhi, melainkan memasang pendengarannya menikmati alunan lagu yang terhembus keluar dari lubang-lubang suling. Kakek ini tahu bahwa berturut-turut telah datang sembilan orang sakti yang sebulan yang lalu telah mengunjunginya di Kiam-kok-san, akan tetapi dia tidak perduli, bahakan pura-pura tidak tahu dan masih menikmati alunan suara suling yang terdengar sayup sampai. Ia seperti orang terpesona dan tenggelam dalam hikmat suara itu, yang membawanya melayang-layang kemblai kepada masa mudanya dan diam-diam dia menyesali diri sendiri. Sungguh dia harus merasa malu bahwa diambang kematiannya, karena memang dia telah mangambil keputusan untk menyerahkan nyawanya tanpa melawan kepada sembilan orang ini, belum pernah dia melakukan jasa sedikit pun selama hidupnya. Bahkan sebaliknya, dia selalu hidup mengejar kesenangan, bergelimang dalam cinta kasihnya dengan banyak waita yang dibalasnya hanya karena dorongan nafsu berahi. Belum pernah selama hidupnya dia menjatuhkan hati, mencinta seorang wanita dengan murni. Betapa dia hidup secara berandalan, tidak mau membedakan antara baik dan buruk, ugal-ugalan, merampas kitab-kitab dan benda-benda pusaka, mendatangi jagaoan-jagoan hanya untuk memuaskan nafsunya ingin menang, menyerbu partai-partai persilatan untuk mengalahkan ketua-ketuanya. Sungguhpun dia semenjak dahulu selalu tidak mempunyai niat menjahati orang lain, anamun wataknya yang ugal-ugalan tanpa dia sadari telah menyakitkan hati banyak orang. Kini datanglah penyesalan dan makin dia perhatikan suara suling yang mengalun merdu itu makin terharulah haitnya. Perlahan-lahan suara suling itu makin melemah, kemudian terhenti seolah-olah peniupnya sudah merasa bosan dan lelah, seperti dia yang merasa bosan untuk hidup lebih lama lagi, sudah lelah untuk berurusan dengan dunia yang lebih banyak deritanya daripada senangnya. Setelah suara suling terhenti, Sin-jiu Kiam-ong mengangkat mukanya. Pandang matanya menyapu para pengunjung yang sudah berdiri berjajar di depannya dalam keadaan siap siaga, dengan senjata di tangan masing-masing karena mereka itu kini datang untuk bertindak, bukan untuk bicara lagi. Semua mata sembilan orang itu ditujukan ke arah Siang-bhok-kiam yang menjadi pusat perhatian dan yang sesungguhnya merupakan sebab utama kunjungan mereka. "Ahhh, kalian sudah datang? Nah, aku pun sudah siap. Sekarang aku tidak akan melawan san kalau hendak bunuh aku, lakukanlah cepat-cepat. Akan tetapi, karena yang membunuhku berhak memiliki Siang-bhok-kiam maka lebih dahulu hendak kujelaskan kegunaan pedang ini." Kakek itu mengambil pedang kayu dari depannya. Pedang ini terbuat dari kayu yang jarang terdapat di dunia ini, karena kayu itu adalah kayu harum yang terdapat di dekat Puncak Pegunungan Himalaya di dunia barat. Dalam perantauannya, Sin-jiu Kiam-ong mandapatkan pedang itu sebagai anugerah dari seorang pertapa India yang sudah mendekati saat terakhir. Kayu dari sebatang pohon yang mungkin hanya ada beberapa batang saja di seluruh puncak Himalaya. Kayu yang amat harum baunya, dan keras laksana baja. Akan tetapi selain harum juga kayu ini merupakan obat penlak segala pengaruh racun. Barang beracun apa saja apabila tersentuh kayu ini seolah-olah terhisap racunnya dan tidak berbahaya lagi. "Siang-bhok-kiam ini adalah sahabatku selama puluhan tahun," ia berkata sambil menarik napas panjang dan mencium pedang itu dengan ujung hidungnya. "Bukan hanya merupakan pedang wasiat yang amat keramat, juga pemilik pedang ini akan dapat membuka rahasia tempat penyimpanan seluruh milikku, dari kitab-kitab pusaka berisi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi sampai simpanan perhiasan-perhiasan berharga dan senjata-senjata mustika. Betapapun juga hanya dia yang berjodoh saja agaknya yang akan dapat memiliki semua itu melalui pedang ini. Akan tetapi kalian harus ingat baik-baik, karena kalian semua menghendaki pedang ini, maka kurasa siapapun di antara kalian tidak akan mudah membunuhku sungguhpun aku berjanji takkan melawan dengan sebuah jari tanganku. Nah, aku sudah siap, siapa mau turun tangan merampas pedang, lakukanlah, aku tidak akan menghalangi!" Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong menaruh pedang itu kembali ke depan kakinya diatas tanah lalu bersedekap dan memejamkan matanya. Mulutnya tersenyum iklas, sama iklasnya dengan hatinya yang telah bulat menyambut datangnya maut. "Sie Cun Hong, aku maafkan dosamu asal kau memberikan pedang itu kepadaku!" terdengar teriakan Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu yang disusul bunyi "tar-tar-tar!" nyaring sekali. Sinar-sinar hitam manyambar karena sembilan ujung cambuk yang mempunyai kaitan-kaitan itu telah menyambar ke arah peddang kayu di depan Sin-jiu Kiam-ong. "Trang-trang-trang....!" Bunga api berpijar dan kesembilan "ekor" cambuk terpental. "Kalian mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio marah dan mukanya menjadi merah, matanya mendelik memandang ke arah delapan orang lain yang telah maju menangkis cambuknya. "Hemmm, bukan engkau saja yang membutuhkan pedang Siang-bhok-kiam, KIu-bwe Toanio, kami pun memerlukannya!" Ucapan ini keluar dari mulut Coa Kiu kakek tokoh Hoa-san-pai dan secepat kilat Coa Kiu dan Coa Bu, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam telah menggerakkan pedang mereka menjadi sebuah sinar panjang dan kuat menuju ke arah Siang-bhok-kiam dengan maksud mendahului dan merampas pedang kayu itu sebelum yang lain sempat bergerak. "Trang-trang...!!" Kembali sinar pedang yang kuat ini terpental karena ditankis oleh banyak senjata. "Ho-ho-ho, Hoa-san Siang-sin-kiam, jangan tergesa-gesa! Pinceng juga butuh.........!" Thian Kek Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang berkulit hitam itu mengejek. Senyum di bibir Sin-jiu Kiam-ong melebar dan kini sembilan orang yang saling pandang itu mengerutkan kening. Baru mereka ketahui apa artinya ucapan Sin-jiu Kiam-ong tadi yang mengatakan bahwa siapapun di antara mereka takkan mudah membunuh kakek itu biarpun si kakek tidak melawannya. Kiranya kakek itu sudah dapar menduga lebih dulu bahwa di antara sembilan orang ini tentu akan terjadi perebutan! Episode 12 Sementara itu, di balik sebatang pohon besar bersembunyi Keng Hong. Bocah ini tadinya meniup suling diatas punggung kerbau dan memasuki hutan sambil melanjutkan meniup sulingnya perlahan-lahan. Setelah tiba di tengah hutan, dia terpaksa menghentikan tiupan sulingnya yang tadi dilakukan hanya untuk menentramkan hatinya yang berdebar-debar dan dia menyelinap di antara pohon-pohon ketika melihat banyak orang berdiri di lapangan terbuka di hutan mawar itu. Sambil menahan nafas dia menonton dan mendengarkan seluruh percakapan. Diam-diam timbul rasa suka dan kasihan di hatinya terhadap kakek aneh yang duduk bersila, apalagi setelah dia mendengar ucapan kakek itu seolah-olah telah menyerahkan nyawanya kepada sembilan orang yang sikapnya mengancam itu. Dan pada saat yang sama timbul rasa tidak suka kepada mereka. Dia sudah banyak membaca tentang watak orang-orang budiman, bijaksana dan gagah perkasa, watak para pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan. Akan tetapi sembilan orang itu hendak mengeroyok seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melakukan perlawanan. Alangkah picik dan hina! Sembilan orang itu kini saling berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Tak seorangpun di antara mereka mengeluarkan kata-kata, namun pandang mata mereka sudah menyatakan perasaan mereka dengan jelas dan seluruh urat syaraf di tubuh sudah menegang, siap menggempur lawan untuk memperebutkan pedang pusaka yang amat mereka inginkan itu. Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang dan berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa. "Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu saja amat sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita semua membuktikan, siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh memiliki Siang-bhok-kiam." Setelah berkata demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan "singgg!" terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk baja yang tipis dan halus. Kiranya sabuk ini merupakan senjata istimewa tosu itu, dimainkan seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam. Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil memutar sabuk itu diatas kepala, lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh Ilmu Ang-liong-jiauw-kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai daripada sabuk baja itu sendiri! "Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio yang beralis putih kepada sutenya sambil memutar tongkat yang dibawanya. Bukan tongkat sembarangan tongkat, karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-cu-pang (Tongkat Mustika Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan beratnya tidak akan kurang dari dua ratus kati! Sutenya, si tinggi besar berkulit hitam Thian Kek Hweiso sudah mengeluarkan suara gerengan dan begitu dia menggerakkan tangan kanan terdengar suara "Wuuuuttt....!" dan angin keras menyambar. Kiranya dia telah melolos jubah yang dipakainya tadi dan kini jubah itu telah dia pegang ujungnya. Jangan dianggap ringan senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya menandingi pedang! Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Ia melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di mulutnya jelas mengandung ejekan, seolah-olah kakek itu menahan rasa geli dan memaksa diri tidak tertawa bergelak. Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa menyaksikan tingkah laku sembilan orang itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu malu atau seperti segerombolan anjing hendak memperebutkan tulang. Dari tempat dia sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti sepotong tulang saja. Akan tetapi mana mungkin dia bisa tertawa menyaksikan sembilan orang itu kini telah mengeluarkan senjata semua? Di lain saat, pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika terdengar suara desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebatan. Dia ternganga keheranan dan hampir tak dapat mempercayai ddan hampir tak dapat mempercayai pandang matanya sendiri sembilan orang-orang tua itu telah lenyap tubuhnya dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan dibungkus sinar bermacam-macam, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada suara meledak-ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti disitu terdapat banyak pandai besi bekerja! Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas tampak kakek tua renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu masih menggeletak mati di depan kakinya. Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing ditujukan untuk mencegah lain orang merampas pedang maka sampai lama tidak ada korban yang jatuh, apalagi karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Tanpa mereka sadari , mereka itu saling bantu dalam pertempuran kacau-balau itu. Biarpun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya pertandingan dan hatinya terpingkal-pingkal, akan tetapi juga mata hatinya terbuka lebar. Beginilah watak manusia di seluruh jagat, pikirnya. Pertempuran antara tokoh besar ini mencerminkan keadaan di dunia, mencerminkan watak manusia yang amat bodoh dan lucu, seolah-olah manusia di dunia ini memainkan peran badut yang menggelikan! Manusia di dunia ini selalu saling hantam, saling memperebutkan demi pemuasan nafsu pribadi yang mereka sebut cita-cita. Padahal, hakekatnya mereka itu hanya memperebutkan kedudukan, atau nama, atau harta, atau pemuasan nafsu. Untuk mencapai "cita-cita" ini, mereka tidak segan-segan untuk saling menjatuhkan fitnah, saling mengejek, saling menyalahkan, saling menipu, saling merugikan dan kalau perlu saling membunuh! Yang besar melahap yang kecil, yang kecil mencaplok yang lebih kecil lagi sedangkan yang besar dilalap yang lebih besar lagi! Kedudukan, kemuliaan, nama besar, harta benda, benda-benda indah, wanita cantik diperebutkan secara tak kenal malu seolah-olah kesemuanya itu akan mendatangkan bahagia dalam hidup masing-masing. Padahal, dan ini sudah dialami oleh Sin-jiu Kiam-ong selama petualangannya puluhan tahun, kesemuanya itu kosong belaka. Kesemuanya itu akan musnah kenikmatannya setelah didapatkannya, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan terlalu sering sekali mendatangkan kepahitan malah. Karena yang menang akan mabuk dan diintai mata dan hati si kala yang penuh iri dan dendam, yang kala akan mabuk oleh dendam dan penasaran sehingga mencari segala daya upaya untuk menjatuhkan kembali yang menang! Kakek ini seolah-olah dapat melihat betapa yang akhirnya mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam selalu akan dirundung malang, selalu dimusuhi, dikejar-kejar. Ingin dia tertawa kalau memikirkan hal ini!

pdk kayu haru

Episode 7 “Ah, betapa banyaknya orang-orang yang pada lahirnya berpura-pura menjadi orang suci namun batinnya kotor melebihi orang-orang yang mereka anggap sesat dan jahat. Karena pernyataan dan teguranku, mereka marah dan kami berkelahi. Di dalam perkelahian ada yang menang dan ada yang kalah, yang menang hidup yang kalah luka atau mati, apakah yang aneh dalam hal itu? Kalau Toyu menganggapnya suatu penasaran dan kini hendak mengulang kesalahan mereka, menantangku terserah." Wajah tosu itu menjadi merah, kemudian menjawab, suaranya keren, "Sebagai tokoh Kong-thong-pai, tak mungkin pinto mendengarkan keterangan satu fihak saja. Untuk minta keterangan anak murid kami yang tewas, tak mungkin. Yang jelas, anak murid Kong-thong-pai selalu menjunjung kebenaran, adapun nama Sin-jiu Kiam-ong, siapakah tidak mengenalnya dan mengetahui orang macam apa? Kami Kong-thong Ngo-lojin berkewajiban membela nama Kong-thong-pai. Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah dan mari kita mulai!" "Engkau yang berniat mengadu ilmu, engkaulah pula yang mulai, Toyu. Aku siap melayanimu!" Tosu ini melangkah maju. Ia bertangan kosong dan dia menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong sambil berkata, "Pinto menghormat usiamu yang lebih tua. Karena dahulu engkau membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dengan tangan kosong, sudah semestinya kalau kini pinto juga menghadapimu dengan tangan kosong. Kalau pinto kalah, biar lain kali kami dari Kong-thong-pai kembali lagi, kalau engkau yang kalah, pinto akan membawa pergi Siang-bhok-kiam sebagai tebusan dosa!" “Ha..ha..ha, selalu tersembunyi pamrih dalam setiap perbuatan, di mana-mana manusia sama, menjadi hamba nafsu pribadi. Silakan." Tosu itu mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, lalu kedua tangan yang dibuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara berkerotokan, tergetar hebat dan kedua tangan itu kini bentuknya seperti cakar naga dan kulit tangan itu berubah menjadi kemerahan! Inilah Ilmu Ang-liong-jiauw-kang (Ilmu Cakar Naga Merah) dari Kong-thong-pai yang sudah amat terkenal kedahsyatannya! Kabarnya, ilmu ini kalau sudah mencapai tingkat tinggi, menjadi amat hebat sehingga tangan berubah seperti baja panas. Tidak saja kuat untuk melawan senjata tajam lawan, juga kalau mengenai tubuh lawan menimbulkan luka-luka terbakar yang tak terobati lagi! Dengan beberapa langkah, tosu tua itu sudah berada di depan Sin-jiu Kiam-ong, kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka digerakkan ke depan, mengarah kepala dan dada kakek yang duduk bersila dengan tenangnya itu. "Bergeraklah! Lawanlah! Pinto bukan seorang pengecut yang menyerang orang yang tak mau melawan!" Kok Cin Cu berkata, suaranya nyaring dan kedua tangannya sudah menggetar-getar amat hebatnya. Sin-jiu Kiam-ong tersenyum. "Kiranya Kong-thong Ngo-lo-jin masih ingat akan watak pendekar. Sungguh menyenangkan sekali. Akan tetapi, sayang masih dikotori rasa tamak. Biarlah kusambut Ang-liong-jiauw-kang, karena inilah nama ilmumu, bukan?" Sambil berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong segera mengulur kedua lengannya dan sebelum tosu tua itu sempat bergerak, dia telah menempelkan kedua telapak tangan tosu yang kemerahan itu. "Wesssss....!" Sungguh luar biasa sekali. Begitu kedua telapak itu bertemu, terdengar suara seperti api membara bertemu benda basah dan tampak asap mengepul dari kedua pasang telapak tangan yang saling bertemu. Tosu tua itu merendahkan tubuh dan mengerahkan tenaga sinkang untuk memperkuat daya serang Ang-liong-jiauw-kang, namun sia-sia belaka karena kedua telapak tangannya yang tadinya panas itu makin lama menjadi makin dingin, bahkan rasa dingin seperti salju mulai menerobos masuk melalui kedua telapak tangannya, menjalar dari telapak tangan ke atas! Wajah tosu itu mulai berpeluh, matanya merah mulutnya terbuka karena nafasnya menjadi terengah-engah. Di lain pihak, Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum saja dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Tahulah Kok Cin Cu bahwa kalau dilanjutkan adu tenaga sinkang ini, dia akan roboh binasa. Terpaksa tosu tua ini lalu menarik kembali kedua tangannya dan pada saat yang bersamaan, Sin-jiu Kiam-ong yang tidak ingin membunuh orang juga menarik kedua tangannya. Kok Cin Cu melangkah mundur di tempat semula, tubuhnya menggigil dan sampai lama barulah dia dapat memulihkan keadaannya, lalu menjura dan membungkuk dan berkata dengan suara lemah. "Sungguh hebat kepandaian Sin-jiu Kiam-ong, terpaksa pinto mengaku kalah dan lain kali pinto akan datang kembali bersama para suheng." Melihat kekalahan tosu tua Kong-thong-pai, kini suami istri tua yang sejak tadi hanya menonton, melangkah maju. Mereka itu berusia tujuh puluh tahunan, dan si suami segera menudingkan telujuknya. "Sin-jiu Kiam-ong, masih ingatkah engkau kepada kami suami isteri yang pernah mengalami penghinaan darimu?" Kakek itu memandang kepada mereka, terutama kepada wanita tua yang berdiri tegak disamping suaminya, kemudian menjawab, "Pernah aku berjumpa dengan kalian, akan tetapi aku lupa lagi entah dimana. Yang sudah pasti, aku tidak pernah menganggu wanita itu, karena kalau hal itu terjadi, sampai kini pun aku tentu akan ingat dan mengenalnya." Merah wajah wanita itu dan kini ia mendamprat, "Tua bangka berhati cabul!" Akan tetapi suaminya cepat menyambung, "Sin-jiu Kiam-ong, dahulu kami mempunyai perusahaan pengawal barang kiriman. Lupakah engkau kepada Hek-houw-piauwkiok (Perusahaan Pengawal Macan Hitam)?" "Aha, sekarang aku ingat! Bukankah engkau orang she Tan yang menjadi kepala piauwkiok itu? Dan isterimu yang dahulu amat galak dan amat pandai menggunakan am-gi (senjata rahasia)? Hemmm, aku pernah merampas beberapa benda perhiasan indah yang kau kawal, perhiasan kiriman milik menteri keuangan kerajaan, bukan? Malah puterinya, ah masih ingat benar aku akan puteri menteri yang amat cantik manis itu, ia berkenan menemaniku di dalam hutan sampai dua hari dua malam! Aha, pengalaman yang takkan terlupakan olehku! Puteri yang cantik manis, dan dia memberikan tusuk konde dan tanda mata kepadaku. Tusuk konde dan perhiasan-perhiasan yang kurampas itu masih berada dalam kumpulan simpananku. Eh, Tan-piauwsu, kini engkau dan isterimu datang mau apakah?" Episode 8 "Sin-jiu Kiam-ong, di waktu muda, engkau melakukan segala macam kejahatan. Merampok barang milik pembesar tinggi, malah menodai puterinya, mencelakakan kami yang mengawal barang dan puteri. Masih hendak tanya mengapa kami datang? Rasakan pembalasan kami!" Piauwsu (pengawal barang) tua ini bersama isterinya menutup kata-katanya dengan gerakan tangan. Cepat sekali gerakan tangan mereka dan tampaklah benda-benda kecil menyambar ke depan dan tahu-tahu suami -isteri itu menyerang Sin-jiu Kiam-ong dengan senjata-senjata rahasia mereka. Piauwsu itu menggunakan dua macam senjata rahasia, yaitu piauw (pisau sambit) dan Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa), adapun isterinya mempergunakan Ngo-tok-ciam (Jarum Lima Racun) yang jauh lebih cepat dan lebih berbahaya daripada kedua macam am-gi (senjata gelap) suaminya. Belasan buah senjata rahasia itu menyambar ke bagian tubuh yang lemah, bahkan jarum-jarum halus itu mengarah jalan-jalan darah yang mematikan! Namun kakek tua renta itu sama sekali tidak menjadi gugup, hanya mengangkat kedua tangannya dan sepuluh batang jari tangannya bergerak-gerak seperti sepuluh ekor ular hidup, namun kuku-kuku jari tangan itu merupakan perisai yang tidak hanya menangkis semua senjata rahasia, bahkan dengan sentilan aneh dapat mengirim kembali senjata-senjata kecil itu ke arah penyerang-penyerangnya! Terjadilah hujan senjata rahasia dari kedua fihak, yang menyerang dan yang mengembalikan! "Sahabat-sahabat yang sealiran! Kalau hari ini kita tidak melenyapkan seorang oknum busuk, mau tunggu sampai kapan lagi? Mari kita basmi dia bersama-sama!" teriak Tan Kai Sek, piauw tua itu sambil terus menyerang dengan senjata rahasianya. Tujuh orang gagah yang lain setuju dengan ajakan ini. Mereka semua menaruh dendam kepada Sin-jiu Kiam-ong dan sudah jelas ternyata tadi bahwa kalau mereka hanya mengandalkan kepandaian sendiri, tidak akan mungkin dapat mengalahkan kakek sakti itu. Sambil menyatakan setuju mereka semua mencabut senjata dan menerjang maju! Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan kakek itu berkelebat ke atas dan ketika mereka memandang, kakek sakti itu bersama Siang-bhok-kiam telah lenyap. Kiranya kakek itu meloncat ke atas dan dengan amat cepatnya merayap naik ke atas batu pedang dan telah lenyap ke dalam awan atau halimun tebal yang menutup bagian atas batu pedang. Dari atas terdengar suaranya tertawa tergelak, seolah-olah suara ini datangnya dari langit karena tidak tampak orangnya yang tertutup oleh halimun tebal. "Ha..ha..ha, sembilan orang gagah yang berada di bawah! kalau aku tadi menghendaki, apa susahnya membunuh kalian dengan Siang-bhok-kiam? Dan kalau aku menyerahkan nyawa, alangkah mudahnya bagi kalian untuk membunuhku. Akan tetapi aku belum mau mati, karena dalam hari-hari terakhir ini aku masih ingin menikmati tamasya alam yang amat indahnya di Kiam-kok-san! Aku tidak mau membunuh kalian karena aku tidak ingin mengotori tempat seindah ini dengan darah kalian, dan aku belum mau mati karena aku masih ingin menikmati keindahan alam disini. Kalau kalian masih belum terima dan merasa penasaran, hayo siapa yang berani boleh naik!" Sembilan orang itu saling pandang dan tak seorang pun berani naik. Bagi mereka yang berilmu tinggi, kiranya tidaklah amat sukar untuk mendaki batu pedang itu ke atas, akan tetapi batu pedang itu tidak dapat didaki oleh mereka bersama-sama, harus seorang demi seorang. Dan kalau mereka mendaki seorang demi seorang, sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada kakek itu! Kembali terdengar suara ketawa dari atas. "Ha..ha..ha! Jangan kira aku amat pelit untuk menyerahkan nyawa dalam tubuh tua ini dan menyerahkan Siang-bhok-kiam. Kuminta waktu sebulan lamanya untuk menikmati tempat ini. Setelah sebulan, kalau kalian masih menghendaki nyawaku, datanglah ke kaki gunung, sebelah selatan, di dalam hutan mawar, disana aku menanti kalian bersama Siang-bhok-kiam!" Setelah terdengar suara ini, keadaan menjadi sunyi. Mereka menanti-nanti namun tidak ada suara lagi. Karena merasa tidak akan ada gunanya menanti, apalagi mencoba untuk mengejar kakek sakti itu ke atas puncak batu pedang yang ujungnya lenyap di balik halimun tebal, akhirnya sembilan orang gagah itu meninggalkan Kiam-kok-san dan berjanji dalam hati untuk mencari hutan mawar yang dimaksudkan si kakek sakti sebulan kemudian. *** Pada masa itu, kerajaan Beng (1368-1644) mengalami perpecahan dan perang saudara. Kerajaan Beng didirikan oleh Ciu Goan Ciang, yang berhasil mengusir pemerintah penjajah Goan (Mongol) dan kemudian menjadi Kaisar Kerajaan Beng pertama dengan julukan Kaisar Thai Cu (1368-1398). Peking (ibu kota utara) yang tadinya menjadi kota raja Kerajaan Mongol, oleh Kaisar Kerajaan Beng ini tidak dijadikan pusat kerajaan. Sebagai ibu kota dipilihnya Nan-king (ibu kota selatan) yang letaknya di lembah Sungai Yang-ce-kiang, di daerah yang lebih subur tanahnya. Namun Peking yang merupakan daerah pergolakan dan pangkalan penting untuk mempertahankan ancaman serangan balasan bangsa Mongol di utara yang telah diusir dari pedalaman, tetap dipertahankan dan di bekas kota raja Mongol ini diperkuat oleh bala tentara besar dan dipimpin oleh putera Kaisar Thai Cu sendiri, yaitu Yung Lo yang terkenal gagah perkasa dan pandai berperang. Perpecahan dalam kerajaan Beng yang baru ini terjadi setelah kaisar pertamanya meninggal. Kaisar Thai Cu meninggal dalam tahun 1398 dan karena putera sulung kaisar ini sudah meninggal dunia, maka sebelum meninggal Kaisar Thai Cu telah menunjuk keturunan dari putera sulungnya, jadi cucunya yang amat dikasihinya, untuk menggantikannya dan naik tahtah pada tahun berikutnya. Cucu ini yang merupakan kaisar ke dua dari kerajaan Beng bernama Hui Ti. Peristiwa inilah yang mengakibatkan perang saudara. Pangeran Yung Lo atau lebih tepat Raja Muda Yung Lo yang menguasai daerah pertahanan di Peking, tidak mau menerima pengangkatan keponakannya menjadi kaisar pengganti ayahnya. Dia merasa lebih berhak dan lebih berjasa. Oleh karena itu, Yung Lo membawa bala tentara dan menyerbu ke selatan, ke Nan-king. Terjadilah perang saudara. Perang saudara selalu mengerikan, dimana terjadi bunuh-membunuh antara saudara sendiri, antara bangsa sendiri. Rakyat pun terpecah-pecah dan saling hantam. Semua ini terjadi hanya karena ulah tingkah atasan yang memperebutkan kedudukan. Untuk mencapai cita-cita pribadi, rakyat dijadikan umpan, kedok, perisai dan senjata. Padahal kalau cita-cita sudah tercapai dan pribadinya dimabuk kemuliaan, kemewahan dan kesenangan, biasanya rakyat dilupakan begitu saja! Episode 9 Di bagian manapun di dunia ini, setiap kali terjadi perang, rakyat jelatalah yang menderita paling hebat. Di dalam masa yang keruh ini, bermunculan oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan melampiaskan nafsu-nafsu jahatnya. Perampokan-perampokan, penculikan dan fitnah yang diakhiri pelaksanaan hukum rimba bermunculan dimana-mana. Sudah lazim bahwa dalam setiap menghadapi sebuah peristiwa, bermacam-macamlah pendapat orang. Karena setiap buah kepala orang mengandung pendapat berlainan, bahkan celakanya berlawanan, maka inilah yang menjadi sebab timbulnya pertentangan yang mengakibatkan perpecahan dan keributan. Juga di dunia persilatan terjadi perpecahan sebagai akibat daripada pendapat yang berlawanan terhadap perang saudara yang timbul di kerajaan Beng yang baru itu. Ada yang pro utara (Raja Muda Yung Lo), ada pula yang pro selatan (Kaisar Hui To) maka diantara mereka terjadilah perang sendiri. Akan tetapi banyak pula golongan tokoh persilatan yang mengundurkan diri, tidak mau mencampuri segala pertentangan dan peperangan itu. Di antara mereka ini adalah Kun-lun-pai yang dipimpin oleh tosu-tosu yang insyaf akan buruknya pertentangan dan peperangan antara saudara sebangsa. Thian Seng Cinjin, tosu tua berusia seratus tahun yang pada waktu ini menjadi ketua Kun-lun-pai, mengeluarkan larangan keras bagi semua anak murid Kun-lun-pai untuk melibatkan diri dalam perang saudara itu. Bahkan ketua ini memanggil semua tokoh-tokoh Kun-lun-pai untuk diajak berkumpul di puncak Kun-lun yang menjadi pusat dari perkumpulan ini dan bersama-sama melakukan samadhi sebagai latihan dan sebagai keprihatinan, dan di samping ini, sang ketua memperdalam pengetahuan mereka tentang pelajaran dalam Agama To (Taoism). "Murid-murid Kun-lun-pai yang baik," demikian antara lain Thian Seng Cinjin berkata sambil memandang murid-muridnya yang duduk bersila di sekeliling depannya. "Dalam keadaan seperti sekarang ini, camkanlah pelajaran ke lima puluh tujuh." Kemudian kakek ini bersenandung membaca isi pelajaran yang mengandung makna dalam sekali. "Dengan keadilan negara dapat diatur dengan siasat peperangan dapat dilakukan, namun hanya dengan mengekang diri (tak bertindak) dunia dapat dimenangkan. Bagaimana kami tahu yang sedemikian itu? Karena ini: Makin banyak larangan orang makin menderita, makin banyak dipergunakan senjata, makin banyak timbul kekacauan, makin banyak kepintaran, makin banyak perbuatan yang aneh-aneh, makin banyak hukum diundangkan, makin banyak terjadi pelanggaran. Maka Orang Bijaksana berkata: Kami mengekang diri (tak bertindak), rakyat berubah ke arah kebaikan, kami suka akan ketenangan, rakyat tenteram dan damai. Kami tidak bertindak, rakyat hidup makmur, kami tidak berkehendak, rakyat pun bersahaja dan jujur. Selanjutnya dengan suara penuh kesabaran, Thian Seng Cinjin memberi wejangan kepada murid-murid Kun-lun-pai, menegaskan bahwa sebagai penganut To dan murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan bijaksana mereka harus menyerahkan segala peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran. Hanya bergerak untuk menghadapi dan menanggulangi keadaan sebagai akibat. Jangan sekali-kali menjadi sebab timbulnya sesuatu ketegangan. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap diam dan tidak mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi. Karena pendirian inilah maka Thian Seng Cinjin melarang murid-muridnya terlibat dalam perang saudara, karena sekali mereka turun tangan, mereka akan makin mengeruhkan suasana dan memperbesar penyembelihan antara saudara sebangsa. Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruangan belajar yang luas itu didengarkan penuh perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu dengan kain kuning. Anak laki-laki ini berusia kurang lebih dua belas tahun, berwajah tampan dan berpakaian sederhana, dari kain kasar. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya, karena pandang matanya amat tajam, dengan biji mata yang terang jarang bergerak, membayangkan pikiran yang dalam, pandangan luas dan penuh pengertian. Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini adalah Cia Keng Hong, dan sudah dua tahun dia berada di kuil itu. Dia adalah seorang anak yatim piatu, karena keluarganya, ayah-bundanya dan saudara-saudaranya, semua telah tewas ketika perang saudara mulai pecah. Mendiang ayahnya adalah seorang thungcu (lurah) di dusun Kwi-bun dan keluarga Cia ini terbasmi habis ketika gerombolan perampok yang muncul di waktu perang saudara ini menyerbu dan merampok serta membasmi seluruh penduduk Kwi-bun. Karena lurah dusun ini melakukan perlawanan, maka semua keluarganya terbasmi habis. Keng Hong yang kebetulan pada saat itu ikut menggembala kerbau bersama seorang pelayan di luar dusun, selamat terbebas daripada bencana maut. Dalam keributan ini muncullah Kiang Tojin, tosu yang menjadi murid kepala Thian Seng Cinjin. Tosu ini sedang melakukan perjalanan merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar dan penyebar Agama To. Melihat perbuatan keji para perampok di dusun Kwi-bun, dia cepat menggunakan kepandaiannya menolong penduduk dan berhasil mengusir para perampok. Kemudian oleh Kiang Tojin yang amat tertarik melihat Keng Hong, anak itu diajak ke Kun-lun-san dan disitu Keng Hong bekerja sebagai seorang kacung. Sebetulnya, Keng Hong hendak dijadikan murid Kun-lun-pai, akan tetapi bocah ini tidak mau menjadi tokong (calon tosu). Pada waktu itu, murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon yang memegang keras peraturan, yaitu setiap orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu.

pendekar kayu harum

Episode 4 Sin-jiu Kiam-ong memandang hwesio itu sambil tersenyum, pandang matanya bersinar gembira. Orang yang keras dan jujur selalu mendapatkan rasa suka di hatinya, karena orang yang demikian itu lebih mudah dihadapi. Ia mengangguk dan menjawab. "Kalau seperti itu wawasanmu, maka benarlah demikian agaknya." "Hemmm, bagus! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai ahli pedang ahli lweekang namun pinceng sedikit-sedikit juga telah berlatih selama puluhan tahun!" Setelah berkata demikian, Thian kek Hwesio membalikkan tubuhnya dan dengan gerakan kokoh kuat, lengan kanannya yang besar itu mendorong dengan pukulan ke depan, ke arah sebatang pohon yang jaraknya ada tiga meter dari tempat dia berdiri. Sambaran angin pukulan yang dahsyat membuat batang pohon tergetar, daun-daunnya seperti dilanda angin topan, dan berhamburanlah daun-daun yang rontok ke atas tanah seperti hujan! Andaikata manusia diserang dengan pukulan jarak jauh seperti ini, pasti akan remuk tulang-tulangnya, dan rontok isi dadanya! Namun Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar menyambut demonstrasi tenaga sinkang yang mencapai tingkat tinggi itu. "Ha-ha-ha! Membangun itu amat sukar, merusak amatlah mudahnya. Manusia adalah perusak terbesar diantara segala mahluk! Thian Kek Hwesio, untuk merusak dan merobohkan pohon itu sampai ke akar-akarnya adalah hal yang dapat dilakukan semua orang, akan tetapi dapatkah engkau membuat sehelai daun saja? Hemmm, biarlah kucoba mengembalikan daun-daun itu ke tempatnya, sungguhpun tak mungkin dapat kembali seperti asalnya karena kekuasaan itu hanya dimiliki Thian!" Sin-jiu Kiam-ong yang masih duduk bersila itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah daun-daun yang jatuh berhamburan ke atas tanah tadi dan...bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba semua daun itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas pohon menempel sejadinya pada cabang-cabang dan ranting-ranting, ada yang gagangnya menancap, ada yang melekat pada batang pohon, akan tetapi tidak ada yang rontok lagi ke bawah! Melihat ini, Thian Kek Hwesio, menjadi agak pucat wajahnya dan maklumlah dia bahwa tingkat kekuatan sinkang kakek tua renta itu jauh lebih tinggi daripadanya. Ia melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada dan menggumam, "Omitohud...!" "Maaf, suteku dan pinceng melupakan kebodohan sendiri!" kata Thian Ti Hwesio dan si hwesio kurus ini sekarang menggerakkan kedua tangan ke depan, ke arah pedang kayu yang terletak di depan kaki Sin-jiu Kiam-ong dan...pedang itu tiba-tiba melayang naik seperti tersedot besi sembrani lalu terbang ke arah kedua tangan tokoh Siauw-lim-pai itu. Semua tokoh yang berada di situ tahu belaka bahwa kekuatan sinkang hwesio alis putih ini jauh lebih tinggi daripada kekuatan sutenya. Sin-jiu Kiam-ong mengeluarkan suara memuji, "Bagus! Siang-bhok-kiam, sebelum kuijinkan, kamu tidak boleh berganti majikan. Kembalilah!" Ia menggapaikan tangan kirinya dan... pedang kayu yang sudah terbang ke arah kedua tangan Thian Ti Hwesio itu tiba-tiba berputaran lalu membalik, melayang ke arah Sin-jiu Kiam-ong! Thian Ti Hwe-sio menjadi penasaran sekali. Ia manambah kekuatan pada kedua lengannya, bahkan tubuhnya agak merendah ketika dia menggerakkan kedua tangan ke arah pedang. Siang-bhok-kiam kembali berputaran di udara seolah-olah bimbang hendak terbang kemana, akan tetapi akhirnya terbang kembali ke Sin-jiu Kiam-ong dan jatuh ke depan kakek itu ditempatnya yang tadi. Thian Ti Hwesio mengusap peluh di keningnya, lalu menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada. "Sin-jiu Kiam-ong makin tua makin gagah, tepat seperti apa yang telah diperingatkan suhu kami. Siancai....siancai....!" "Thian Ti Hwesio terlalu memuji," kata Sin-jiu Kiam-ong. "Orang she Sie! Kalau lain orang menghormatimu, aku Sin-to Gi-hiap tidak! Aku sudah mengenal isi perutmu! Aku seorang dari golongan pendekar, termasuk kaum benar dan bersih, bagaimana aku dapat berdiri sederajat dengan engkau seorang tokoh sesat dan kotor? Aku bilang bukan untuk minta-minta diberi Siang-bhok-kiam, melainkan untuk memenggal kepalamu dan merampas pedangmu!" Sin-jiu Kiam-ong memandang orang yang bicara dengan suara keras itu. Dia adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih berdiri tegak dan tegap, wajahnya membayangkan kegagahan dan ketampanan, sebatang golok telanjang berada di tangan kanan mengeluarkan cahaya berkeredepan, pakaiannya ringkas dan sederhana, berwarna kuning bersih. "Eh, kiranya Sin-to Gi-hiap (Pendekar Budiman Bergolok Sakti) yang datang? Bagiku, tidak ada permusuhan dengan seorang pendekar budiman seperti engkau. Mengapa engkau datang-datang memaki orang?" "Lidah ular! Isteriku telah meninggal dunia, namun dendamnya dan dendamku kepadamu takkan lenyap sebelum golokku berhasil memenggal lehermu! Biarlah disaksikan oleh para orang gagah disini mendengarkan pengakuanku, karena aku bukan seorang pengecut. Lima puluh tahun yang lalu, dengan kepandaianmu merayu engkau telah mengganggu isteriku, memaksanya melakukan hubungan perjinaan denganmu. Lima puluh tahun yang lalu aku kalah terhadapmu, akan tetapi coba-coba kita buktikan sekarang! Bangkitlah dan lawan golokku!" Sin-jiu Kiam-ong menudingkan telunjuknya ke arah hidung pendekar yang kini sudah tua itu. "Sin-to Gi-hiap, sebelum memaki orang mengapa tidak meraba hidungmu lebih dahulu? Aku memang melakukan hubungan cinta gelap dengan isterimu, akan tetapi apa salahnya itu kalau dia sendiri menghendakinya? Dan ketahuilah, aku sampai hati melakukan hal itu karena mengingat betapa engkau mendapatkan isterimu yang cantik jelita itu dengan jalan merampas dan memaksa!” “Engkau mendapatkan dengan membunuh suaminya si perampok tunggal di Taibu, kemudian merampas isterinya yang cantik. Apakah kaukira aku tidak tahu bahwa engkau membunuh perampok itu bukan sekali-kali terdorong jiwa pendekarmu, melainkan terdorong nafsu birahimu melihat isterinya yang cantik? Engkau merampas wanita dengan kekerasan, aku merampas cintanya dengan cara halus. Apa bedanya? Setidaknya, aku lebih berhasil mendapatkan cintanya!" Episode 5 "Keparat? Penjahat cabul engkau, jai-hwa-cat (Pemetik bunga) yang tak tahu malu. Sebentar lagi engkau tentu mampus disini dan biarlah kubuatkan arca seorang jai-hwa-cat untuk ditaruh diatas makammu agar setiap orang dapat meludahinya!" Setelah berkata demikian, Sin-to Gi-hiap lalu meloncat ke arah sebuah batu gunung sebesar manusia, goloknya mendahuluinya merupakan sinar putih cemerlang, berkelebatan dan menggulung-gulung di sekitar batu itu dan terdengar suara keras dan bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata. Setelah gulungan sinar berkilauan lenyap dan semua orang memandang ke arah batu diantara debu itu, kini tampaklah bahwa batu itu telah menjadi arca yang menggambarkan kepala Sin-jiu Kiam-ong! Biarpun kasar akan tetapi jelas tampak bahwa itu adalah arca si kakek tua renta yang kini duduk bersila sambil memandang arca itu dan tersenyum! "Wah, makin hebat saja kepandaianmu, Si Golok Sakti! Akan tetapi bukan ilmu goloknya yang kumaksudkan, melainkan ilmu ukirannya! Sayang begitu kasar! Tidak dapatkah diperhalus lagi? Biar kubantu engkau." Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong mengambil Siang-bhok-kiam yang masih menggeletak di depan kakinya, dan sekali dia memutar pedang kayu itu terdengar suara bercuit nyaring. Segulung sinar hijau menyambar ke depan, ke arah patung terus sinar itu mengelilingi arca batu kemudian terbang kembali ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Semua orang memandang dan.... arca batu yang tadinya kasar , kini telah menjadi halus seperti digosok pisau tajam dan agak mengkilap indah! "Kiam-sut (ilmu pedang) yang hebat, akan tetapi siapa takut? Lihat golok!" Sin-to Gi-hiap yang sudah marah sekali menerjang maju dengan goloknya. Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan menggerakkan Siang-bhok-kiam, membuat gerakan berputar mengelilingi golok lawan. Yang berputaran hanya sinar pedangnya, karena kakek itu sendiri hanya duduk bersila dan jarak antara mereka masih jauh. Namun si Golok Sakti berteriak kaget dan cepat melompat mundur memandang ujung lengan bajunya yang sudah buntung! "Kiam-ong masih pantas menjadi Kiam-ong (Raja Pedang)!" Terdengar suara memuji dan kini dua orang kakek yang berpakaian seperti petani, bersikap sabar tenang dan gagah, telah maju. "Namun sayang Kiam-ong hanya memajukan lahir tanpa mengingat kemajuan batin, sehingga kulitnya indah isinya busuk! Sin-jiu Kiam-ong, kami Hoa-san Siang-sin-kiam(Sepasang Pedang Sakti Hoa-san) menjadi utusan Hoa-san-pai untuk minta pertanggungan jawabmu terhadap dosa-dosamu. Engkau pernah mencuri seorang murid perempuan Hoa-san-pai, mencuri pedang pusaka, dan mencuri ramuan obat yang dibuat oleh Sucouw kami. Ketua kami akan berpikir untuk bersikap bijaksana melupakan dosa-dosamu terhadap kami apabila engkau suka menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam kepada kami!" Kakek tua renta itu mengerutkan keningnya, akan tetapi senyumnya masih ramah ketika dia menjawab. "Bermacam-macam alasan yang dikemukakan bermacam-macam pula yang dipergunakan, namun sesungguhnya mengandung maksud yang sama. Wahai Hoa-san Siang-sin-kiam, aku tidak menyangkal semua tuduhan Hoa-san-pai, memang aku telah mencuri murid perempuan, pedang pusaka dan ramuan obat. Akan tetapi semua tokoh Hoa-san-pai tahu belaka bahwa murid perempuan Hoa-san-pai, mendiang Cui Bi yang cantik manis, telah pergi mengikuti aku secara sukarela dan berdasarkan cinta kasih, bukan karena kupaksa! Adapun pedang pusaka Hoa-san-pai, sampai sekarang pun masih kusimpan dengan koleksiku yang lain, karena memang aku penyayang barang-barang pusaka. Tentang ramuan obat yang dibuat mendiang Sucouw kalian, ha-ha-ha telah membuka rahasia sucouw kalian karena ternyata obat itu adalah obat perangsang bagi pria tua agar dapat kembali bersemangat seperti seekor kuda jantan yang muda. Ha-ha-ha!" Dua orang pendekar itu sejenak saling pandang dan wajah mereka menjadi merah. Ucapan Sin-jiu Kiam-ong itu merupakan penghinaan bagi Hoa-san-pai, apalagi yang terakhir. Setelah memberi isyarat dengan pandang mata, kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu menggerakkan tangan dan "singgg!" tampak dua sinar berkelebat ketika mereka mencabut pedang mereka. "Sin-jiu Kiam-ong, ucapanmu yang menghina telah menambah dosamu terhadap kami. Biarpun engkau memakai sebutan Raja Pedang, jangan kira bahwa kami berdua saudara Coa jerih terhadapmu. Hadapilah sepasang pedang sakti dari Hoa-san!" tantang Coa Kiu sambil melintangkan pedang, sedangkan adiknya, Coa Bu juga sudah siap dengan pedangnya. Mereka ini masing-masing hanya berpedang tunggal, akan tetapi karena mereka ini kalau bermain pedang bersama merupakan pasangan yang amat kompak dan hebat, maka kedua orang ini mendapat julukan Sepasang Pedang Sakti! "Hemmm, aku selamanya tidak suka berbohong, dan ucapanku tadi hanya ucapan terus terang dan apa adanya, sama sekali tidak menghina siapa-siapa. Kalau kalian hendak memperlihatkan Siang-sin-kiam untuk menundukkan aku, kalian melamun yang bukan-bukan karena aku tidak mudah ditundukkan oleh siapapun juga, termasuk kalian orang-orang Hoa-san-pai!" Ucapan ini dikeluarkan dengan halus dan lunak, namun mengandung kekerasan melebihi baja. Coa Kiu dan Coa Bu mengeluarkan seruan keras, pedang mereka berkelebat dan tahu-tahu telah menjadi satu gulungan sinar tebal dan panjang, mengeluarkan suara bercuitan dan bayangan tubuh mereka lenyap tergulung sinar pedang yang menjadi satu. Tiba-tiba dengan suara mencicit nyaring, gulungan sinar pedang ini melayang ke arah sebatang pohon pecah menjadi dua dan bagaikan mata gunting dua gulungan sinar ini menggunting batang pohon. Tidak terdengar sesuatu dan tidak terjadi sesuatu, namun begitu gulungan sinar pedang itu melayang kembali ke tempatnya dan sinar pedang berubah dua orang kakek Hoa-san-pai yang sudah berdiri berdampingan , tiba-tiba saja batang pohon itu tumbang dan tampak bekas pedang yang halus membuat batang pohon itu seolah-olah baru saja digergaji! "Ha..ha..ha, kalian inipun bukan lain hanyalah kanak-kanak tukang merusak tanaman!" Sin-jiu Kiam-ong mentertawakan. Kakek Coa Kiu dan Coa Bu marah sekali. Episode 6 "Sin-jiu Kiam-ong, beranikah kau mengahadapi pedang kami?" "Mengapa tidak?" "Lihat pedang!" Dua orang kakek itu kembali menggerakkan pedang dan seperti tadi, dua gulungan sinar terang menjadi satu, menjadi gulungan yang amat kuat dan tiba-tiba terdengar suara mencicit keras ketika sinar pedang itu menyambar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek itu tertawa, menyambar pedang kayu di depan kakinya, lalu menggerakkan pedang kayu menusuk ke arah sinar pedang yang menyambarnya seperti kilat itu. "Cing..cing..trang......!” Gulungan sinar pedang yang berkelebat itu menjadi kacau gerakannya, berkali-kali mengitari tubuh Sin-jiu Kiam-ong, berusaha membabat tubuh kakek itu namun selalu terhalang sinar hijau dari pedang kayu, bahkan kemudian terdengar suara keras dan ....sinar pedang yang tebal itu tiba-tiba pecah menjadi dua, yang satu terpental ke kanan yang lain ke kiri. Sinar pedang lenyap dan kedua orang kakek itu sudah berdiri dengan muka pucat. Ujung pedang mereka somplak sedikit. Mereka saling pandang, lalu menghela napas panjang. Sebagai dua orang sakti mereka tidaklah nekat dan cukup maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat kakek sakti itu. Mereka tahu diri, lalu kembali ke tempat tadi, memandang dengan mata penuh penasaran sambil menyimpan pedang masing-masing. Sin-jiu Kiam-ong yang sudah menundukkan enam orang lawannya, kini menoleh kepada tiga orang yang masih belum bergerak, dan belum mengeluarkan kata-kata sampai saat itu hanya menonton saja. Dia melihat seorang tosu tua yang tidak dikenalnya, dan seperti tadi ketika menghadapi dua orang hwe-sio Siauw-lim-pai, dia tidak berani memandang rendah. Adapun yang dua orang lain adalah sepasang suami isteri tua yang dia tahu dahulu pernah dia jumpai, namun lupa lagi kapan dan dimana. Karena dia menganggap tosu itu lebih penting, maka dia segera menghadapinya sambil bersila dan berkata. "Maaf, kalau aku tidak ingat lagi siapa gerangan Toyu ini, akan tetapi karena Toyu sudah membuang waktu dan datang ke sini, tentu membawa keperluan yang amat penting." "Siancai...., Sin-jiu Kiam-ong yang sudah tua kiranya masih berwatak seperti orang muda, segan mengalah dan tidak menyesali dosa-dosa yang dilakukan di waktu mudanya sungguh patut disayangkan!" "Ha..ha..ha, Toyu mengeluarkan pernyataan yang amat lucu! Kalau benar dosa sudah dilakukan, apa gunanya hanya disesali? Lebih baik menyadarinya dan siap menerima hukumannya karena berdosa atau bukan tergantung kepada penilainya, sedangkan penilainya sendiri penuh dosa bergelimpang nafsu mementingkan diri pribadi! Eh, Toyu yang baik, aku seorang yang mengutamakan kejujuran, lebih menjunjung tinggi orang yang melakukan kesalahan namun berani mengakuinya daripada orang yang pura-pura suci namun di dalam hatinya amat kotor, tidak sama dengan yang keluar dari mulutnya. Karenanya, aku merasa senang sekali dengan ujar-ujar dalam agamamu, seperti ini: "Langit tiada perikemanusiaan segala benda dianggap sebagai korban. Orang suci tiada perikemanusiaan semua orang dianggap sebagai korban. Ruang antara Langit dan Bumi tiada ubahnya seperti hembusan! Kosong namun tak pernah berkurang makin besar gerakan makin besar tiupan! Banyak bicara sering kali penghamburan tenaga lebih baik menjaga kejujuran!" "Sin-jiu Kiam-ong, selain kekanak-kanakan engkau pun masih memiliki kesombongan! Menggunakan ayat suci kitab To-tik-kheng untuk menghantam seorang tosu seperti pinto (aku)! Sungguh menyebalkan. Kiam-ong, ketahuilah bahwa pinto adalah Kok Cin Cu, utusan dari Kong-thong-pai. Jangan engkau pura-pura lupa betapa dahulu engkau pernah membunuh lima orang anak murid Kong-thong-pai. Kedatangan pinto ini mewakili lima orang tua Kong-thong-pai untuk menagih hutang. Kami bukan orang-orang yang haus darah, akan tetapi sudah cukup adil kiranya kalau engkau menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam untuk menebus dosamu terhadap kami." Sin-jiu Kiam-ong mengangguk-angguk. "Ah, jadi Toyu ini seorang diantara Kong-thong Ngo-lojin (Lima Kakek kong-thong-pai) yang tersohor hebat sekali ilmu kepandaiannya, yang puluhan tahun lamanya melatih diri dan kini kabarnya mencapai tingkat yang sukar dicari bandingnya? Bagus, bagus! Kabarnya Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Langit Bumi) yang menjadi tiga datuk sesat terbesar diseluruh dunia, juga merasa jerih untuk mengganggu Kong-thong-pai karena ada kalian lima kakek sakti! Dan kini seorang diantara mereka memberi kehormatan kepadaku? Ha..ha...ha, Kok Cin Cu toyu, engkau ini kakek yang ke berapakah?" "Yang empat lain adalah para suhengku (kakak seperguruan)". "Ah, jadi yang termuda? Yang tua-tua agaknya masih enggan merendahkan diri, akan tetapi aku percaya yang termuda sekalipun tentu memiliki kesaktian luar biasa. Namun sayang, Toyu, aku tidak dapat menyerahkan pedang ini kepadamu." "Kalau begitu, perhitungan lama harus diselesaikan dengan mengadu ilmu!" "Begitukah wawasanmu Toyu? Agaknya Toyu masih belum tahu ataukah pura-pura tidak tahu mengapa dahulu lima orang anak murid Kong-thong-pai tewas di tanganku? Kami telah bentrok di tempat judi! Aku yang sudah terkenal sebagai seorang pengejar kesenangan di waktu muda, tak usah disebut-sebut lagi mengapa aku berada di tempat judi, akan tetapi lima orang tosu muda Kong-thong-pai, main-main di tempat judi yang dilayani para pelacur? Apakah mereka itu berada di sana untuk berceramah tentang kebatinan?”

pendekar kayu harum

Episode 2 Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya merdu, kini berubah cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu yang tidak wajar di tempat itu. Kemudian muncullah bayangan orang-orang berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas seperti burung-burung raksasa dan dalam sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di depan kakek yang bersamadhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter. Kenyataan bahwa sembilan orang ini dapat mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja mereka ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ketika mereka berlompatan di depan kakek itu, kaki mereka tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan. Mereka berdiri tak bergerak, namun dalam keadaan siap-siaga, memasang kuda-kuda dengan gaya masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah kakek dan pedang yang terletak didepannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek itu mengandung benci yang mendalam, adapun ketika pandang mata menyapu pedang, kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak disembunyikan. Biarpun kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai perubahan pada kicau burung, ternyata telah diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk bersamadhi. Dia membuka kedua matanya dan menyapu dengan pandang matanya ke arah sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk lingkaran kipas. Mulutnya tersenyum, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah kedatangan mereka itu memang telah diduganya. Adapun sembilan orang itu ketika bertemu pandang sedetik dengan sapuan matanya, menjadi terkejut dan bergidik. Mereka temukan pandang mata itu saja cukup memperingatkan mereka bahwa kakek yang mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh kesaktiannya. "Sie Cun Hong...! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti nyawamu yang semestinya kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadpmu lunas!" Kakek itu menoleh ke kanan karena yang bicara ini adalah orang yang berdiri paling kanan dalam lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan mulut ompong tak bergigi lagi, seperti senyum seorang bayi yang belum bergigi. Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah didengarnya itu adalah seorang nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah hampir putih semuanya, digelung kecil ke atas dengan tusuk konde perak. Wajahnya masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut yang dahulunya amat indah manis itu kini agak "nyamprut" karena tidak bergigi lagi. Tubuhnya yang dahulunya tinggi semampai itu kini agak membongkok dan kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang tersembul di balik pundak kanannya. "Heiii, bukankah engkau Lu Sian Cu? Ah, tubuhmu mungkin sudah menjadi tua, namun semangatmu benar masih muda, Sian Cu! Engkau mendendam kepadaku dan menghendaki pedang Siang-bhok-kiam sebagai pengganti nyawaku? Eh, dalam hal apakah engkau mendendam kepadaku?" "Keparat tua bangka! Jangan kaukira akan dapat mendesakku dengan pertanyaan untuk membikin aku malu. Aku sudah tua, dan semua yang hadir itu adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, tidak perlu malu aku mengaku! Puluhan tahun yang lalu engkau telah mempergunakan kepandaianmu menggaggahi dan memperkosaku. Dendamku kepadamu setinggi langit!" Kakek itu tertawa, lalu mengangguk-angguk. "Benar, alangkah cepatnya sang waktu meluncur. Ketika itu engkau baru berusia kurang dari tiga puluh tahun, dan engkau terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang selain lihai juga cantik dan terutama sekali angkuh sehingga engkau menolak semua pinangan pria, membuatmu masih perawan dalam usia hampir tiga puluh. Akupun ketika itu masih muda belum lima puluh tahun. Aku tergila-gila kepadamu, menggunakan kepandaian memasuki kamarmu dan memperkosamu. Akan tetapi , heh Lu Sian Cu! Lupakah engkau betapa engkau kemudian menerimaku dengan penuh kehangatan betapa engkau menangis dan merengek-rengek ketika hendak kutinggalkan? Lupakah engkau betapa engaku sama sekali tidak menaruh dendam atas perbuatanku yang juga menyenangkan hatimu itu? Mengapa kini engkau membalik dan memutar lidah?" "Cih, laki-laki tak berjantung! Setelah perbuatan kejimu itu, bagaimana aku dapat menerima pria lain? Aku telah menyerahkan raga dan jiwa, akan tetapi engkau menolak dan meninggalkanku pergi! Engkau telah mempermainkan cintaku. Seharusnya engkau menjadi suamiku, akan tetapi engkau mengejek dan minggat. Keparat, dendamku sedalam lautan setinggi langit!" "Ha-ha-ha, engkau mau menang sendiri, Sian Cu. Dahulu pun kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang yang selalu ingin bebas, bebas dari golongan, bebas dari segala ikatan termasuk ikatan rumah tangga! Memang aku telah berbuat jahat, memperkosamu, namun kita bersama, engkau dan aku, telah menikmatinya bersama dan hal yang menyenangkan orang lain mana bisa kausebut sebagai hal yang menyakitkan hati orang itu?" "Sie Cun Hong! Tak perlu banyak cakap lagi. Serahkan pedangmu itu atau serahkan nyawamu!" Sambil berseru begini, nenek itu lalu mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan. Senjata ini berupa cambuk berwarna hitam, akan tetapi bukan sembarang cambuk karena pada ujungnya terpecah menjadi sembilan dan setiap ujung diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang telah membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan yang dapat bertahan menghadapi senjatanya yang istimewa itu. Dan senjata itu pula yang mebuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe Toa-nio (Nyonya Besar Berekor Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang pendekar wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun lamanya ia dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain yang hadir disitu mendengar disebutnya namanya oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu! Episode 3 "Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan suara meledak-ledak. "Sie Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tidak mau menyerahkan pedangmu?" "Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku pun sudah melempem, kalau kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia ini, nah, lakukanlah, Lu Sian Cu!" Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke depan dan tiga buah diantara sembilan ekor itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubun-ubun kepala. kakek itu masih duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak menyentil tiga kali. "Tring-tring-tring....!" "Aiiihhh.....!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan cambuknya karena tiga buah ekor cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan kakek itu secara tiba-tiba membalik dan menerjangnya di tiga buah tempat, yaitu ke arah buah dada dan pusar. Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat telapak tangannya yang memegang gagang cambuk terasa panas dan pedas. Dengan loncatan ke belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil menyelamatkan diri. Wajahnya menjadi merah sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya. "Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin...cabul!" Kakek itu hanya tertawa-tawa, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari sebelah kiri terdengar suara yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud....!" Ketika melihat bahwa yang maju kini adalah dua orang hwesio gundul yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang tetapi penuh pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini. "Locianpwe benar-benar telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong(Raja Pedang Tangan Sakti) adalah tepat karena tangan Locinpwe benar sakti!" kata seorang di antara dua orang pendeta yang alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus. Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar hanya merangkap kedua tangan didepan dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...! Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan di depan dada, sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua orang pendeta yang begitu lemah lembut, yang bersikap merendahkan diri sehingga menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua tingkat atas, dia menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tak perlu dikhawatirkan atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut dan sikapnya halus, haruslah hati-hati karena orang-orang yang kelihatannya lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat. "Ah, berat sekali menerima pujian jiwi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong penuh angin. Aku yang tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua, karena biasanya kedatangan para hwesio seperti ji-wi adalah untuk menyembahyangi orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar nyawanya dapat diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa artinya kehadiran ji-wi ini di Kiam-kok-san?" "Omitohud...! Kami berdua adalah hwesio-hwesio kecil tak berarti yang menjadi utusan Siauw-lim-pai untuk menemui Locianpwe." "Ah, kiranya dari perguruan tinggi Siauw-lim-pai...! Sungguh merupakan kehormatan besar sekali!" Kakek itu berkata tercengang. "Pinceng Thian Ti Hwesio dan ini adalah Sute(adik seperguruan) Thian Kek Hwesio, mewakili suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai untuk mohon kepada Locianpwe agar suka menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada kami. Suhu mohon agar Locianpwe ingat betapa Siauw-lim-pai telah bersikap sabar dan tidak menuntut ketika Locianpwe pada tiga puluh tahun yang lalu mencuri kitab-kitab Seng-to-ci-keng (Kitab Perjalanan Bintang) dan I-kiong-hoan-hiat (Kitab Pelajaran Memindahkan Jalan Darah). Mengingat akan itu suhu pecaya bahwa Locianpwe kini dalam saat terakhir akan membalas kebaikan Siauw-lim-pai dan menyerahkan Siang-bhok-kiam agar semua ilmu yang tersimpan di dalamnya tidak akan terjatuh ke tangan yang sesat dan dipergunakan untuk mengacau dunia!" "Aha, kiranya ji-wi adalah murid-murid Tiong Pek Hosiang? Kalau begitu ji-wi adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Siauw-lim-pai! Kehormatan besar sekali bagiku. Guru ji-wi memang sejak dahulu halus dan sopan santun, namun cerdik sekali. Memang aku telah mengambil dua buah kitab yang ji-wi maksudkan, hal itu kulakukan karena Tiong Pek Hosiang terlalu pelit untuk meminjamkannya kepadaku. Siauw-lim-pai agaknya lupa bahwa ketika mendiang Tat Mo Couwsu yang bijaksana menyalin dan memperbaiki kitab-kitab dari barat, adalah dengan niat agar kitab-kitab itu dapat dipelajari semua manusia sehingga umat manusia dapat menjadi kuat lahir batinnya. Akan tetapi oleh Siauw-lim-pai ilmu-ilmu itu dipendam, disembunyikan dan hanya diturunkan kepada murid-murid sebagian daripada ilmu-ilmu yang dimiliki oleh guru. Dengan demikian, bukankah ilmu-ilmu yang itu makin lama makin berkurang dan menjadi rendah nilainya? Biarpun dua buah kitabnya kuambil, namun Siauw-lim-pai telah memiliki ilmunya. Kitabnya hanya merupakan catatan saja, dan dengan pindahnya kitab ketanganku, sesungguhnya Siauw-lim-pai tidak kehilangan apa-apa. Ilmu kepandaian dapat dibagi-bagikan sampai kepada selaksa orang manusia tanpa mengurangi sumbernya. Mengapa begitu pelit dan ji-wi menuntut tentang dua buah kitab pelajaran? Tidak, aku tidak dapat memberikan Siang-bhok-kiam, kecuali kepada dia yang berjodoh.” "Omitohud!" Hwesio tinggi besar hitam Thian kek Hwesio, melangkah maju dan membentak keras. Kini hwesio itu membelalakkan matanya memandang Sin-jiu Kiam-ong, dan ternyata sepasang matanya lebar sekali, wajahnya membayangkan kekasaran dan kejujuran seperti wajah Thio Hwie, tokoh pahlawan dalam cerita Sam Kok. "Locianpwe agaknya menghendaki kami menggunakan cara Locianpwe sendiri. Meminjam kitab-kitab tidak boleh lalu menggunakan kepandaian mendapatkan kitab-kitab itu. Kini kami minta baik-baik tidak Locinpwe berikan, apakah berarti bahwa kami harus menggunakan kepandaian untuk mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam itu?"
Pedang Kayu Harum Episode1 Kiam Kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena Kim Kok-san kurang indah pemandangannya. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak gunung ini amatlah indahnya. Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang tinggi seperti menara besi menembus awan tak tampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu perawan itu merupakan tempat kediaman dewa penjaga gunung. Awan putih yang berarak seperti domba-domba kapas, tak pernah berhenti dihembus angin langit, menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam Kok-san, berkumpul di sekeliling puncak seperti sehelai bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam. Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Bagaimana taman surga terbentang luas di bawah kaki, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang ajaib penuh rahasia. Bukan karena kurang indah, melainkan kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah penuh batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu. Jurang-jurang yang curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau yang menopengi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, dan bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san. Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat mengusir halimun menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, menerangi tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram. Seperti itulah agaknya sorga sering kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia yang dalam hidupnya menjauhkan diri daripada segala kemaksiatan dan kejahatan. Ketika sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit, tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah amat tua, terbukti dari kulit wajahnya yang penuh keriput, dagingnya yang sudah tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol di balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi kedua pundaknya. Kalau ditaksir, kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun usianya. Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan kedua kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan. Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu daripada seorang manusia hidup. Namun sesungguhnya dia bukanlah arca, karena kalau diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain putih itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasannya yang halus dan panjang. Di atas tanah, depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan setelah tertimpa cahaya matahari. Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda daripada pedang-pedang umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang pedang kayu! Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak amat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini dahulu tentu seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan ketampanan seorang pria. Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari samadhi. Dia membuka kedua matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) amat kuat saja yang dapat mempunyai sepasang mata seperti itu. Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri dengan sinar matanya seolah-olah dia minum dan menikmati segala keindahan yang dicipta oleh sinar keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggeleng kepalanya, dan bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata lirih. "Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu kepada seorang penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tak mungkin! Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang telah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup? Tidak ada! Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu karena aku pandai ilmu silat, karena...karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini! Aaahhh,Tuhanku! Aku tidak akan mengelak daripada kenyataan. Aku rela dan siap sedia menerima hukuman-hukumannya. Tak mungkin aku membebaskan diri daripada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan....!" Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya seolah-olah dia tidak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di depannya. Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali? Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermaikan daun-daun pohon. Paduan suara ini seolah-olah mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan manusia. Tuhan Maha Kasih, tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, akan menerima uluran kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang dilimpahkan tergantung daripada rasa penerimaan si manusia sendiri!

cerita silat

Kho Ping Hoo Kho Ping Hoo Cerita Silat Mandarin Serial Bu Kek Sian Su 01-BuKekSiansu 02-Suling Emas 03-CintaBernoda Darah 04-Mutiara Hitam 05-Istana Pulau Es 06-Pendekar Bongkok 07-Pendekar Super Sakti 08-Sepasang Pedang Iblis. 09-Kisah Sepasang Rajawali 10-Jodoh Rajawali 11-Suling Emas Naga Siluman 12-Kisah Para Pendekar Pulau Es 13-Suling Naga 14-Kisah SiBangau Putih 15-Kisah SiBangau Merah 16-Si Tangan Sakti 17-Pusaka Pulau Es Full Serial Raja Pedang 01 Raja Pedang 02 Rajawali Emas 03 Pendekar Buta 04 Jaka Lola Seri Pedang Kayu Harum Pedang Kayu Harum (Siang Bhok Kiam) Petualang Asmara Dewi Maut Pendekar Lembah Naga Pendekar Sadis Harta Karun Jenghis Khan Siluman Gua Tengkorak Asmara Berdarah Pendekar Mata Keranjang Si Kumbang Merah Penghisap Kembang (Ang Hong Cu) Jodoh Si Mata Keranjang Pendekar Kelana Seri Mestika Burung Hong Kemala Pedang Awan Merah Mestika Burung Hong Kemala Kisah Si Pedang Terbang Seri Kasih Diantara Remaja Kasih Diantara Remaja Darah Patriot Seri Gelang Kemala Gelang Kemala Dewi Ular Rajawali Hitam Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Sepasang Naga Lembah Iblis Pedang Naga Hitam Seri Pendekar Sakti (Bu-pun-su Lu-kwan-cu) Pendekar Sakti (Bu-pun-su Lu-kwan-cu) Dara Baju Merah (Ang I Nio-cu) Pendekar Bodoh Pendekar Remaja Seri Kisah Si Pedang Kilat Kisah Si Pedang Kilat Pedang Kilat Membasmi Iblis Seri Dewi Sungai Kuning (Huang-ho Sian-li) Dewi Sungai Kuning (Huang-ho Sian-li) Kemelut Kerajaan Mancu Seri Kisah Si Naga Langit Kisah Si Naga Langit Jodoh Si Naga Langit Seri Si Pedang Tumpul Si Pedang Tumpul Asmara Si Pedang Tumpul- Seri Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) Hwee-thian Kim-HongSi Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Diterbitkan dalam satu judul: Si Teratai Merah Seri Sepasang Naga Penakluk Iblis Sepasang Naga Penakluk Iblis Rahasia Patung Emas Bayangan Iblis Dendam Sembilan Iblis Tua Seri Pendekar Tanpa Bayangan (Bu-eng-cu) Pendekar Tanpa Bayangan (Bu-eng-cu) Harta Karun Kerajaan Sung Seri Pendekar Budiman (Hwa I Eng-hiong) Pendekar Budiman (Hwa I Eng-hiong) Pedang Penakluk Iblis (Sin-kiam Hok-mo) Tangan Geledek (Pek-lui-eng) Seri Pedang Naga Kemala(Giok-liong-kiam) Pedang Naga Kemala (Giok-liong-kiam) Pemberontakan Taipeng Seri Pedang Sinar Emas (Kim-kong-kiam) Si Alis Merah (Ang-bi-tin/Bi-hong Sin-liong) Pulau Tiga Naga (Sam-liong-to) Pedang Sinar Emas (Kim-kong-kiam) Seri Jago Pedang Tak Bernama (Bu-beng Kiam-hiap) Jago Pedang Tak Bernama (Bu Beng Kiamhiap) Kisah Sepasang Naga (Ji-liong Jio-cu) Pedang Ular Merah (Ang-coa-kiam) Pedang Pusaka Naga Putih (Pek-liong Po-kiam) Seri Iblis dan Bidadari Iblis dan Bidadari (Hwee-thian Mo-li) Lembah Selaksa Bunga Seri Naga Sakti Sungai Kuning Naga Sakti Sungai Kuning (Huang-ho Sin Liong) Naga Beracun 01-06 07-10 11-16 DARAH PENDEKAR (tamat) 1-5 , 6-10 , 11-15 , 26-30 ,21-25 , 31-32 , 16-20 Serial Lepas Mandarin Pendekar Pemabuk (Kang-lam Tjiu Hiap) Pendekar Gila Pedang Keramat (Thian Hong Kiam) Tiga Dara Pendekar Siauw Lim Rajawali Lembah Huai Gian Kiam Gi To (Maling Budiman Berpedang Perak) Ouw Bin Hiap Kek (Pengemis Tua Aneh) Liong San Tung Hiap (Pendekar Tongkat dari Liongsan) Kun Lun Hiap Kek (Nona berbaju hijau) Pendekar Bunga Merah Pedang Awan Merah Kisah Si Pedang Terbang Antara Dendam dan Asmara Pembakaran Kuil Thian Lok Si Toat Beng Moli (Wanita Iblis Pencabut Nyawa) Pek I Lihiap (Pendekar Baju Putih) Peninggalan Pusaka Keramat Pedang Penakluk Iblis (Sin Kiam Hok Mo) Si Rajawali Sakti Pendekar Dari Hoa San Pendekar Gila dari Shantung Suling Pusaka Kemala Pendekar Cengeng Si Tangan Halilintar Si Teratai Emas Mestika Golok Naga Tiga Naga Sakti Pedang Penakluk Iblis (Sin Kiam Hok Mo) Perawan Lembah Wilis Pendekar Penyebar Maut Naga Sakti Sungai Kuning Asmara Si Pedang Tumpul Sejengkal Tanah Sepercik Darah Nurseta Ksatria Karangtirta Si Pedang Tumpul Suling Pusaka Kumala Pedang Naga Hitam Cersil Jawa –> lihat halaman 2 SILAT JAWA Asmara Di Balik Dendam Membara Bajak Laut Kertapati Banjir Darah Di Borobudur Jaka Galing Kemelut Di Majapahit Keris Pusaka Nogopasung Kidung Senja di Mataram Pendekar Gunung Lawu Dyah Ratnawulan Satria Gunung Kidul Keris Maut - Keris Pusaka dan Kuda Iblis Rondokuning Membalas Dendam Seri Pecut Sakti Bajrakirana Pecut Sakti Bajrakirana Seruling Gading Alap-alap Laut Kidul Bagus Sajiwo Kemelut Blambangan Seri Geger Demak Pajang Geger Demak Pajang Setan Kober Seri Keris Pusaka Sang Megatantra : Keris Pusaka Sang Megatantra Nurseta, Ksatria Karangtirta Badai Laut Selatan Perawan Lembah Wilis in progress Sepasang Garuda Putih Seri Sejengkal Tanah Sepercik Darah Sejengkal Tanah Peoercik Darah Geger Singosari dan Majapahit Seri dan Judul Lepas Roman dll Darah Daging Geger Solo Merdeka atau Mati Komik Kho Ping Hoo by Yanes (Cergam) Pukulan Tangan Dewa 01 Pukulan Tangan Dewa 02 tmt

Minggu, 25 November 2012

PENDEKAR HARUM

Pedang Kayu Harum Episode1 Kiam Kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena Kim Kok-san kurang indah pemandangannya. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak gunung ini amatlah indahnya. Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang tinggi seperti menara besi menembus awan tak tampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu perawan itu merupakan tempat kediaman dewa penjaga gunung. Awan putih yang berarak seperti domba-domba kapas, tak pernah berhenti dihembus angin langit, menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam Kok-san, berkumpul di sekeliling puncak seperti sehelai bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam. Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Bagaimana taman surga terbentang luas di bawah kaki, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang ajaib penuh rahasia. Bukan karena kurang indah, melainkan kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah penuh batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu. Jurang-jurang yang curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau yang menopengi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, dan bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san. Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat mengusir halimun menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, menerangi tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram. Seperti itulah agaknya sorga sering kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia yang dalam hidupnya menjauhkan diri daripada segala kemaksiatan dan kejahatan. Ketika sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit, tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah amat tua, terbukti dari kulit wajahnya yang penuh keriput, dagingnya yang sudah tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol di balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi kedua pundaknya. Kalau ditaksir, kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun usianya. Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan kedua kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan. Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu daripada seorang manusia hidup. Namun sesungguhnya dia bukanlah arca, karena kalau diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain putih itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasannya yang halus dan panjang. Di atas tanah, depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan setelah tertimpa cahaya matahari. Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda daripada pedang-pedang umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang pedang kayu! Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak amat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini dahulu tentu seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan ketampanan seorang pria. Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari samadhi. Dia membuka kedua matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) amat kuat saja yang dapat mempunyai sepasang mata seperti itu. Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri dengan sinar matanya seolah-olah dia minum dan menikmati segala keindahan yang dicipta oleh sinar keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggeleng kepalanya, dan bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata lirih. "Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu kepada seorang penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tak mungkin! Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang telah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup? Tidak ada! Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu karena aku pandai ilmu silat, karena...karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini! Aaahhh,Tuhanku! Aku tidak akan mengelak daripada kenyataan. Aku rela dan siap sedia menerima hukuman-hukumannya. Tak mungkin aku membebaskan diri daripada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan....!" Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya seolah-olah dia tidak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di depannya. Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali? Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermaikan daun-daun pohon. Paduan suara ini seolah-olah mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan manusia. Tuhan Maha Kasih, tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, akan menerima uluran kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang dilimpahkan tergantung daripada rasa penerimaan si manusia sendiri!

Senin, 04 Juni 2012

Data SGP 2001 XXXX XXXX XXXX 4858 5858 4785 6648 1517 8383 7184 7421 7918 1507 8851 4582 9724 5784 2381 6563 6547 9846 3433 1374 6302 5643 8769 8309 8964 5585 2342 6210 3873 6750 5703 9114 3134 1865 9412 2351 7905 6128 5030 9381 8617 7984 9778 5255 7976 1530 6062 9548 5395 2956 3293 4054 3282 3138 4228 9226 2145 9479 9298 4490 6362 3709 4045 7477 0913 1181 3530 3434 5067 0238 5216 2856 2762 8135 7030 9808 4259 7351 8947 2701 3203 8467 4528 8700 7546 8787 3014 4153 6548 1167 3156 9899 3394 6750 8617 3997 7852 1879 3187 2742 6123 8648 3381 2727 1401 0297 1481 6397 5227 0239 8995 3947 0094 4469 9242 3445 4200 0549 1413 1941 8216 4463 0986 6301 2218 6741 9486 0381 7833 4917 0150 7799 2515 0118 6531 1687 6336 2821 3427 5390 4624 2269 4454 1542 5043 6498 3183 5507 9714 7861 2628 9944 0305 3730 8579 1311 2662 6361 1528 6266 8932 9288 5747 4058 1475 5785 6355 9468 8530 7756 2469 8397 4857 7789 4855 7195 3004 7113 6961 1375 1255 5451 2655 6012 1403 4802 1350 8733 7655 7311 8609 0702 4516 0969 0593 5291 0646 7296 3216 5854 8377 7529 8494 0049 9377 5346 6611 3260 6435 7521 6559 2101 9053 6265 3622 9904 3512 9579 5429 3732 0953 9970 0100 1420 2285 1737 0729 2178 1974 8160 3279 2245 1515 5746 2843 4784 6514 0797 4494 5514 5671 6451 3857 3286 4970 0007 3501 2424 3697 6111 0780 7916 3152 6119 4677 5897 4400 Data SGP 2002 5749 5273 7552 4916 1382 7299 9765 4020 6257 4309 2615 2808 3958 9747 2871 0481 6449 3451 8465 1927 1641 8905 2753 6526 8211 6561 1537 7498 5894 3298 8784 1697 7440 5502 8455 2422 9323 9832 4557 1208 2251 5157 0702 7514 7260 8529 1630 6943 2433 6492 9720 7440 6317 7188 3483 8425 3256 1554 5991 6854 5659 2946 8333 0446 9399 7394 8137 0148 1386 8651 0646 3209 8741 3887 0364 2664 8532 6843 1700 8863 9914 1340 1598 6763 2669 3320 0135 0823 3500 8254 5724 9669 0592 5230 0525 1020 8706 3519 5470 5942 9516 4527 1039 5676 4413 7437 4685 2825 4060 3872 5227 9480 3426 2883 0503 8291 5460 3597 0164 4256 3798 5467 2414 9188 9933 5266 3279 5537 1113 3237 7980 8790 9189 8862 0493 2853 7716 5120 2448 5581 7064 7883 3981 0751 6852 4154 4997 5215 4950 1094 9406 7841 2787 0462 9682 5306 8354 7986 4391 3933 5852 1112 0203 1487 7353 7029 6065 0972 9579 4995 0718 1158 2473 9351 5974 6600 7721 7209 5084 1758 1592 8162 8846 7115 4547 5788 3617 6364 4227 1740 5458 7386 4728 7770 3930 7160 8120 0982 2759 4184 9235 5081 7335 4431 8782 0078 3174 0824 5591 0856 1824 0013 9200 3112 3858 8820 5709 5360 6796 2603 4306 4952 7081 3791 4212 1576 5215 0524 8656 3153 8276 2010 2226 1230 7566 9851 5280 7603 9660 7930 0878 9025 5440 5905 2138 0996 9572 8030 0216 2294 7259 0452 0816 0348 6057 9173 7240 2448 7236 3068 4061 7121 XXXX XXXX XXXX Data SGP 2003 XXXX XXXX 8167 6228 5056 2603 9456 6817 3942 3253 7012 2272 0394 4616 1602 6890 6092 0337 7798 4291 8898 3543 6032 5331 4446 7565 0962 9039 6560 7447 2577 4122 3428 5579 8219 4455 0296 9042 0391 9401 7918 6482 2575 9674 8913 7917 9683 8329 7091 8924 3615 1528 3350 6083 7384 8842 5666 2117 9839 1015 7490 2670 3394 1825 6145 0925 7887 5420 2756 4236 8183 4033 4146 3914 4019 2896 3284 4899 8833 2319 2528 4655 4735 4008 9176 4627 1566 0514 9758 5194 1991 1521 7450 4942 1502 0054 1521 3783 9335 8979 9928 9041 2459 8945 0427 7801 8758 6829 5484 0680 3663 0423 9775 0377 1227 5569 7626 6900 9332 6210 6250 5521 9011 7410 7957 0238 7497 7739 6078 1039 0088 7321 8923 8033 5693 4873 4694 8214 7097 3005 2904 4634 9807 3896 7192 6374 1452 7693 6831 1426 1657 8551 2334 4246 1372 9738 1005 8642 4406 7737 4238 3751 0207 4706 6290 9154 0045 3853 2352 1415 0499 3292 1780 7009 1259 0482 5793 3147 4983 5311 8894 5627 7501 0842 7551 8343 9176 7805 2257 4164 5168 0772 7107 1003 0363 0530 6839 0679 2328 1145 0565 1573 3191 1641 4637 1029 4902 1461 9590 7237 6566 8135 0581 8504 1209 6912 9719 3360 4744 6615 9537 9556 1341 7128 1419 6136 4088 3137 9529 2111 6588 2171 5678 7931 3463 6310 9069 1685 3444 5149 1873 0341 3357 9656 5415 8085 1023 4579 5010 3709 2770 6572 3986 0987 1625 4323 8292 8292 3873 9785 4317 7993 6201 1431 XXXX Data SGP 2004 XXXX XXXX XXXX XXXX 1272 9198 0456 3414 7405 5116 0324 0735 6614 2540 4279 9031 7231 8803 7724 0805 8330 7519 5945 9811 7256 1569 4599 3724 7860 4577 5884 4731 9925 8685 8552 3814 2165 7129 4254 5618 3210 2421 1167 5906 6656 3239 8438 2360 0952 2177 9924 4048 6362 2097 0011 5336 8472 2124 9783 8230 6440 4504 4571 6993 8588 8978 2953 8625 0567 6780 6151 6472 9847 5215 5902 0182 4368 6121 5397 2188 8598 2915 1505 2425 2990 8415 7606 3949 2353 8343 6115 6916 3263 8690 1031 4042 2741 4764 7036 9650 6698 4837 6851 8272 8814 7218 9315 3363 4901 6167 9707 6570 2519 1182 3187 6890 5706 5519 9032 1747 8612 4259 8320 0500 2265 9106 2038 7697 5864 7366 0431 0179 0784 3778 1447 4321 4958 5217 2284 4919 4912 4139 5157 0782 0531 4498 2210 5364 1762 0583 3490 5593 3246 3152 2620 3117 0089 5713 5399 2009 7798 2693 9346 5689 1099 2665 9756 4161 0130 2059 6303 0537 1983 4921 8300 5483 3838 7855 8185 7907 1565 4296 0843 3914 2534 3104 4333 9141 1770 7768 2576 3302 4516 2790 6924 9043 0052 4029 3027 9310 8192 3606 8506 3002 0801 9191 0223 8501 5053 1677 6298 2102 3092 5681 1915 3731 0079 4166 5269 0166 1672 2001 4640 8468 9948 0923 1540 8567 8545 0032 6886 6113 6371 7084 3340 3201 3236 3152 9312 5112 3075 5306 7696 2903 8173 5373 0835 3206 3369 8211 6651 6321 1049 3260 2066 1467 8137 9585 9883 1873 3431 4486 3069 0877 6413 Data SGP 2005 1251 9813 5250 7599 9238 1635 1273 9809 6064 1333 8158 7837 1801 0221 8745 1197 4067 4180 0162 7324 9919 3039 9222 6536 9694 8215 8917 8816 5780 5635 5013 3075 5735 0941 5159 8318 5316 8025 4061 6742 6135 1690 9902 6134 3883 3505 1356 7729 1992 0266 1730 8049 0095 2545 2554 2116 7070 1886 9044 1626 9617 3134 9846 5593 6810 7180 2108 1954 8110 1859 3479 5020 8420 4441 7253 3910 4176 3584 0275 9335 5357 6980 9614 9443 7505 5997 1237 6881 8494 2533 2129 9406 1822 9310 4271 1482 7413 3846 3674 3791 0209 5935 0746 8263 9111 7647 2626 3159 8295 7498 5194 8813 1324 2404 3604 3844 3580 1296 1292 7245 0392 2755 5264 6341 1408 2831 3221 2824 2200 6682 2321 0377 1759 6979 4362 3816 9716 4689 6827 9653 5781 4119 9641 5273 5398 6320 2950 8864 5703 5256 3572 7893 3612 3542 6496 6502 4392 6233 6067 8359 3893 7674 1928 3445 6068 5895 7040 2652 5280 3694 9002 1238 2992 2263 4992 6308 2305 5912 1630 3357 7692 5115 1235 4180 8519 5928 8729 1911 3562 5172 0891 3716 7532 4706 1046 1035 1388 4770 9953 7284 4953 8370 0977 1650 3261 4822 2115 4082 3007 2086 8203 5754 0665 6988 4095 6481 1397 4549 3529 1948 3810 7690 2480 4947 5408 3787 7883 0267 7465 5538 2745 2858 7925 1503 2971 0978 9196 3324 7840 1085 7966 3382 4120 9584 1626 1998 4471 4059 3276 3813 9127 0677 2707 0628 4034 5731 9167 2657 4303 7165 7356 XXXX XXXX XXXX XXXX Data SGP 2006 XXXX 6550 2511 5922 9607 8560 2891 3187 6856 9246 9876 6641 6751 9128 2768 7876 2925 8645 6359 0086 6593 5606 8059 1993 8678 8870 1706 5974 3115 8446 1164 6905 3334 9879 9177 6433 6551 0264 4546 2625 2795 8146 0447 0752 3948 5855 8777 8419 8617 1377 3227 4744 0879 1028 2330 4299 9986 1571 3282 3299 6684 3807 5030 7457 6233 3113 4935 2352 3865 7685 4288 5429 6205 0335 3003 1224 4597 5894 3724 1117 3035 2321 9036 5646 5454 6987 4318 0090 3641 6899 0353 7426 8831 4030 0330 7497 2806 5440 4757 1377 4592 9476 5722 4553 9606 2451 6840 2563 7873 6938 6249 3618 9313 5277 8879 1646 9509 9701 7742 0443 0243 6400 2637 4546 5560 9552 1085 2344 2483 5668 4770 5269 1063 4093 2727 7245 9219 5091 3073 4731 4431 1982 3951 8932 4140 0990 7168 3576 5784 6132 9661 4493 7966 0204 2643 4347 4149 5777 6588 1734 7756 8822 7102 4922 7992 1454 5488 5202 4145 0885 2401 4497 5550 0894 1896 1505 8341 7312 1734 2564 0440 5059 8180 7100 7514 5472 2577 5076 4746 4645 9338 7851 4041 3758 0088 4270 7619 7789 0792 7692 3267 0748 4396 2731 9985 1687 6420 8249 2444 1853 0558 4798 5978 3234 0656 0568 8520 5601 4739 8084 8157 6146 8913 6940 6970 8584 2149 2694 9380 1398 3248 8860 0596 3413 8571 6877 4509 8415 0933 6754 8373 1439 8206 4450 2575 0722 0794 2938 0512 1373 1773 4214 2731 9886 2600 5859 8603 4732 0385 1110 7532 6389 XXXX XXXX XXXX Data SGP 2007 XXXX XXXX 8954 0314 2355 1849 1823 5365 5563 3807 2146 9964 4285 7621 1669 2137 4916 3857 9183 1209 2128 0415 9930 8464 6153 1418 5192 9626 6088 1520 7377 0167 5372 7172 9293 8242 1815 1769 1223 2376 9996 9258 4009 0416 2588 1225 0009 7348 7231 9886 8431 6791 1954 0772 0985 2732 6557 1421 4099 7062 6495 7078 2138 6020 4886 7342 1782 6614 0242 4841 4360 6068 4468 0583 0258 6013 8493 9330 8951 9450 7633 2575 4719 0055 6750 8757 3192 3937 0211 7464 2013 1314 4979 3350 0389 9822 7431 3155 4959 0985 6394 8906 6646 4757 3142 9544 6368 7703 3156 9932 3049 2686 4780 8140 5086 1851 6942 1739 7304 1180 4483 8626 1626 6595 2176 8545 9440 0909 6904 1549 7731 3248 3373 0084 4113 4941 0678 9964 4266 9667 1515 0970 1278 5813 5022 3453 7189 3238 1059 9016 0361 2168 6690 5291 0573 2812 2539 2820 4091 1634 4190 0374 8266 0661 4165 1250 5794 2842 0199 2978 9647 1740 6706 3095 8402 6193 3212 4626 0233 8265 2115 0213 7642 5136 2968 2789 5636 5739 4903 0326 8146 7188 4951 3172 1526 8161 1451 9403 4584 2964 6309 2958 1103 9517 9608 6353 7783 8047 2589 6410 9685 8521 9346 8519 7943 8945 3600 1397 6656 7371 5629 3487 1234 2498 9597 2765 5193 1844 1275 7751 7525 2502 0151 2396 1962 5291 3257 1255 7589 5431 5269 4063 9838 5000 3141 3848 0841 2534 3012 8753 1130 5913 3077 0078 3076 7200 9418 0358 8963 9891 0694 2386 3386 XXXX XXXX Data SGP 2008 XXXX XXXX XXXX 9826 3756 7821 2833 8330 2477 8073 2954 7123 5274 4319 9243 0608 3527 7181 3476 3907 2403 1754 8485 4335 5629 0883 4291 8082 3330 1328 9966 8476 5162 9124 7187 6800 4319 6491 0250 3494 7989 7609 8393 4839 0666 8726 3214 1431 4673 5223 8251 7155 5555 0735 0465 1899 5548 0719 6131 6668 2075 6026 7679 1942 0229 2288 8818 9064 1322 4254 9572 1137 7176 1736 3202 3113 2781 2197 6193 4778 9798 7006 3712 9331 4449 5229 6255 9350 5973 9132 4054 8254 8848 1732 2494 7846 2752 7497 2332 0192 5771 7841 8923 6877 3881 7543 5875 3220 1260 6537 2886 0211 6543 7132 4761 0071 5263 1144 7501 4579 0857 3187 4579 6387 1254 3650 5697 4585 5364 8083 0495 3452 3872 0168 5322 1435 0986 7077 2271 3513 3579 6535 9637 3831 5380 0421 5790 8761 4651 4169 7889 7796 7753 5339 4898 3493 7853 2239 8817 6650 4046 7126 6412 2381 5406 2320 1725 4905 5172 8170 6240 4726 0815 8342 7659 9510 7518 3102 4195 8970 9312 7825 7029 4198 0373 8525 9626 5687 4367 4529 4705 5459 8100 6698 2456 9072 3225 2382 6947 3854 5260 7751 5180 1298 1103 6373 8658 7568 0418 7837 0212 3948 4852 5410 9375 2833 4135 9342 8726 6841 0764 5562 7511 4610 0987 4753 5883 0007 3976 7912 3724 2992 1295 3570 2097 4640 9329 1531 2312 5685 9981 3134 8974 6979 3119 3592 7521 3977 9474 0044 2112 4953 7200 8798 8518 2964 7495 8947 3508 1243 6679 2394 7279 4649 XXXX Data SGP 2009 XXXX XXXX 6909 4373 8060 4579 2506 4883 9909 8207 1362 0858 3248 3064 8214 3157 5370 9244 5706 3761 5792 3423 9342 4387 2867 9849 2705 9561 1631 3169 0338 1327 8447 5279 6776 0678 7985 7328 2793 6428 4526 4759 3532 8643 9763 1061 0093 8784 9470 6750 4255 8659 8774 1577 5934 1759 9154 5126 8660 3270 4874 1865 4886 8387 1660 6324 6748 2582 9158 2683 1272 0141 0354 8804 6829 1373 4760 4557 1809 7135 3152 7068 5275 4444 7166 0891 5371 3059 0113 8279 7951 9255 6398 9012 3514 5023 5402 9743 8634 2243 3608 6425 9454 9762 0148 9637 4671 3373 9853 6184 0105 2612 6778 7837 5853 9445 1775 9589 6317 0317 3257 3065 5393 5802 8220 7798 2290 1181 8994 3280 2311 3452 8916 7135 1004 3181 1540 4775 6764 5317 8843 2620 0001 5601 6518 4510 0780 9516 2876 9268 3594 2606 0613 7028 2168 4477 9425 3745 8152 3241 2264 9249 0757 3098 2989 5277 4082 2951 1154 9209 5219 0114 6189 8188 0225 7743 9041 1163 0706 7573 0740 3421 4315 1871 6524 2998 7572 8539 7971 2161 2125 9006 1608 9022 8226 5970 3862 1140 5258 2979 6940 7425 5319 9983 5258 3081 0940 5537 2052 7271 2757 5065 1733 2764 4931 5899 3935 6222 7240 8857 5053 9481 6905 9724 6066 5730 7768 5142 9298 3733 1153 9490 3798 8505 9579 9918 6793 8516 1934 1770 5672 0659 3617 1189 4822 2168 4294 8532 9619 2245 4516 2416 0382 4423 8911 7353 0995 3524 XXXX XXXX Data SGP 2010 8743 3515 6764 0298 8693 6335 7968 5907 8290 7040 9461 3060 8924 8692 7793 9565 2032 2308 5853 9993 9957 3887 0525 5325 7136 3844 4087 9623 7132 6325 2784 1993 2412 6638 8167 3270 7896 3722 6424 9082 1238 8096 2131 0677 7087 0047 1528 4639 3070 1879 9153 9090 9118 1201 0183 3720 9706 8210 1226 7281 7874 9035 8424 2899 1669 3164 2266 4855 2623 3698 0162 7485 8974 2335 6480 2420 2959 5717 9425 6641 0995 7356 7892 8084 3199 4081 3105 5738 5740 1622 7552 7393 8238 5998 5509 2050 1331 8443 5506 9790 2050 8636 1138 1087 6581 2179 8285 6560 4886 0278 0099 4793 1979 1911 6379 6289 2884 7399 3713 9867 0094 8736 0624 1696 7770 7166 5969 5929 7957 7939 8331 6483 9471 0403 5108 1872 7006 8402 0093 7844 6982 1625 9923 9216 0237 9093 1042 0861 7590 8554 1552 3308 1970 2073 2505 3333 3934 1404 9100 5535 1284 0988 5426 1082 9409 5820 1313 8791 4314 0759 9130 7583 7390 7135 9379 8213 1949 5002 2843 9462 3606 7238 1338 1507 0300 1505 9364 1230 8946 4259 7316 3722 8999 8899 3164 7543 3740 3475 4735 9888 3805 8586 3795 5893 9198 2634 8338 0423 0686 2386 6039 1007 6981 8597 5541 7106 1013 0783 4280 0832 8194 4880 5444 3560 7320 6231 6085 7774 2542 7739 7169 2151 5837 6392 5621 1840 6494 0239 8470 1035 3937 9066 7459 6970 6352 3219 8163 9138 6474 5761 1800 0675 3131 9377 6064 2183 4973 6522 6938 5304 Data SGP 2011 2633 6357 4408 3354 7166 9925 7891 9517 9667 0057 2554 0643 4728 5972 9793 0571 2530 8086 7883 5408 2956 5272 8154 1080 7089 8025 6161 6080 8123 7332 9321 3368 9858 3893 7992 9734 6222 3804 2182 3320 5881 4560 0169 4286 6347 6218 7378 6465 4289 1358 1418 7377 7790 3199 7220 8937 9496 0015 4942 0033 7266 6319 9982 7975 2170 6013 8247 3732 6924 5392 8814 3586 2861 8118 7237 9335 0809 7576 1150 7737 7037 5214 4281 3666 9909 3123 2075 7716 5268 5921 4426 7139 0850 5893 2570 7281 6763 0267 5451 5336 2099 7282 6701 9981 1404 5846 5206 6567 7128 5655 6780 9031 1903 7286 6731 1294 6066 2892 8285 6010 4589 1080 5442 0381 1852 8949 3508 1074 6865 7226 3776 6926 2074 3210 6431 5229 2824 7045 3383 7227 4882 6100 3823 9185 9247 8445 5312 3100 9024 5643 9252 6280 1637 7532 9683 8593 3145 4011 8377 5713 4199 1936 4167 2451 5536 0041 1754 9215 2386 2230 8752 7663 3237 9476 0261 1999 6576 4608 5519 9298 0276 7319 6400 0300 3005 0852 4635 2609 4006 2380 8128 2911 2435 3195 3032 5014 9431 9894 4878 2400 1010 0303 6339 0397 1080 9912 1660 7974 4725 8376 8787 5404 1724 0208 5090 3796 0638 5716 6874 6902 3917 3890 2738 7437 5485 5282 1882 5953 5604 2679 1273 4248 0236 1484 2450 0204 3798 9741 8165 4480 8678 4014 1940 9911 2818 5234 8877 0135 6525 1689 9737 6656 7815 6740 5291 0325 1095 6766 1698 8652 0223 XXXX XXXX XXXX XXXX Data SGP 2012 XXXX 6493 0314 0597 2129 0188 1423 3051 0975 4530 8730 4748 5513 1236 4452 0412 6604 2054 4759 0098 4418 0753 9122 8905 0045 1708 5940 9323 3290 1568 3503 8663 6562 2084 3533 6341 4602 7993 4184 5123 1673 8488 1553 1798 9347 6759 1165 0212 1697 9009 7623 9701 1134 1907 3886 8241 6621 1205 9510 3375 8553 2527 9551 2852 2396 3222 0543 9397 0117 0915 7649 6266 1652 7926 5482 1817 1116 8093 4917 3738 7145 5452 9256 6032

naruto

naruto
naruto

Daftar Blog Saya

naruto

naruto
Powered By Blogger